Selasa, 18 November 2025

Pergeseran Bisnis Masyarakat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep: Dari Nelayan ke Toko Kelontong

nelayan pasongsongan dan lesbumi mwc nu pasongsongan

1. Pendahuluan

Desa dan Kecamatan Pasongsongan di Kabupaten Sumenep merupakan wilayah pesisir yang sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah dengan kultur kemaritiman yang kuat. Masyarakatnya, secara turun-temurun, menggantungkan pendapatan dari sektor kelautan, terutama sebagai nelayan dan pembuat perahu tradisional. 

Profesi ini tidak hanya menjadi mata pencaharian, tetapi juga identitas sosial dan budaya masyarakat pesisir. Namun, dalam satu dekade terakhir, terjadi perubahan signifikan dalam orientasi ekonomi masyarakat Pasongsongan. 

Pergeseran ini terlihat dari semakin berkurangnya jumlah nelayan aktif serta menurunnya aktivitas pembuatan perahu tradisional, sementara usaha toko kelontong (toko sembako) justru berkembang dengan pesat.

Perubahan tersebut tidak hadir secara tiba-tiba. Banyak faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan yang menjadi pemicunya. Salah satu faktor paling dominan adalah ketidakpastian pendapatan sebagai nelayan. 

Penghasilan yang bergantung pada cuaca, musim ikan, dan keberuntungan menjadikan profesi nelayan semakin sulit dipertahankan. Sementara itu, kebutuhan ekonomi keluarga terus meningkat, termasuk biaya pendidikan anak, kesehatan, serta kebutuhan konsumsi sehari-hari. Kondisi ini mendorong masyarakat mencari alternatif pekerjaan yang lebih stabil.

Dalam wawancara dengan beberapa tokoh lokal, terlihat bahwa perubahan pola pekerjaan ini juga berpengaruh pada keberlangsungan profesi lain yang terkait dengan dunia kelautan. Salah satunya adalah pembuatan perahu tradisional. 

Suhartono, pembuat perahu tradisional dari Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan, menyatakan bahwa dirinya dan tim kerjanya sudah lebih dari lima tahun tidak membuat perahu lagi. Menurutnya, “sekitar tahun-tahun terakhir, pesanan perahu hampir tidak ada. Nelayan berkurang, dan yang tersisa lebih memilih memperbaiki perahu lama daripada membuat baru.” 

Pernyataan ini memperkuat gambaran bahwa pergeseran ekonomi masyarakat tidak hanya terjadi pada nelayan, tetapi juga pada rantai ekonomi pendukungnya.

Selain itu, perubahan mata pencaharian ini juga ditopang oleh berkembangnya contoh keberhasilan dari para pengusaha toko kelontong lokal. Banyak warga yang melihat bahwa usaha toko kelontong memberikan kestabilan finansial yang tidak ditemukan dalam profesi nelayan. 

Akhmad Jasimul Ahyak, S.Pd.I, Ketua Lesbumi MWC NU Pasongsongan, menjelaskan bahwa minimnya lapangan kerja menjadi faktor kuat mengapa masyarakat berpindah ke sektor perdagangan. 

Ia menyatakan, “banyak warga Pasongsongan dan sekitarnya memilih membuka toko kelontong karena mereka melihat tetangga atau kerabat yang sukses dengan usaha tersebut.” Fenomena ini menunjukkan adanya efek domino sosial, di mana kesuksesan satu atau dua orang mampu mempengaruhi keputusan ekonomi masyarakat luas.

Artikel ini bertujuan untuk menguraikan perubahan pola bisnis masyarakat Pasongsongan, dengan fokus pada perbandingan keuntungan dan kerugian antara profesi nelayan dan usaha toko kelontong, serta prospek keberlanjutan usaha toko kelontong dalam struktur ekonomi masyarakat ke depan. 

Dengan demikian, tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai dinamika sosial-ekonomi yang terjadi, sekaligus menjadi bahan rujukan bagi penelitian dan pengambilan keputusan terkait pembangunan masyarakat pesisir.

2. Perbandingan Untung dan Rugi

2.1. Pendapatan dan Stabilitas Ekonomi

Profesi nelayan di Pasongsongan pada dasarnya memiliki potensi pendapatan yang cukup besar pada musim-musim tertentu. Ketika cuaca cerah, gelombang rendah, dan ikan melimpah, penghasilan nelayan dapat melebihi profesi lain. Namun, pendapatan ini tidak stabil. 

Dalam banyak kasus, musim paceklik, ombak tinggi, atau hujan berkepanjangan membuat para nelayan tidak dapat melaut selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Beberapa nelayan mengaku bahwa dalam kondisi tertentu, mereka pulang tanpa membawa hasil sama sekali.

Sebaliknya, usaha toko kelontong menawarkan pendapatan yang lebih stabil dan terprediksi. Penjualan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, mie instan, sabun, dan rokok berlangsung setiap hari. 

Karena barang yang dijual merupakan kebutuhan pokok, permintaannya relatif konstan. Pemilik toko kelontong menerima pemasukan harian, sehingga lebih mudah mengatur cash flow keluarga, membayar kebutuhan rutin, atau menabung.

2.2. Risiko Pekerjaan

Menjadi nelayan memiliki risiko keselamatan yang tinggi. Cuaca buruk, kerusakan mesin perahu, dan gelombang besar adalah ancaman yang terus-menerus. Tidak jarang nelayan mengalami kecelakaan kerja, bahkan beberapa kasus berujung hilangnya nyawa. 

Selain itu, biaya operasional seperti solar, es batu, dan perawatan perahu menjadi beban yang tidak kecil.

Di sisi lain, risiko usaha toko kelontong lebih banyak berkaitan dengan perputaran modal dan perkembangan harga pasar. Risiko fisik hampir tidak ada, dan pemilik usaha dapat bekerja dalam lingkungan yang lebih aman. 

Tidak diperlukan keahlian khusus selain kecakapan berjualan dan mengelola stok. Kondisi ini membuat usaha toko kelontong lebih ramah bagi berbagai kelompok usia, termasuk ibu rumah tangga dan lansia.

2.3. Modal Awal dan Biaya Operasional

Modal membuka toko kelontong sebenarnya relatif bervariasi. Ada yang memulai dengan modal kecil hanya beberapa juta rupiah, sementara yang lain memulai dari toko besar dengan modal puluhan juta. 

Namun, modal tersebut lebih mudah dikembangkan karena keuntungannya langsung terlihat dari perputaran barang.

Sebaliknya, dunia kelautan membutuhkan modal yang lebih tinggi. Membeli perahu, jaring, mesin, serta biaya perawatan membutuhkan pengeluaran besar. Dengan menurunnya jumlah nelayan, biaya perawatan perahu justru semakin mahal karena bengkel perahu tidak seramai dulu.

2.4. Ketergantungan pada Faktor Eksternal

Pekerjaan nelayan sangat bergantung pada kondisi alam dan musim. Ketika badai, masyarakat tidak bisa melaut meskipun mereka membutuhkan uang. Sebaliknya, usaha toko kelontong tidak bergantung pada musim dan dapat dijalankan setiap hari.

3. Prospek Usaha Toko Kelontong di Pasongsongan

Prospek usaha toko kelontong dalam beberapa tahun ke depan di Pasongsongan terlihat sangat menjanjikan. Hal ini didorong oleh beberapa faktor. 

Pertama, perkembangan jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan harian membuat toko kelontong tetap relevan. 

Kedua, letak geografis Pasongsongan yang cukup jauh dari pusat kota membuat masyarakat lebih memilih membeli kebutuhan di toko terdekat.

Selain itu, perubahan pola konsumsi masyarakat turut memperkuat prospek usaha ini. Masyarakat yang dahulu memiliki pola belanja tidak teratur, kini mulai terbiasa berbelanja harian atau mingguan. 

Dengan bertambahnya toko-toko baru, persaingan memang meningkat, namun juga menciptakan pasar yang lebih dinamis.

Suhartono dan para mantan nelayan lain yang kini beralih ke usaha dagang melihat masa depan yang lebih cerah di sektor ini. 

Banyak yang telah mampu memperluas tokonya atau menambah variasi barang berdasarkan permintaan pelanggan. Sementara itu, menurut Akhmad Jasimul Ahyak, tren masyarakat untuk meniru kesuksesan orang terdekat akan terus berlanjut, sehingga kemungkinan besar usaha toko kelontong akan terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan.

4. Penutup

Pergeseran mata pencaharian masyarakat Desa/Kecamatan Pasongsongan dari profesi nelayan ke usaha toko kelontong merupakan fenomena sosial-ekonomi yang sangat signifikan. 

Pergeseran ini disebabkan oleh ketidakpastian pendapatan nelayan, tingginya risiko pekerjaan, serta semakin sempitnya lapangan kerja lain. Usaha toko kelontong muncul sebagai alternatif yang lebih stabil, aman, dan menjanjikan, terutama karena kebutuhan masyarakat yang terus meningkat dan permintaan barang pokok yang tidak pernah berhenti.

Dengan semakin banyaknya warga yang berhasil di bidang ini, profesi toko kelontong telah menjadi pilihan utama masyarakat Pasongsongan. 

Ke depan, diharapkan pemerintah desa maupun lembaga sosial dapat memberikan pelatihan manajemen usaha untuk mendukung perkembangan sektor ini agar lebih profesional dan berkelanjutan. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa adaptasi ekonomi masyarakat pesisir adalah hal yang wajar dan dapat menjadi peluang baru bagi peningkatan kesejahteraan mereka.[sh]

Senin, 17 November 2025

Jurnal Pembelajaran Mendalam dan Asesmen 2.0 PPG 2025

 

Ppg 2025

Jurnal Pembelajaran Mendalam dan Asesmen 2.0

Topik: Pendekatan Understanding by Design dalam Perencanaan Pembelajaran


1. Uraian Materi

Pendekatan Understanding by Design (UbD) merupakan kerangka perencanaan pembelajaran yang dikembangkan oleh Grant Wiggins dan Jay McTighe. 

UbD menekankan pentingnya merancang pembelajaran secara terbalik (backward design), yaitu memulai perencanaan dengan menentukan tujuan akhir yang ingin dicapai oleh peserta didik. Pendekatan ini berorientasi pada pembelajaran bermakna dan asesmen autentik yang benar-benar mengukur pemahaman mendalam.

Model UbD terdiri dari tiga tahap utama. 

Tahap 1 adalah penentuan hasil belajar yang diharapkan (desired results). Pada tahap ini, guru menetapkan kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, serta pemahaman mendalam yang ingin dibangun. 

Tahap 2 adalah penentuan bukti keberhasilan melalui ragam asesmen yang relevan dan autentik. Asesmen dalam UbD tidak hanya berupa tes tertulis, tetapi juga proyek, kinerja, demonstrasi, portofolio, dan kegiatan yang menunjukkan pemahaman mendalam. 

Tahap 3 adalah perencanaan pengalaman belajar, yaitu penyusunan kegiatan yang mendorong peserta didik mencapai tujuan pembelajaran melalui strategi aktif, kolaboratif, dan reflektif.

Pendekatan UbD sangat relevan dalam konteks kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berdiferensiasi, asesmen formatif berkelanjutan, dan pengembangan karakter peserta didik. Dengan UbD, guru dapat memastikan bahwa setiap kegiatan pembelajaran benar-benar selaras dengan tujuan utama dan memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk menunjukkan pemahaman bermakna, bukan sekadar menghafal.


2. Rancangan Aksi Nyata

A. Latar Belakang

Pelaksanaan pembelajaran di kelas sering kali berfokus pada penyelesaian materi tanpa memastikan pemahaman mendalam peserta didik. UbD hadir sebagai solusi untuk memberikan arah perencanaan pembelajaran yang lebih sistematis, bermakna, dan terukur. Aksi nyata ini dirancang untuk menerapkan UbD dalam perencanaan pembelajaran di kelas, dengan fokus pada Tema: "Lingkungan Bersih" di kelas IV.

B. Tujuan Aksi Nyata

  1. Menerapkan kerangka UbD dalam penyusunan RPP.
  2. Mengembangkan asesmen autentik untuk mengukur pemahaman mendalam.
  3. Melaksanakan pembelajaran aktif berbasis proyek.
  4. Mendorong peserta didik menjadi pemecah masalah lingkungan.

C. Langkah-Langkah Aksi Nyata

  1. Tahap 1 (Menetapkan Desired Results)
    • Identifikasi tujuan pembelajaran dan kompetensi esensial.
    • Rumuskan essential questions seperti: "Mengapa menjaga lingkungan bersih penting bagi kehidupan?".
  2. Tahap 2 (Menentukan Evidence / Assessment)
    • Merancang asesmen formatif: kuis singkat, refleksi harian, diskusi kelas.
    • Merancang asesmen sumatif: proyek pembuatan kampanye lingkungan sekolah.
  3. Tahap 3 (Merancang Learning Experiences)
    • Kegiatan observasi lingkungan sekitar sekolah.
    • Diskusi kelompok tentang masalah lingkungan.
    • Praktik membuat poster kampanye.
    • Presentasi proyek di depan kelas.

D. Jadwal Pelaksanaan

  • Minggu 1: Perencanaan UbD dan penyusunan perangkat.
  • Minggu 2: Pelaksanaan kegiatan belajar 1–3.
  • Minggu 3: Presentasi proyek.
  • Minggu 4: Refleksi dan evaluasi.

E. Hasil yang Diharapkan

Peserta didik memahami pentingnya menjaga lingkungan, mampu mengidentifikasi masalah lingkungan, serta mampu menyampaikan solusi melalui karya nyata.


3. Dokumentasi Kegiatan

(Berikut adalah placeholder foto. Unggah foto asli bila tersedia.)

  1. Foto 1: Kegiatan observasi lingkungan oleh siswa.
  2. Foto 2: Proses pembuatan poster kampanye.
  3. Foto 3: Presentasi hasil proyek oleh kelompok siswa.

4. Umpan Balik dari Aksi Nyata

Rekan Guru 1 (Ibu Sundari, S.Pd)

"Aksi nyata ini sangat terstruktur dan terlihat bahwa pendekatan UbD benar-benar membantu menyelaraskan tujuan, kegiatan, dan asesmen. Peserta didik menjadi lebih aktif dan memahami materi secara lebih mendalam."

Rekan Guru 2 (Imanis Sulfa, S.Pd)

"Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa tidak hanya belajar teori tetapi juga praktik melalui proyek yang nyata. Model UbD sangat cocok diterapkan dalam berbagai tema pembelajaran di sekolah dasar."


5. Refleksi

Penerapan pendekatan Understanding by Design dalam perencanaan pembelajaran memberikan pengalaman yang sangat berharga dan bermakna bagi saya sebagai pendidik. 

Selama melaksanakan aksi nyata ini, saya menyadari bahwa pembelajaran yang dirancang secara terbalik (backward design) benar-benar membantu saya fokus pada tujuan inti yang ingin dicapai, sehingga seluruh aktivitas pembelajaran menjadi lebih terarah dan efektif. 

Dengan merumuskan desired results sejak awal, saya dapat memastikan bahwa setiap kegiatan di kelas bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi benar-benar membantu siswa mencapai pemahaman mendalam.

Salah satu hal yang paling terlihat adalah meningkatnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. 

Ketika mereka diberi kesempatan untuk mengamati lingkungan, mengidentifikasi masalah, dan membuat solusi dalam bentuk proyek kampanye, siswa menunjukkan antusiasme yang luar biasa. 

Mereka tidak hanya belajar konsep lingkungan bersih, tetapi juga berpikir kritis, bekerja sama, dan mengkomunikasikan ide mereka secara kreatif. Ini sejalan dengan tujuan pembelajaran mendalam yang mendorong olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga.

Selain itu, asesmen autentik yang saya gunakan memberikan gambaran lebih jelas mengenai pemahaman siswa. Dibandingkan dengan tes tertulis, proyek nyata memberikan bukti yang lebih kuat mengenai sejauh mana siswa memahami materi. Melalui asesmen formatif dan sumatif, saya dapat memperbaiki strategi mengajar di tengah proses dan memberikan umpan balik yang lebih tepat sasaran.

Namun, dalam pelaksanaannya, saya juga menemui beberapa tantangan, terutama dalam manajemen waktu dan penyusunan perangkat pembelajaran yang terperinci. 

UbD membutuhkan perencanaan yang matang, sehingga saya harus meluangkan waktu lebih banyak untuk mengatur struktur pembelajaran. Meski demikian, hasil yang diperoleh sangat sepadan dengan usaha yang dilakukan.

Secara keseluruhan, penerapan UbD membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna, terarah, dan berfokus pada pemahaman mendalam. 

Ke depan, saya berkomitmen untuk terus mengembangkan kemampuan dalam merancang pembelajaran menggunakan pendekatan ini, serta membagikan praktik baik ini kepada rekan guru lainnya di sekolah. Dengan demikian, kualitas pembelajaran dapat terus meningkat dan memberikan dampak positif bagi perkembangan peserta didik.[sh]

Minggu, 16 November 2025

Upacara Bendera di SDN Padangdangan 2 Berlangsung Khidmat, Pembina Upacara Ingatkan Kesiapan Asesmen Sumatif Semester

Sdn padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan
Upacara bendera di SDN Padangdangan 2 Pasongsongan. [sh]

SUMENEP — Pelaksanaan upacara bendera di SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan pada Senin pagi berlangsung khidmat dan tertib. 

Seluruh peserta didik, guru, serta tenaga kependidikan mengikuti jalannya upacara dengan penuh disiplin. Senin (17/11/2025). 

Bertindak sebagai pembina upacara, Yeni Alfi Laeliy, S.Pd. ia menyampaikan amanat singkat namun penuh makna. 

Dalam pesannya, ia menekankan pentingnya meningkatkan kedisiplinan belajar, terutama menjelang pelaksanaan asesmen sumatif semester ganjil.

“Anak-anak harus lebih giat belajar di rumah. Asesmen sumatif semester ganjil akan dilaksanakan pada 1 Desember 2025, sehingga persiapan diri sangat dibutuhkan,” ujarnya di depan seluruh peserta upacara.

Ia juga mengajak para siswa untuk menjaga kesehatan, menjaga sikap, serta terus menumbuhkan semangat belajar agar mampu meraih hasil terbaik pada asesmen mendatang.

Upacara ditutup dengan doa bersama dan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Para siswa kembali ke kelas masing-masing dengan semangat dan motivasi baru menghadapi evaluasi semester. [sh]



Jurnal Pembelajaran PPG Modul 2 Filosofi Pendidikan dan Pendidikan Nilai

jurnal pembelajaran ppg 2025

JURNAL PEMBELAJARAN PPG

Tema: Filosofi Pendidikan dan Pendidikan Nilai
Topik: Filsafat Pancasila dan Pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai Landasan Pendidikan Nasional


1. Uraian Materi

Filsafat Pancasila dan pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) merupakan dua fondasi utama pendidikan nasional Indonesia yang saling melengkapi. Pancasila sebagai dasar negara mengandung nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Dalam pendidikan, nilai-nilai ini menjadi kompas moral dan landasan etis bagi seluruh proses pembelajaran serta interaksi di lingkungan sekolah. Pancasila bukan hanya pedoman normatif, melainkan panduan praktis untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya: beriman, berkarakter, berpengetahuan, dan berperan dalam kehidupan berbangsa.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia dan anggota masyarakat. Konsep “Tri-Kon” (kontinu, konvergen, konsentris) serta “Tripusat Pendidikan” (keluarga, sekolah, masyarakat) menekankan bahwa pendidikan berlangsung sepanjang hayat dan melibatkan seluruh ekosistem sosial. Prinsip “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” menggambarkan peran pendidik sebagai teladan, pembangun semangat, dan pemberi dorongan.

Jika dipadukan, Pancasila memberikan arah nilai, sedangkan pemikiran KHD memberikan metodologi serta pendekatan pedagogis yang humanis dan berpusat pada peserta didik. Pemikiran KHD selaras dengan Profil Pelajar Pancasila yang mencerminkan manusia Indonesia berkarakter, bernalar kritis, kreatif, gotong royong, mandiri, serta menghargai budaya. Pendidikan berdasarkan kedua landasan ini menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran, menghargai keberagaman, dan menumbuhkan tanggung jawab sosial.

Guru sebagai pendidik perlu menerapkan nilai Pancasila dan pemikiran KHD secara konkret dalam desain pembelajaran: mulai dari penyusunan tujuan, pemilihan metode aktif-kolaboratif, hingga membangun interaksi yang memanusiakan. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, konsep “merdeka belajar” adalah wujud langsung dari pemikiran KHD bahwa anak perlu berkembang sesuai kodrat alam dan zamannya. Dengan demikian, integrasi kedua filsafat ini menjadi fondasi kuat bagi terciptanya pendidikan nasional yang humanis, inklusif, dan berkeadilan.


2. Rancangan Aksi Nyata

A. Latar Belakang

Hasil refleksi menunjukkan bahwa peserta didik masih membutuhkan pemahaman nilai-nilai Pancasila secara kontekstual, serta penguatan karakter mandiri, gotong royong, dan sikap hormat dalam berinteraksi. Selain itu, budaya kelas belum sepenuhnya mencerminkan prinsip Tut Wuri Handayani, di mana guru mendorong siswa untuk berkembang secara mandiri. Maka, diperlukan aksi nyata untuk mengimplementasikan nilai Pancasila dan pemikiran KHD dalam kegiatan belajar.

B. Tujuan Aksi Nyata

  1. Menumbuhkan budaya kelas yang selaras dengan nilai Pancasila.
  2. Menerapkan prinsip KHD dalam aktivitas pembelajaran: keteladanan, pemberdayaan, dan pendampingan.
  3. Menguatkan karakter Profil Pelajar Pancasila melalui kegiatan kolaboratif.
  4. Membantu siswa memahami relevansi nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

C. Sasaran Kegiatan

Peserta didik kelas … (isi sesuai kebutuhan), rekan guru sebagai observer, dan komunitas sekolah sebagai pendukung.

D. Bentuk Aksi Nyata dan Langkah Pelaksanaan

1. Kegiatan “Nilai Pancasila dalam Aksi”

  • Siswa dibagi menjadi kelompok kecil.
  • Setiap kelompok menganalisis situasi nyata yang mencerminkan nilai sila-sila Pancasila di lingkungan sekolah (misalnya: gotong royong, toleransi, sikap demokratis).
  • Kelompok membuat poster dan presentasi untuk memaparkan contoh tindakan yang sesuai dengan Pancasila.
  • Guru berperan sebagai fasilitator, menerapkan prinsip “Ing Madya Mangun Karsa”.

2. Praktik Keteladanan (Ing Ngarsa Sung Tuladha)

  • Guru menunjukkan sikap disiplin, sopan, terbuka, dan bertanggung jawab sebelum, selama, dan setelah pembelajaran.
  • Guru menjadi role model dalam penggunaan bahasa yang santun serta cara menyelesaikan konflik.

3. Diskusi Reflektif “Tut Wuri Handayani”

  • Siswa mengikuti sesi refleksi 10–15 menit setiap akhir pembelajaran.
  • Siswa menuliskan refleksi singkat: nilai apa yang mereka praktikkan hari itu? Apa dampaknya?
  • Guru memberikan dukungan dan umpan balik positif untuk menumbuhkan motivasi intrinsik.

4. Proyek Mini “Merawat Lingkungan Sekolah”

  • Siswa melakukan aksi nyata merawat tanaman, membersihkan area kelas, atau membuat poster ajakan menjaga lingkungan.
  • Proyek dilakukan secara kolaboratif sebagai perwujudan nilai gotong royong dan kepedulian sosial.

5. Pelibatan Orang Tua (Tripusat Pendidikan)

  • Guru mengirimkan ringkasan kegiatan dan meminta orang tua memberikan dukungan di rumah.
  • Orang tua diminta memberikan catatan singkat perubahan positif anak selama program.

E. Waktu Pelaksanaan

4 minggu (minggu 1 perencanaan, minggu 2–3 implementasi, minggu 4 evaluasi dan pelaporan).

F. Indikator Keberhasilan

  1. Siswa mampu memberikan contoh konkret nilai Pancasila.
  2. Terjadi peningkatan sikap gotong royong dan toleransi dalam kelas.
  3. Siswa lebih mandiri dalam menyelesaikan tugas.
  4. Siswa menunjukkan pemahaman lebih baik tentang pemikiran KHD melalui perilaku yang santun, reflektif, dan bertanggung jawab.

3. Dokumentasi Kegiatan

  • Foto 1: Siswa berdiskusi kelompok untuk menganalisis contoh nilai Pancasila.
  • Foto 2: Guru memberikan keteladanan melalui aktivitas awal pembelajaran.
  • Foto 3: Presentasi poster “Nilai Pancasila dalam Aksi”.
  • Foto 4: Proyek mini merawat lingkungan sekolah.

(Sesuaikan dengan dokumentasi asli kegiatan Anda.)


4. Umpan Balik dari Rekan Guru

Tanggapan Rekan Guru 1 (Ibu Sundari, S.Pd):

“Kegiatan ini sangat relevan dengan pembentukan karakter siswa. Saya melihat pendekatan Ki Hajar Dewantara sudah tampak dalam cara Anda memberi ruang pada siswa untuk berekspresi dan bertanggung jawab. Proyek lingkungan sangat menarik dan bisa dilanjutkan setiap bulan.”

Tanggapan Rekan Guru 2 (Bapak Zainuddin, S.Pd):

“Integrasi nilai Pancasila dalam kegiatan nyata membuat siswa lebih memahami maknanya. Presentasi kelompok berjalan baik, dan siswa terlihat lebih percaya diri. Mungkin ke depan bisa ditambah kegiatan yang melibatkan masyarakat sekitar sekolah.”


5. Refleksi

Pelaksanaan aksi nyata dengan tema Filsafat Pancasila dan pemikiran Ki Hajar Dewantara memberikan pengalaman mendalam bagi saya dalam memahami pendidikan sebagai proses yang bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter. Dengan mengintegrasikan nilai Pancasila ke dalam kegiatan belajar, saya melihat siswa mampu mengaitkan konsep abstrak dengan tindakan konkret dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mulai menunjukkan kerja sama yang lebih baik, bersikap lebih sopan, dan lebih peduli terhadap lingkungan kelas.

Penerapan prinsip-prinsip Ki Hajar Dewantara sangat membantu dalam menciptakan suasana belajar yang memanusiakan. Ketika saya mencoba memberikan teladan melalui disiplin dan komunikasi yang santun, siswa merespons dengan mengikuti perilaku tersebut. Dalam aktivitas diskusi, saya mengambil peran sebagai fasilitator yang mendorong siswa berpendapat, bukan satu-satunya sumber kebenaran. Hal ini membuat mereka lebih berani mengemukakan ide dan merasa dihargai.

Sesi refleksi harian menjadi bagian yang paling berkesan. Siswa menunjukkan kemampuan untuk menilai diri sendiri dan mengenali perkembangan perilaku mereka. Ini selaras dengan tujuan pendidikan menurut KHD: menuntun anak menuju keselamatan dan kebahagiaan dengan kekuatan kodratnya. Saya menyadari bahwa ketika siswa diberi ruang untuk berefleksi, motivasi intrinsik mereka meningkat dan proses belajar menjadi lebih bermakna.

Masukan dari rekan guru memperkuat keyakinan saya bahwa program ini dapat dikembangkan lebih luas. Interaksi positif antarsiswa meningkat, dan konflik kecil di kelas dapat diselesaikan secara mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa nilai Pancasila bukan hanya diajarkan, tetapi mulai dihidupi.

Refleksi ini membuat saya semakin yakin bahwa guru memiliki peran strategis dalam memastikan pendidikan nasional berjalan sesuai landasan filosofisnya. Ke depan, saya ingin memperkuat kolaborasi dengan orang tua dan memperluas kegiatan berbasis proyek agar siswa semakin terlibat aktif. Saya juga akan memperbaiki sistem dokumentasi dan evaluasi agar perkembangan karakter siswa terekam lebih baik. Melalui praktik ini, saya belajar bahwa pendidikan nilai membutuhkan konsistensi, keteladanan, dan pemahaman mendalam terhadap filsafat pendidikan Indonesia.[]

Contoh Jurnal Pembelajaran PPG Guru Tertentu 2025 Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

jurnal ppg 2025 modul 1

JURNAL PEMBELAJARAN PPG 2025

Tema: Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)
Topik: School Well-Being


1. Uraian Materi

School well-being merupakan kondisi ketika peserta didik merasa aman, nyaman, diterima, dan mampu berkembang secara optimal dalam lingkungan sekolah. Konsep ini mencakup aspek fisik, emosional, sosial, dan akademik, yang saling berkaitan dalam menciptakan suasana belajar yang positif. Pada konteks Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), school well-being menjadi landasan penting karena mendukung perkembangan kompetensi kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Secara teoretis, school well-being dapat dilihat melalui empat dimensi utama:

  1. Kenyamanan (Comfort) – peserta didik merasa lingkungan sekolah aman secara fisik dan emosional. Tidak ada ancaman bullying, diskriminasi, maupun tekanan berlebihan.
  2. Hubungan Positif (Connectedness) – peserta didik terhubung secara positif dengan guru, teman, dan komunitas sekolah. Relasi yang suportif meningkatkan rasa memiliki (sense of belonging).
  3. Kompetensi (Competence) – peserta didik memiliki kesempatan menunjukkan kemampuan, memperoleh penguatan, serta mengembangkan potensi akademik maupun nonakademik.
  4. Kemandirian (Autonomy) – peserta didik diberi ruang untuk memilih, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran mereka.

Implementasi school well-being dalam pembelajaran menuntut guru menciptakan iklim kelas yang inklusif, menerapkan strategi PSE secara eksplisit maupun terintegrasi dalam kegiatan belajar, serta memberikan dukungan emosional yang konsisten. Kegiatan seperti check-in emosi, diskusi reflektif, pembelajaran kolaboratif, dan penumbuhan budaya apresiasi menjadi bagian praktik yang efektif. School well-being juga dipengaruhi kebijakan sekolah yang berpihak pada murid, kerja sama orang tua, dan keterlibatan masyarakat.

Melalui penerapan school well-being, sekolah diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar, menurunkan perilaku bermasalah, memberikan dukungan kesehatan mental, serta membangun karakter positif peserta didik. Guru sebagai agen profesional perlu memiliki pemahaman komprehensif dan strategi yang tepat agar konsep ini dapat diterapkan secara nyata di kelas maupun tingkat sekolah.


2. Rancangan Aksi

A. Latar Belakang

Hasil refleksi pembelajaran menunjukkan bahwa beberapa peserta didik masih menunjukkan gejala kurang percaya diri, mudah cemas, dan belum mampu mengelola emosi ketika bekerja dalam kelompok. Oleh karena itu, diperlukan aksi nyata untuk memperkuat school well-being melalui kegiatan PSE yang terintegrasi dengan pembelajaran.

B. Tujuan Aksi Nyata

  1. Menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan diterima bagi peserta didik di lingkungan kelas.
  2. Mengembangkan keterampilan sosial-emosional peserta didik melalui kegiatan check-in emosi dan kolaborasi.
  3. Meningkatkan rasa memiliki serta hubungan positif antarsesama peserta didik dan guru.
  4. Menciptakan budaya kelas yang suportif dan inklusif.

C. Sasaran Kegiatan

Peserta didik kelas … (isi sesuai kebutuhan), rekan guru, dan lingkungan kelas sebagai ruang implementasi.

D. Bentuk Kegiatan dan Langkah-Langkah Aksi

1. Kegiatan Check-In Emosi Harian

  • Peserta didik memilih emotikon atau warna yang mewakili kondisi emosinya.
  • Guru menanyakan secara singkat alasan di balik pemilihan tersebut.
  • Guru memberikan afirmasi atau dukungan jika ditemukan kondisi emosional yang membutuhkan perhatian.

2. Pojok Nyaman (Comfort Corner)

  • Menyediakan sudut kelas berisi alat relaksasi sederhana seperti kartu emosi, buku bacaan ringan, dan permainan kecil antistres.
  • Peserta didik diperbolehkan menggunakan pojok nyaman maksimal 5 menit ketika merasa perlu menenangkan diri.

3. Kegiatan “Teman Penolong” (Peer Support Buddy)

  • Peserta didik dipasangkan secara acak sebagai pasangan dukungan.
  • Setiap pasangan bertugas saling membantu dalam tugas dan menjaga hubungan positif.
  • Guru memberikan lembar refleksi mingguan.

4. Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Tantangan

  • Guru menyusun tugas kelompok yang menekankan kerja sama, saling menghargai, dan komunikasi efektif.
  • Penilaian dilakukan tidak hanya pada hasil, tetapi juga proses interaksi tim.

5. Sesi Apresiasi Mingguan “Kata Baik”

  • Setiap peserta didik menuliskan apresiasi atau kelebihan temannya dalam kartu kecil.
  • Kartu dibacakan bersama dan ditempel pada “Pohon Kebaikan Kelas”.

E. Waktu Pelaksanaan

Dilaksanakan selama 4 minggu: minggu pertama persiapan, minggu kedua dan ketiga implementasi, minggu keempat evaluasi.

F. Indikator Keberhasilan

  1. Peserta didik lebih terbuka dalam menyampaikan perasaan.
  2. Meningkatnya interaksi positif antarsesama siswa.
  3. Berkurangnya konflik kecil di kelas.
  4. Peserta didik menunjukkan sikap saling mendukung dan menghargai.

3. Dokumentasi Kegiatan (Deskriptif)

  • Foto 1: Guru melakukan check-in emosi bersama siswa menggunakan papan emotikon.
  • Foto 2: Pojok nyaman yang digunakan siswa saat merasa cemas.
  • Foto 3: Aktivitas kolaboratif kelompok saat menyelesaikan tugas tantangan.
  • Foto 4: Pohon Kebaikan Kelas berisi kartu apresiasi dari seluruh siswa.

(Sesuaikan dengan foto asli saat pelaksanaan.)


4. Umpan Balik dari Rekan Guru

Tanggapan Rekan Guru 1 (Ibu Sundari, S.Pd):

“Kegiatan school well-being ini sangat membantu menciptakan suasana kelas yang lebih tenang dan suportif. Saya melihat siswa menjadi lebih berani menyampaikan perasaan dan bekerja sama. Pojok nyaman adalah inovasi bagus dan dapat diterapkan juga di kelas saya.”

Tanggapan Rekan Guru 2 (Bapak Abdus Salim, S.Pd):

“Program ini efektif untuk memperkuat hubungan sosial antarsiswa. Kegiatan teman penolong memberi dampak positif, terutama bagi siswa yang biasanya pasif. Saya menyarankan program ini dipertahankan dan disosialisasikan kepada guru lain.”


5. Refleksi

Pelaksanaan aksi nyata dengan tema school well-being memberikan pengalaman bermakna bagi saya sebagai calon pendidik profesional. Melalui program ini, saya menyadari bahwa pembelajaran tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada kebutuhan emosional dan sosial peserta didik. Ketika suasana kelas lebih positif dan suportif, proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dan kondusif.

Kegiatan check-in emosi menjadi pintu masuk untuk memahami kondisi peserta didik setiap hari. Saya menemukan bahwa beberapa siswa yang tampak pendiam ternyata memiliki kecemasan tertentu, dan melalui dialog singkat, mereka merasa lebih dihargai. Pojok nyaman juga menjadi solusi sederhana namun berdampak besar; siswa yang sebelumnya mudah marah atau gelisah kini mampu menenangkan diri secara mandiri sebelum kembali belajar.

Pembelajaran kolaboratif memperlihatkan dinamika interaksi yang menarik. Terdapat peningkatan kerja sama, terutama ketika siswa memahami bahwa keberhasilan kelompok bergantung pada kontribusi masing-masing. Program teman penolong memperkuat rasa tanggung jawab dan empati. Saya melihat siswa mulai saling mendukung, bahkan tanpa diminta.

Masukan dari rekan guru semakin meyakinkan saya bahwa implementasi school well-being relevan dan dapat dikembangkan lebih lanjut. Beberapa guru tertarik menerapkannya di kelas masing-masing, artinya program ini berpotensi menjadi gerakan sekolah yang lebih luas.

Secara pribadi, saya belajar bahwa upaya kecil, konsisten, dan berpihak pada murid mampu menghasilkan perubahan besar. Saya juga memahami bahwa guru perlu terus mengobservasi kebutuhan siswa dan menjaga fleksibilitas dalam merancang strategi pembelajaran. Ke depan, saya ingin memperbaiki aspek pencatatan perkembangan emosi siswa serta memperluas kolaborasi dengan orang tua untuk memperkuat dukungan dari rumah.

Dengan demikian, aksi nyata ini menjadi langkah penting dalam perjalanan saya membangun lingkungan sekolah yang berorientasi pada kesejahteraan peserta didik, sekaligus memperkuat kompetensi sosial emosional sebagai bagian integral dari proses pendidikan.[]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...