Sabtu, 18 Oktober 2025

CERPEN: Debur dan Tajin Sappar

Cerita anak

By: Suriyanto Hasyim

Di sebuah dusun kecil yang masyarakatnya menjunjung nilai-nilai tradisional bernama Sempong Barat, yang masuk wilayah Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, tinggal seorang anak laki-laki bernama Debur. 

Ia tergolong anak yang ceria. Rambutnya ikal dan matanya lebar. Kulitnya sawo matang.

Debur sangat suka membantu ibunya di dapur.

Setiap datang bulan Safar, Debur selalu bersemangat. Bukan karena libur sekolah, tapi karena ada makanan kesukaannya: tajin sappar!

Pagi itu, dapur rumah Debur penuh dengan aroma harum santan dan beras yang dimasak. 

Ibu sedang sibuk mengaduk panci besar di atas tungku.

“Bu, bikin tajin sappar, ya?” tanya Debur sambil mengintip.

“Iya, Nak,” jawab ibu sambil tersenyum. 

"Asyik,"

“Sudah jadi tradisi di bulan Safar, semua orang di sini membuat tajin sappar. Nanti kita antar juga ke tetangga dan famili.”

"Siap, Bu," sahut Debur riang. 

Debur membantu menyiapkan daun pisang untuk alas mangkuk. Ia senang bisa ikut serta, apalagi tahu bahwa setelah selesai, ia boleh mencicipi tajin hangat itu.

Sambil menunggu masakan matang, Debur bertanya penasaran,

“Bu, kenapa sih kita selalu bikin tajin sappar setiap bulan Safar?”

Ibu berhenti mengaduk sebentar, lalu menatap Debur dengan lembut.

“Nak, tajin sappar ini bukan cuma makanan. Di dalamnya ada makna yang dalam. Tradisi ini mengingatkan kita tentang asal-usul manusia dan perjuangan para nabi dalam menghadapi cobaan,” tegas ibunya lembut. 

Debur mengerutkan dahi, mencoba memahami.

“Berarti tajin sappar itu supaya kita ingat untuk sabar, ya Bu?”

“Betul sekali,” jawab ibu. “Safar itu bulan penuh ujian, tapi juga waktu yang baik untuk berdoa dan memperkuat hati. Dengan membuat dan berbagi tajin sappar, kita belajar untuk saling peduli dan bersyukur.”

Setelah matang, ibu menuangkan tajin ke beberapa wadah kecil. Debur membantu mengantarkannya ke rumah tetangga. Semua orang tersenyum bahagia menerima kiriman itu.

Sore hari, Debur duduk di teras sambil menikmati semangkuk tajin sappar buatan ibu. Rasanya lembut dan gurih, tapi yang paling ia rasakan adalah kehangatan.

“Hmm… enaknya tajin sappar. Tapi lebih enak lagi kalau dimakan sambil bersyukur,” gumam Debur pelan.

Sejak hari itu, Debur tidak hanya suka makan tajin sappar, tapi juga mengerti makna di baliknya — tentang kesabaran, perjuangan, dan kasih sayang yang diwariskan dari generasi ke generasi di Dusun Sempong Barat.[]

Jumat, 17 Oktober 2025

Pertemuan Tak Terduga yang Menghangatkan Kenangan Lama

Opini apoymadura.com

Kadang hidup menghadirkan kejutan kecil yang mampu membangkitkan kenangan besar. 

Itulah yang saya rasakan ketika tanpa sengaja bertemu dengan seorang sahabat lama, Hammam—teman semasa di SMA Negeri 1 Ambunten, Kabupaten Sumenep. 

Kami sama-sama lulus pada tahun 1991. 

Sejak itu, jalan hidup membawa kami ke arah yang berbeda. 

Walau jarak rumah kami hanya sekitar dua belas kilometer, kesibukan masing-masing telah membuat kami jarang, bahkan nyaris tak pernah, berjumpa.

Pertemuan itu terjadi secara tak sengaja. Hari itu saya dan istri hendak berobat ke seorang dokter di Ambunten. 

Tapi, di tengah perjalanan, sepeda motor matic kami mendadak macet. Saya pun menuntunnya perlahan menuju bengkel terdekat. 

Siapa sangka, di tengah rasa kesal karena kendaraan mogok, saya justru berpapasan dengan wajah yang tak asing—Hammam. 

Seketika kenangan masa remaja menyeruak. Kami saling sapa, lalu tertawa mengingat masa-masa di SMA dulu yang penuh canda, semangat, dan cita-cita besar.

Obrolan singkat di pinggir jalan berlanjut ke rumahnya. 

Di kediaman Hammam yang sederhana namun hangat, kami berbincang panjang lebar—tentang keluarga, pekerjaan, hingga cerita tentang teman-teman lama yang kini tersebar entah di mana. 

Waktu seolah mundur tiga puluh tahun ke belakang. Rasanya seperti dua remaja yang baru saja pulang sekolah dan tengah berbagi mimpi di bawah rindangnya pohon di halaman SMA dulu.

Pertemuan itu membuat saya merenung. Dalam kehidupan yang serba cepat dan sibuk ini, kita sering kehilangan kesempatan untuk sekadar menyapa masa lalu. 

Padahal, pertemuan seperti itu bukan sekadar nostalgia, tapi juga pengingat bahwa akar kehidupan kita tumbuh dari pertemanan dan kebersamaan yang pernah kita rajut.

Saya pulang dengan perasaan hangat dan hati yang penuh syukur. 

Ternyata, di balik sepeda motor yang mogok, Tuhan sedang menyiapkan sebuah momen kecil namun berharga: pertemuan tak terduga dengan sahabat lama yang menghadirkan kembali kehangatan persahabatan dan kenangan masa muda. [sh]

Rabu, 15 Oktober 2025

Mengurai Alasan di Balik Pilihan Presiden Prabowo terhadap Program Makanan Bergizi Gratis (MBG)

Opini apoymadura.com

Pendahuluan

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangka Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, jadi salah satu program unggulan pemerintah baru. 

Program ini disebut sebagai langkah konkret untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia lewat asupan gizi seimbang, terutama bagi anak-anak sekolah dan masyarakat kurang mampu. 

Tapi di balik niat baik tersebut, muncul pertanyaan kritis: mengapa negara lebih memilih membagikan makanan bergizi gratis dibanding memperkuat daya beli masyarakat agar mampu memenuhi kebutuhan gizinya secara mandiri?

Pengetahuan Gizi Bukan Lagi Masalah Utama 

Di era digital dan keterbukaan informasi saat ini, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya makanan bergizi sudah meningkat pesat. 

Melalui media sosial, penyuluhan kesehatan, hingga kurikulum pendidikan, masyarakat telah memahami apa itu gizi seimbang, bahan pangan sehat, dan cara pengolahan yang benar. 

Dengan kata lain, masalah utama bangsa ini bukan terletak pada minimnya pengetahuan gizi, melainkan pada ketidakmampuan ekonomi untuk mengakses bahan pangan berkualitas.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat cenderung memilih bahan makanan murah karena penghasilan mereka rendah. Akibatnya, pilihan pangan berkualitas seringkali dianggap sebagai “kemewahan”. 

Inilah akar persoalan yang seharusnya jadi fokus utama pemerintah: bukan sekadar memberi makan, tetapi memberi kemampuan untuk makan layak. 

MBG: Solusi Gizi atau Strategi Politik?

Jika ditinjau dari perspektif kebijakan publik, program MBG memang tampak humanis dan populis. 

Namun, di sisi lain, program ini juga rentan dipertanyakan efektivitas jangka panjangnya. 

Alih-alih mengurangi ketergantungan, kebijakan bantuan langsung seperti MBG justru berpotensi menumbuhkan mental penerima bantuan, bukan pemberdayaan ekonomi. 

Di sinilah muncul dugaan bahwa program semacam ini bisa jjadi bentuk pencitraan politik: pemerintah terlihat “hadir untuk rakyat” dengan membagikan bantuan, padahal akar masalah sosial-ekonomi tidak benar-benar diselesaikan. 

Rakyat diberi makan, tapi tidak diberi kesempatan untuk menanam dan mengolah hasilnyahasilnya sendiri. 

Alternatif Kebijakan: Ubah Bantuan Jadi Pemberdayaan

Sejatinya, jika tujuan utama pemerintah adalah meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan pangan rakyat, program MBG bisa dialihkan jadi program yang lebih produktif. 

Misalnya, pemerintah bisa menggunakan dana besar MBG untuk menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian, perikanan, dan pengolahan pangan.

Dengan begitu, masyarakat tidak hanya jadi penerima makanan, tapi juga jadi pelaku ekonomi produktif. 

Pengangguran bisa berkurang, daya beli meningkat, dan kemampuan untuk membeli makanan bergizi muncul dari hasil kerja, bukan dari bantuan.

Penutup

Presiden Prabowo mungkin memiliki niat baik dalam mengimplementasikan program MBG sebagai wujud kepedulian terhadap masalah gizi nasional. 

Tapi, kebijakan yang baik seharusnya tidak berhenti pada pemberian, melainkan mendorong kemandirian. 

Rakyat yang diberi makan hanya akan kenyang sesaat, namun rakyat yang diberi pekerjaan akan mampu makan seumur hidupnya.

Karena itu, penting bagi pemerintah untuk meninjau kembali arah kebijakan ini: apakah benar untuk menyehatkan rakyat, atau sekadar menjadi alat pencitraan politik yang meninabobokan masyarakat dalam ketergantungan? [sh]

SDN Padangdangan 2 Gelar Senam Pagi Rutin, Tumbuhkan Semangat dan Jiwa Sehat Siswa

Sdn padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan
Senam pagi SDN Padangdangan 2. [sh]

SUMENEP — Setiap pagi sebelum kegiatan belajar dimulai, para peserta didik SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan tampak bersemangat mengikuti senam bersama di halaman sekolah. 

Dengan diiringi musik yang ceria, anak-anak bergerak kompak mengikuti gerakan yang dipandu guru. Rabu (15/10/2025). 

“Dengan diiringi musik, anak-anak semangat melaksanakan senam,” ungkap Sundari, S.Pd, guru kelas II di sekolah tersebut. 

Ia menuturkan bahwa kegiatan senam pagi ini sudah jadi rutinitas harian sebelum siswa memasuki kelas.

Senam tersebut berlangsung singkat, hanya sekitar lima menit, tapi cukup untuk menyegarkan tubuh dan membangkitkan semangat belajar. 

Kegiatan ini sekaligus jadi bentuk penerapan nilai men sana in corpore sano — dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

SDN Padangdangan 2 yang berlokasi di Dusun Dunggadung, Desa Padangdangan, terus berupaya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menyehatkan. 

Melalui kegiatan sederhana seperti senam pagi, sekolah ini berharap para siswa tumbuh dengan tubuh sehat, pikiran segar, dan semangat belajar yang tinggi. [sh]

Selasa, 14 Oktober 2025

Isco Pediyah 2025 Berjalan Sukses, SDN Pasongsongan 4 Raih Juara Pertama

Sdn Padangdangan 1 kecamatan Pasongsongan
Abu Siri, S.Ag (kanan). [sh]

SUMENEP — Ketua KKG PAI (Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam) Kecamatan Pasongsongan, Abu Siri, S.Ag, menilai bahwa pelaksanaan Isco Pediyah 2025 yang digelar di SDN Padangdangan 1 berlangsung sukses dan sesuai harapan. Selasa (14/10/2025). 

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya jjadi ajang kompetisi, tapi juga wadah pembinaan bagi siswa dalam memperdalam nilai-nilai keagamaan sejak dini. 

“Pelaksanaan tahun ini cukup tertib, meriah, dan mampu menumbuhkan semangat belajar agama di kalangan siswa,” ujarnya.

Dalam ajang tersebut, SDN Pasongsongan 4 berhasil meraih juara pertama, mengungguli peserta lain dari berbagai sekolah dasar se-Kecamatan Pasongsongan. 

Pemenang ini selanjutnya akan mewakili Kecamatan Pasongsongan untuk berlaga di tingkat kabupaten.

Abu Siri berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut setiap tahun sebagai sarana memperkuat karakter religius dan kompetensi siswa di bidang pendidikan diniyah. [sh]

Semangat Siswa SDN Soddara 2 Ikut Isco Pediyah Patut Diacungi Jempol

Sdn Soddara 2 kecamatan Pasongsongan
Bambang Sutrisno (kiri) bersama ketiga muridnya dan guru pendamping SDN Soddara 2. [sh]

SUMENEP  —  Kendati berlokasi di pelosok desa, semangat siswa-siswi SDN Soddara 2 Kecamatan Pasongsongan mengikuti ajang Isco Pediyah yang digelar di SDN Padangdangan 1 patut mendapat apresiasi. Selasa (14/10/2025). 

Kepala SDN Soddara 2, Bambang Sutrisno, menyampaikan bahwa keikutsertaan peserta didiknya dalam kompetisi tersebut bukan semata untuk meraih juara, tapi sebagai bentuk semangat belajar dan keberanian tampil di ajang pendidikan diniyah.

“Kami menyadari keberadaan peserta didik kami. Tapi apakah kami harus berdiam diri? Tentu tidak. Kami selalu menanamkan harapan kepada mereka, bahwa kamu adalah yang terbaik,” ujar Bambang Sutrisno dengan penuh semangat.

Menurutnya, partisipasi siswa dari sekolah pelosok seperti SDN Soddara 2 menjadi bukti bahwa semangat belajar dan tekad untuk berkembang tidak mengenal batas wilayah. 

“Kami tidak berharap muluk-muluk, yang penting siswa kami bisa berpartisipasi, itu sudah sesuatu yang luar biasa,” tambahnya. [sh]

Ketua KKKS Pasongsongan Hadiri Pelaksanaan Isco Pediyah di SDN Padangdangan 1

Sdn padangdangan 2
Haji Akhmad Busri, M.Pd. [sh]

SUMENEP — Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Pasongsongan, Haji Akhmad Busri, M.Pd, turut hadir dalam pelaksanaan Isco Pediyah yang berlangsung di SDN Padangdangan 1 Kecamatan Pasongsongan. Selasa (14/10/2025).

Dalam kesempatan tersebut, H. Akhmad Busri menjelaskan bahwa Isco Pediyah merupakan ajang kompetisi bagi siswa-siswi sekolah dasar yang berfokus pada pendidikan diniyah atau keagamaan. 

“Kompetisi ini bertujuan untuk mengukur kecerdasan, keterampilan emosional, dan spiritual siswa di samping kemampuan akademis mereka,” ujarnya singkat.

Ia juga menilai bahwa pelaksanaan kegiatan Isco Pediyah kali ini berjalan sukses dan tertib, berkat kerja sama antara panitia, guru, serta dukungan dari seluruh peserta didik.

Kegiatan Isco Pediyah diharapkan bisa menjadi sarana positif dalam menumbuhkan semangat belajar dan memperkuat karakter religius di kalangan siswa sekolah dasar di Kecamatan Pasongsongan. [sh]

Senin, 13 Oktober 2025

Di SDN Padangdangan 1 Digelar Isco Pediyah, Ajang Asah Kecerdasan dan Spiritual Siswa

Sdn padangdangan 1 kecamatan Pasongsongan
Abu Supyan (kanan). [sh]

SUMENEP — Bertempat di SDN Padangdangan 1 Kecamatan Pasongsongan kegiatan Isco Pediyah (Intelligent Student Competition Pendidikan Diniyah) digelar sebagai ikhtiar meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan di tingkat sekolah dasar. Selasa (14/10/2025). 

Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan, Abu Sufyan, M.Pd, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Isco Pediyah merupakan kompetisi yang berfokus pada pengembangan aspek keagamaan bagi para murid SD.

“Kompetisi ini bertujuan untuk mengukur kecerdasan, keterampilan emosional, dan spiritual siswa di samping kemampuan akademis mereka,” ujar Abu Sufyan.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa peserta terbaik dari kegiatan ini akan diikutsertakan pada Isco Pediyah tingkat kabupaten sebagai perwakilan Kecamatan Pasongsongan.

Lewat Isco Pediyah ini, diharapkan siswa bisa tumbuh jadi generasi cerdas, berkarakter, dan berakhlakul karimah. [sh]

Isco Pediyah Kecamatan Pasongsongan di Gelar di SDN Padangdangan 1, Ajang Asah Kecerdasan Diniyah Siswa SD

Sdn Padangdangan 1 kecamatan Pasongsongan
Agus Sugianto (berdiri). [sh]

SUMENEP — SDN Padangdangan 1 Kecamatan Pasongsongan ditempati kegiatan Isco Pediyah (Intelligent Student Competition Pendidikan Diniyah). 

Isco Pediyah merupakan ajang kompetisi bagi siswa-siswi sekolah dasar yang berfokus pada penguatan pendidikan keagamaan. Selasa (14/10/2025). 

Koordinator Akademik Isco Pediyah, Agus Sugianto, S.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wadah bagi siswa untuk mengasah kemampuan mereka, tidak hanya dari sisi akademik, tapi juga aspek emosional dan spiritual.

“Kompetisi ini bertujuan untuk mengukur kecerdasan, keterampilan emosional, dan spiritual siswa di samping kemampuan akademis mereka,” ujar Agus Sugianto.

Melalui Isco Pediyah, diharapkan para peserta didik dapat tumbuh jadi generasi cerdas yang berakhlak mulia serta memiliki keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan. [sh]

Jejak Kenangan dan Sebuah Surat Keterangan dari Almamater

Opini apoymadura.com

Senin, 14 Oktober 2025, jadi hari yang tak biasa bagi saya. Pagi itu, pukul 07.40 WIB, saya melangkahkan kaki ke kantor Tata Usaha (TU) SMA Negeri 1 Ambunten, Kabupaten Sumenep. 

Tujuan saya sederhana: meminta Surat Keterangan Tanggal Lahir. Hal ini diperlukan karena di ijazah lama saya, yang terbit lebih dari tiga dekade silam, tidak tercantum tanggal lahir. 

Sementara itu seluruh dokumen resmi saya seperti KTP, KK, Akta Kelahiran, hingga SIM mencantumkan tanggal lahir yang sama. 

Celah kecil ini bisa berujung besar: tanpa surat keterangan resmi dari sekolah, status saya sebagai tenaga PPPK Paruh Waktu Kabupaten Sumenep bisa terancam.

Tapi yang menarik dari perjalanan kecil itu bukan semata urusan administratif. 

Nostalgia

Saat melangkah masuk ke halaman sekolah, nuansa nostalgia menyergap begitu kuat di alam pikiran.

Seolah waktu mundur tiga puluh empat tahun ke belakang, saat saya masih berseragam putih abu-abu dan penuh cita-cita muda. 

Angin yang berembus di antara pepohonan di sepanjang jalan di luar halaman sekolah terasa sama, bahkan aroma ruang kelas pun masih membangkitkan kenangan yang dulu sempat saya lupakan.

Saya lulus SMA Negeri 1 Ambunten pada 1991, masa dimana sekolah masih sederhana, tapi semangat belajar kami luar biasa. 

Kini, bangunannya tampak lebih modern, staf TU lebih profesional, dan sistem administrasi lebih tertata. 

Tapi dibalik semua perubahan itu, ada satu hal yang tidak berubah — rasa hormat dan kehangatan dari dunia pendidikan terhadap alumninya. 

Staf TU yang melayani saya ramah dan tanggap, menandakan betapa lembaga ini telah menjaga nilai-nilai pelayanan publik dengan baik.

Dokumen

Kunjungan ini membuat saya merenung. Betapa pentingnya arsip dan data pendidikan dalam perjalanan hidup seseorang. 

Sebuah dokumen yang tampak sepele, seperti tanggal lahir di ijazah, ternyata bisa menentukan kelanjutan karier, pengakuan identitas, bahkan nasib pekerjaan. 

Kita sering menganggap urusan birokrasi pendidikan hanya formalitas, padahal di dalamnya tersimpan legitimasi sejarah hidup kita sendiri.

Ijazah

Lebih dari itu, kunjungan ke sekolah lama adalah pertemuan antara masa lalu dan masa kini. 

Ia bukan sekadar nostalgia, melainkan pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai dan ijazah, tapi juga tempat kita menanam akar identitas. 

Sekolah membentuk kita bukan hanya melalui pelajaran, tapi juga melalui suasana, interaksi, dan nilai-nilai yang hidup di dalamnya.

Ketika saya melangkah keluar dari kantor TU, membawa berkas surat keterangan yang sudah ditandatangani, saya merasa lega sekaligus haru. 

Lega karena urusan administratif terselesaikan, dan haru karena sadar: sekolah bukan hanya tempat kita menuntut ilmu, melainkan tempat kita selalu bisa pulang — kapan pun dan dalam bentuk apa pun. []

Jumat, 10 Oktober 2025

SDN Padangdangan 2 Rutin Gelar Program Bersase Tiap Sabtu

Sdn padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan

SUMENEP - SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, rutin melaksanakan program Bersih Sampah Sekolah (Bersase) setiap hari Sabtu. 

Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa dan guru sebagai upaya menanamkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sejak dini. Sabtu (11/10/2025). 

Sundari, S.Pd, guru kelas 2 di sekolah tersebut, menjelaskan bahwa kegiatan Bersase bukan sekadar membersihkan lingkungan sekolah, tapi juga bagian dari pembentukan karakter peserta didik.

“Tujuan Bersase menciptakan lingkungan bersih, nyaman, sehat, dan aman untuk belajar, serta menanamkan karakter peduli lingkungan, kedisiplinan, dan kebersamaan di kalangan peserta didik,” terang Sundari.

Melalui program rutin ini, SDN Padangdangan 2 berharap budaya menjaga kebersihan dan gotong royong bisa terus tumbuh di kalangan siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. [sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...