Astah Buju’ Panaongan: Sejarah Pondok Pesantren Tertua di Madura
| Pintu gerbang Buju' Panaongan |
SUMENEP, apoymadura.com - Astah Buju’ Panaongan terletak di Desa Panaongan
Kecamatan Pasongsongan dan masih termasuk wilayah Kabupaten Sumenep Madura.
Makam para waliyullah ini saban harinya ramai dikunjungi para pesiarah dari
berbagai daerah.
Menurut Imam Syafi’i (juru kunci Astah Buju’ Panaongan) bahwa
dirinya pada suatu malam pernah bermimpi, kalau di sebelah barat utara pohon
siwalan ada cahaya turun dari langit dan jatuh di atas gundukan pasir. Atas
hasil mimpi itulah, Imam Syafi’i mendatangi Haji Amiruddin yang tak lain adalah
saudaranya, ia bercerita kronologis mimpinya. Kemudian mereka berdua bermunajat
kepada Allah SWT. dan setelah mereka meyakini kalau mimpinya itu merupakan
isyarat yang mesti ditindaklanjuti. Maka selanjutnya mereka bermusyawarah
dengan pihak keluarganya, lalu mereka memutuskan untuk melakukan penggalian di
gundukan pasir itu.
Imam Syafi’i dan Haji Amiruddin dalam melakukan penggalian dibantu oleh
tiga belas orang termasuk para keponakannya. Selama penggalian enam malam,
dalam timbunan pasir dengan ketinggian kurang lebih 17,5 meter Astah Buju’
Panaongan ditemukan. Pada saat itu jam menunjukkan pukul 02.30 WIB, tanggal 13
September 1999.
Berikut nama-nama penyebar agama Islam di Astah
Buju’ Panaongan dari hasil penelitian Tim Pusat Arkeologi Islam Jakarta pada
tanggal 22-27 April 2000 :
1. Syekh
Al- Arif Abu Said (wafat 1292)
2. Syekh
Abu Suhri (wafat 1281)
3. Nyai
Ruwiyah (wafat 1328)
4. Nyai
Abu Mutthalif (wafat tanpa tahun)
5. Nyai
Al- Haj Abdul Karim (wafat tanpa tahun)
6. Nyai
Ummu Nanti (wafat 1820)
7. Nyai
Sarmi (wafat 1847)
8. Nyai
Ma’ruf (wafat tanpa tahun)
| Keberadaan makam di Buju' Panaongan |
Dari penemuan Astah Buju’ Panaongan ini ada satu keterkaitan dengan sejarah tentang adanya
pelabuhan besar di Desa Pasongsongan dan pondok pesantren tertua di Desa
Panaongan. Menurut Madun,S.Pd. , “Ini sangat relevan dengan peninggalan situs
bekas pondasi yang ada di sebelah timur dari penemuan Astah Buju’ Panaongan.”
Bekas pondasi itu menurut masyarakat Desa Panaongan
diyakini sebagai berdirinya bangunan pondok pesantren tertua di Madura. “Dan
pengajarnya adalah orang-orang yang terkubur di Astah Buju’ Panaongan itu.
Dipercaya juga kalau mereka yang terkubur di Astah Buju’ Panaongan berasal dari
Negara Timur Tengah. Mereka adalah warga pendatang,” tambah Madun, S,Pd. yang
dirinya sekarang menjadi Kepala Sekolah di SDN Padangdangan II Kecamatan
Pasongsongan.
Pertanyaan besar menggantung di benak kita, lalu
kemana keturunan dari para alim yang ada di Astah Buju’ Panaongan itu.
Madun,S.Pd. melontarkan argumennya, “Kebanyakan keturunan dari para ustadz
berdarah Arab itu berjalan sesuai kata hatinya. Tujuannya ingin menyebarkan ajaran
Baginda Nabi Muhammad SAW ke seantero alam ini. Tekadnya bulat, sesuai dengan
ajaran Islam yang dianutnya, bahwa menyampaikan ajaran agama tidak boleh
setengah hati, harus totalitas. Maka tinggallah sebagian keluarga dari mereka
yang terkubur di Astah Buju’ Panaongan.”
Kedatangan para penyebar agama Islam ke Pasongsongan
karena mereka tahu, kalau pelabuhan terbesar di Madura saat itu adalah
Pasongsongan dan aman untuk didiami. Lewat cara berniaga mereka masuk ke Aceh.
Dari Aceh mereka lalu ke pelabuhan Pasongsongan. (Yant Kaiy)