Catatan Budaya Yant Kaiy (Bagian I dari 2 Tulisan): Peluncuran Buku Puisi “Fragmen Bulan Hijau” Karya En. Hidayat
Perjalanan dari Pasongsongan ke
Sumenep memakan waktu hampir satu jam dengan sepeda motor. Saya menuju kediaman
Kakak S. Yohana di Desa Paberasan, sebelum menghadiri undangan peluncuran
antologi puisi karya almarhum En. Hidayat. Setelah mandi, sholat isya’, dan
makan malam saya langsung menuju lokasi. Sabtu (14/12/2019).
Bertempat di Pusdiklat Lantai II
Kantor PCNU Sumenep di Jl. Raya Trunojoyo 295 Gedungan Sumenep, perhelatan yang
digagas Syaf Anton Wr. menghadirkan D. Zawawi Imron dalam ceramah sastra.
Sedangkan yang mengapresiasi peluncuran buku puisi En. Hidayat adalah M. Faizi,
A.Dardiri Zubairi, Syaf Anton Wr. dan beberapa penyair, sastrawan, dan
budayawan Kota Keris Sumenep.
Perhelatan ini sebenarnya lebih
mengedepankan pada acara doa bersama, memperingati 100 hari wafat almarhum En.
Hidayat. Kemasan acara tidak akan seru tanpa memperbincangkan kajian
kepenyairannya, latar belakang, dan sepak terjang En. Hidayat di dunia sastra
tanah air. Pihak keluarga almarhum juga dihadirkan (diwakili kakaknya),
menceritakan kalau dirinya tidak tahu almarhum ternyata seorang penyair.
Pernyataan yang sama diungkapkan
oleh M. Faizi, selama ia berteman dengan En. Hidayat, tak pernah mereka
terlibat pembicaraan serius tentang sastra. M. Faizi tak mengira kalau almarhum
mempunyai bakat dalam menulis puisi.
Sementara itu, D. Zawawi Imron yang
kita kenal dengan sebutan penyair “Si Celurit Emas” dalam ceramah sastranya
hanya di mukadimah menyebut nama En. Hidayat. Selebihnya beliau lebih banyak
membahas tema budaya Madura dengan perbandingan budaya Bugis.
Dalam budaya Madura ada kalimat:
“Abantal ombak asapo’ angin, alako berre’ apello koneng.” Arti kongkrit dalam
kalimat ini, manusia dilahirkan ke dunia harus berikhtiar untuk merubah dirinya
ke arah yang lebih baik. Ikhtiar merupakan perintah wajib dalam Islam, sukses
dan tidaknya bergantung pada ketetapan-Nya.
Sedangkan dalam budaya Bugis ada
kalimat: “Kalau layar sudah kukembangkan, kemudi erat kupegang, walaupun perahu
akan tenggelam, pantang aku surut kembali.” Filosofi Bugis ini menurut D.
Zawawi Imron hampir sama dengan Filosofi Madura.
Acara selesai hampir pukul 10.00
WIB. Saya pulang tiba di rumah jam 01.30 WIB karena masih melepas kangen dengan
beberapa teman penyair. Karena acara seperti ini jarang sekali digelar di
Sumenep.
Adalah Syaf Anton Wr. pencetus
pagelaran budaya ini bekerjasama dengan Rumah Literasi sebagai penerbit
kumpulan puisi En. Hidayat, dan Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia)
Sumenep pendukungnya. Para pekerja seni sangat berharap agar acara yang sama
bisa lebih sering digelar pada 2020 nanti. Semoga! (Yant Kaiy)