Dilema Seorang Penulis: Royalti atau Jual Lepas
Opini: Yant Kaiy
Ketika menjadi redaktur sastra di
koran harian Jakarta, saya mencoba mengadu peruntungan di dunia penerbitan
buku. Dari sekian banyak novel yang dibuat ketika masih di Sumenep, sebagian saya
tawarkan ke beberapa penerbit mayor. Bahkan ada yang ditawarkan ke penerbit
plat merah. Bukan dikirim lewat pos, tapi saya sendiri yang mendatanginya.
Seminggu kemudian saya menanyakan
nasib naskah novel beragam genre itu. Ternyata redaktur penerbit buku itu
banyak yang gelengkan kepala. Ada yang menyarankan untuk cari sponsor. Lebih sakit lagi, mereka terkesan
menyepelekan karya orisinil saya. Kalau memang tak mau, jangan menghina,
batinku tanpa sikap protes.
Setelah diedit seperlunya,
kembali saya tawarkan pada penerbit di Pasar Senen Jakarta Pusat. Penerbit
abal-abal di Pasar Senen era 90-an tumbuh subur. Tak terjamah hukum.
Umumnya sistem pembelian penerbit
di pasar ini adalah jual lepas. Maksudnya, penulis tidak mendapatkan royalti.
Saya keluarkan 17 judul novel yang rata-rata panjangnya 110 halaman lebih.
Penerbit akan membeli semua tapi nama saya akan diganti orang lain. Alasannya,
nama saya tidak populer.
Saya coba untuk melobi dan
bernego ulang. Ia tetap pada keputusan awal. Saya mencoba cari celah, kebetulan
ada novel saya diterbitkan Karya Anda Surabaya di jual di kios itu. Akhirnya ia
mengakui kalau saya bukan orang baru di
penerbitan novel. Namun ia tetap pada pendiriannya.
Pada 1998 saya punya beberapa
naskah cerita anak. Tiba-tiba saya ingin sekali menawarkannya. Saya menuju
penerbit yang ada di Jakarta Timur. Singkat cerita, penerbit berinitisial PS
mau menerbitkannya. Penerbit memberikan 2 alternatif, royalti atau jual lepas.
Spontan saya memilih royalti karena uang akan mengalir terus sepanjang buku mau
dicetak ulang.
Proses panjang dalam penerbitan
buku sangat membosankan. Saya mafhum akan hal itu. Pada 1999 koran tempat saya
kerja gulung tikar. Saya pulang ke Sumenep tanpa pesangon. Harapannya masih ada
royalti buku.
Setahun kemudian saya dapat kabar
dari penerbit PS kalau royalti sudah ditransfer ke bank. Saya girang bukan
kepalang. Karena ada 4 judul cerita anak yang diterbitkan. Pikir saya satu buku
royaltinya Rp 1 Juta. Segera saya ke bank untuk menarik dana itu. Astaga… Saya
kucek mata, tak percaya. Di monitor ATM tertulis Rp 400 ribu.
Saya sekarang menyadari kalimat
teman di Jakarta untuk menjual putus
saja: “Karena dalam royalti banyak tipu-tipu,” tegas teman saya.