Melihat Kembali Gua Sukarno di Desa Panaongan
Opini: Yant Kaiy
Sudah tujuh bulan lebih saya
tidak ke Gua Sukarno. Pada bulan Ramadhan 1440 H waktu saya pertamakali ke gua
yang teletak di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan-Sumenep. Ketika itu Gua Sukarno
sedang dalam pengerjaan. Pihak management berharap agar pengunjung semakin
dibuatnya takjub. Kira-kira begitu keingininan pekerja seni dalam memoles
lantai gua.
Menurut beberapa keterangan ahli
sejarah, Gua Sukarno merupakan tempat riyadah para orang terkemuka. Salah
satunya Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin. Beliau adalah tokoh ulama besar di
jamannya dan merupakan paman dari Raja Sumenep,
Raja Bindara Saod. Sebagai penyebar agama Islam yang disegani, beliau
juga turut memberantas tentara kolonial Belanda di Aceh bersama pasukan
Kerajaan Sumenep. Ya, Kerajaan Aceh meminta bantuan pada Raja Bindara Saod
untuk membantu menumpas tentara Belanda dari bumi Aceh.
Atas kemenangan perang Aceh
inilah, nama Syekh Ali Akbar mulai dikenal orang. Beliau dihadiahi tanah luas
di Dusun Pakotan, Pasongsongan-Sumenep oleh Raja Bindara Saod. Wajar nama
beliau tidak dikenal orang karena ia lebih fokus waktunya dimanfaatkan untuk
melakukan olah batin di Gua Sukarno. Dan beberapa gua lainnya.
Gua Sukarno yang dibuka pertama untuk
pengunjung ketika Hari Raya Idul Fitri 1440 H kemarin, juga menjadi tempat
riyadah Sukardi. Musyafir pencari Tuhan ini melakukan laku batin di Gua
Sukarno. Bertahun-tahun Sukardi berada di dalam gua. Atas inisiatifnya, gua
yang dijadikan sebagai tempat bersemedi, olehnya dinamakan Gua Sukarno. Dinding
gua dipajangi gambar-gambar Sukarno, presiden pertama RI dengan Sukardi.
Hari ini, Rabu (4/12/2019) saya
mengunjungi Gua Sukarno. Ada seorang teman mengirimkan sesuatu pada saya lewat
karyawan Gua Sukarno. Saya manfaatkan kunjungan ini dengan melihat kembali Gua
Sukarno. Sudah mulai ada perubahan.
Sudah ada bangunan kios berjualan di luar gua. Juga ada wahana permainan
baru, yaitu lapangan paintball dan atv.
Awal dibuka pengunjung sangat
membeludak, belakangan ini pengunjung mulai menurun. Destinasi wisata manapun
memang kondisinya seperti itu. Tapi pihak management mesti cerdas membaca
fenomena ini. Kans apa yang kira-kira bisa pengunjung “betah” di Gua Sukarno.
Menurut hemat saya, agar
kunjungan wisatawan terus bergairah, maka sangat dibutuhkan wahana permainan
yang lebih edukatif. Paling tidak ada wahana baru yang bisa menyedot perhatian
pengunjung. Sasar pada wisatawan kaum Hawa. Dan biasanya para ibu muda akan
membawa buah hatinya ke tempat wisata untuk melihat, bermain, plus berhibur
diri.
Tapi saya percaya, orang-orang
yang bekerja di Gua Sukarno adalah kaum profesional di bidangnya. Masing-masing
personil punya kiat jitu dalam menambah daya tarik pelancong. Sukses selalu
buat Gua Sukarno.