Etnis China di Pasongsongan
Desa
Pasongsongan adalah sebuah desa yang masih masuk dalam wilayah Kecamatan
Pasongsongan. Desa ini berada di ujung barat dari Kabupaten Sumenep yang
berbatasan langsung dengan Kabupaten Pamekasan.
Dari dulu sampai sekarang Desa Pasongsongan
lebih dikenal dengan sebutan desa ‘petis pancetan’, yaitu sebuah penganan
yang terbuat dari hasil olahan air rebusan ikan dan diproses lagi lewat
pengapian sehingga kental. Biasanya penganan ini dikonsumsi sebagai pengganti
lauk. Atau juga masyarakat mengkonsumsinya untuk rujak pedas.
Pasongsongan
sendiri memiliki catatan sejarah yang begitu unik dengan adanya tiga etnis yang
mendiaminya: Etnis Arab, China dan pribumi (Madura). Ada dua etnis yang punya
pengaruh besar di Pasongsongan, yaitu Arab dan China. Kedua etnis ini
berkolaborasi dengan warga pribumi sehingga terbentuklah suatu pola sosial-budaya
yang terus mengalami metamorfosis seiring waktu.
Masyarakat
Pasongsongan jaman dulu kebudayaannya sangat dipengaruhi oleh unsur kebudayaan
Hindu dan Budha. Masyarakat Pasongsongan begitu terbuka dalam banyak sisi, hal
itu bisa dibuktikan dengan adanya kelestarian komunitas China dan Arab di
daerah ini. Warna toleransi yang begitu tinggi inilah yang dipertunjukkan warga
Pasongsongan kepada para pendatang. Tak ada gesekan yang berarti dalam rekam
jejak warga pendatang di Pasongsongan dari dulu sampai sekarang.
Setelah
kedatangan kedua bangsa asing ini, masyarakat Pasongsongan mulai menjalin suatu
hubungan yang sangat majemuk. Kedua bangsa ini cukup cerdik dalam memainkan
peranannya. Setelah masyarakat Pasongsongan mulai akrab dengan perilaku hidup
mereka, barulah mereka menjalankan misinya dalam mengambil hati masyarakat
setempat. Komunitas Arab hidup rukun sambil menyebarkan ajaran Islam, dan demikian
pula orang peranakan China lebih menitik-beratkan pada sisi perniagaan.
Pecinan
China
Orang-orang
China yang sudah cukup lama menjalin kerjasama dalam perdagangan dan
keluar-masuk pelabuhan Pasongsongan, akhirnya lama-kelamaan mereka membentuk
komunitas di pesisir pantai Pasongsongan. Dan peranakan China ini sangat
merajai perekonomian di Desa Pasongsongan. Cukup lama juga imperial niaga
mereka bertengger pada tahta kemakmuran yang gemilang. Kemajuan perekonomian
etnis Tionghoa ini tidak bisa terbendung, membentang luas tanpa sekat lagi.
Pada
akhirnya di era 80-an perubahan mulai terjadi, sinar keemasan perniagaan itu
mulai redup tergerus perubahan jaman. Power ekonomi makro di Pasongsongan tidak
lagi dikendalikan oleh orang-orang Tionghoa. Ada balancing system di peta
persaingan antara warga pribumi dengan kaum imigran. Memang dalam proses ini
tidak ada yang kalah dan yang menang. Yang pasti, mereka terus bersinergi dalam
membangun menara perekonomian Pasongsongan ke arah yang lebih mantap.
Salah
satu bukti yang sekarang masih bisa dilihat kalau etnis China dulu sangat
berkuasa di perniagaan, yaitu banyaknya bangunan rumah tempo dulu yang berdiri
kokoh di sepanjang Jalan Kiai Abubakar Sidik Desa Pasongsongan-Sumenep. Nuansa
arsitektur bangunan tempat tinggal kaum pecinan China itu memang terlihat
berbeda dengan tempat tinggal penduduk asli Pasongsongan.
“Rumah
saya ini dibangun sekitar abad ke-18,” demkian Ibnu Suaidi menerangkan kepada apoymadura
di kediamannya yang tenang di Pasongsongan. Lelaki yang bermarga ‘tjoa’ ini
juga menjelaskan, “Keluarga besar saya masih ada ikatan keturunan Sunan Ampel. Jadi
peranakan di Pasongsongan adalah Tionghoa Muslim.”
Demikian
sekelumit gambaran keberadaan penduduk etnis China yang ada di Pasongsongan. (Yant Kaiy)