Jumat, 08 Agustus 2025

Ijazah Jokowi, Misteri Negara Rasa Dagelan

Ijazah jokowidodo

Kasus ijazah mantan Presiden Joko Widodo ini sudah kayak drama Korea tanpa ending—bedanya, nggak ada adegan romantis, yang ada cuma rakyat kebingungan. 

Dari dulu ribut, ribut, ribut… tapi ijazah aslinya tidak nongol juga.

Lucunya, Pak Jokowi ini kayak pemain sinetron yang tahu bikin semua orang penasaran, tapi justru diam saja sambil senyum. 

Ya, mungkin strateginya begini: “Kalau rakyat bingung soal ijazah, mereka nggak sempat ngomongin harga beras.” Cerdas? Mungkin. Licin? Jelas.

Padahal, kalau mau, tinggal buka map, tunjukin ijazah, selesai. 

Tapi tidak. 

Misteri ini dibiarkan menggantung, bikin masyarakat debat sampai urat leher keluar, sementara elite politik duduk manis sambil makan popcorn.

Kalau terus begini, jangan heran jika nanti kasus ijazah ini diwariskan ke cucu kita sebagai “warisan budaya tak benda”—karena bendanya sendiri nggak pernah kelihatan. [sh]

Ijazah Jokowi, Misteri yang Lebih Seru dari Sinetron

Presiden RI yang ke-7

Kasus ijazah mantan Presiden RI, Joko Widodo, ini rasanya sudah kayak sinetron Ramadhan yang tayang tiap tahun: Plotnya itu-itu saja, tapi penontonnya tetap heboh. 

Bedanya, kali ini tokohnya nggak kunjung kasih “bukti asli” yang dinanti-nanti.

Yang bikin geleng-geleng kepala, Jokowi masih belum mau menunjukkan ijazahnya ke publik. 

Padahal kalau cuma buka map ijazah, foto, lalu upload ke Instagram, selesai urusannya. Hehehe... 

Tapi entah kenapa, ini malah kayak nonton magician yang mau menunjukkan trik sulap… tapi triknya tak pernah kelar.

Jadinya orang bertanya-tanya: Ini sengaja biar semua penasaran, atau cuma cara kreatif buat bikin rakyat lupa sama isu-isu lain? 

Kalau benar begitu, ya selamat—triknya sukses, bung! 

Tapi jujur, kalau terus begini, kasus ini bisa masuk rekor MURI sebagai “Misteri Nasional yang tak Pernah Tamat”. 

Jadi, Pak Jokowi, ayolah kita akhiri sinetron ini sebelum ratingnya turun gara-gara penonton bosan. [sh]

Polemik Ijazah Jokowi, Misteri yang Tak Kunjung Usai

Presiden Republik indonesia

Kasus dugaan ijazah mantan Presiden RI, Joko Widodo, kembali mencuat dan menimbulkan kegaduhan di ruang publik. 

Kisruh ini seolah tak pernah usai, memantik pro-kontra tajam di tengah masyarakat.

Yang membuat publik heran, Jokowi hingga kini belum mau menunjukkan ijazahnya. 

Padahal, langkah sederhana itu bisa jadi cara paling mudah untuk menghentikan spekulasi. 

Sikap diam ini justru memunculkan berbagai pertanyaan: Apakah ini strategi untuk membuat orang terus penasaran? 

Atau malah sebagai upaya mengalihkan perhatian dari isu-isu lain yang lebih penting?

Apapun alasannya, kasus ini menunjukkan betapa lemahnya transparansi pejabat publik di negeri ini. 

Mengulur jawaban hanya akan memperpanjang kegaduhan dan membuat rasa percaya masyarakat semakin terkikis. [sh]

Kades Pasongsongan Ucapkan Terima Kasih atas Dukungan untuk Musik Tongtong “Angin Ribut” di Yogyakarta

Musik tongtong Angin Ribut Pasongsongan
MS Arifin (mengenakan pakaian adat Madura) bersama grup musik tongtong Angin Ribut. [Foto: sh]

SUMENEP – Kepala Desa Pasongsongan, Ahmad Saleh Harianto, menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung keberangkatan dan penampilan grup musik tongtong Angin Ribut dalam ajang Festival Indonesian Street Performance: Nusantara Menari di Yogyakarta.

“Ucapan terima kasih tak terhingga kepada Kepala Disbudporapar Sumenep dan Bapak MS Arifin (Owner Ramuan Banyu Urip) yang telah ikut mensupport Angin Ribut selama berada di Yogyakarta,” ucap Harianto ketika ditemui di Kantor Desa Pasongsongan. Jumat (8/8/2025). 

Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada para pengurus, anggota, serta seluruh masyarakat Pasongsongan yang telah berperan aktif dan memberi dukungan penuh, khususnya kepada para pemain musik tongtong yang telah membawa nama baik desa.

Angin Ribut, grup musik tongtong asal Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, berhasil memukau penonton saat tampil di titik nol kilometer dan sepanjang Jalan Malioboro, Yogyakarta. 

Dalam penampilannya, mereka menyuguhkan kekayaan seni tradisional Madura melalui irama dinamis musik tongtong, tarian topeng yang ekspresif, serta gerakan khas yang mencerminkan identitas budaya dari ujung timur Pulau Madura. [sh]

Kamis, 07 Agustus 2025

Pengumuman Pemenang Lomba Kaligrafi HUT RI ke-80 Kecamatan Pasongsongan

Lomba kaligrafi Kecamatan Pasongsongan
Abu Talib (kiri) bersama pemenang lomba melukis kaligrafi tingkat SMA/MA.[Foto: sh]

SUMENEP — Para pemenang lomba mewarnai dan melukis kaligrafi dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-80 tingkat Kecamatan Pasongsongan resmi diumumkan. Jumat (8/8/2025). 

Kegiatan yang diselenggarakan di MI Annajah Pasongsongan ini diikuti oleh siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA.

Koordinator seksi kesenian siswa, Agus Sugianto, menyampaikan langsung daftar para pemenang dalam kegiatan tersebut. 

Ia juga memberikan pesan penyemangat bagi para peserta yang belum berhasil meraih juara.

“Bagi siswa yang belum berhasil keluar sebagai juara, jangan putus asa. Kalian terpilih sebagai peserta itu sudah luar biasa,” ujar Agus Sugianto.

Penyerahan trofi dan piagam penghargaan dilakukan oleh sekretaris panitia pelaksana HUT RI ke-80 Kecamatan Pasongsongan, Abu Talib, M.Pd.

"Lomba kaligrafi ini menjadi salah satu ajang untuk menggali dan mengapresiasi bakat seni para pelajar, serta menumbuhkan semangat cinta Tanah Air melalui seni Islami," ucap Abu Talib. [sh]


Juan Dali Tampilkan "La Rose" dalam Pameran Bhavana Loka di SMSR Yogyakarta

Juan dali
Karya Juan Dali. [Foto: ls/sh]

YOGYAKARTA – Juan Dali, seorang perupa muda berbakat asal Kulon Progo, kembali menunjukkan kiprahnya di dunia seni rupa melalui karya berjudul “La Rose” dalam Pameran Bhavana Loka yang berlangsung di Galeri SMSR Yogyakarta, 4–8 Agustus 2025.

Meski masih duduk di kelas 12 jurusan seni lukis di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), Juan Dali telah aktif berpameran sejak usia 9 tahun. 

Dalam pameran lintas jurusan ini, ia menyuguhkan “La Rose”, sebuah lukisan bergaya realis dan kubisme yang menggambarkan sosok gadis dengan senyum penuh misteri dan tatapan mata penuh tanda tanya. 

Sebuah mawar menghiasi rambut sang gadis, sementara setangkai mawar lain tampak tumbuh di hadapannya. 

Warna pink pada pakaian tokoh mengisyaratkan cinta, berpadu dengan latar merah dan coklat yang memperkuat nuansa emosional karya tersebut.

Pameran Bhavana Loka dibuka secara resmi oleh kurator seni ternama Kuss Indarto, dan turut diramaikan dengan berbagai kegiatan seni seperti sharing session, workshop, serta aktivitas kreatif lainnya yang melibatkan siswa lintas jurusan.

Nama Juan Dali bukanlah hal baru di dunia seni rupa muda Indonesia. 

Ia telah berpartisipasi dalam puluhan pameran bergengsi di berbagai ruang seni seperti Bentara Budaya Yogyakarta, Balai Budaya Jakarta, Taman Budaya Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Jogja Gallery, dan banyak lagi. 

Sejak kecil, Juan juga telah meraih berbagai prestasi di bidang lomba mewarnai, melukis, mural, hingga desain poster.

Juan Dali dapat dijumpai di Instagram melalui akun @Juandali04 atau di channel YouTube miliknya, JDSJ. 

Ia juga aktif berkarya di Studio Gunung Yogyakarta, tempat ia mengasah dan mengekspresikan gagasan-gagasan visualnya. [sh/ls]

Siswa SDN Panaongan 3 Ikuti Lomba Kaligrafi Tingkat Kecamatan Pasongsongan

Mi Annajah Kecamatan Pasongsongan
Dua murid SDN Panaongan 3 dalam lomba melukis kaligrafi. [Foto: sh]

SUMENEP – Dua murid dari SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan turut ambil bagian dalam lomba melukis kaligrafi tingkat SD/MI se-Kecamatan Pasongsongan yang digelar di MI Annajah Pasongsongan, Jumat (8/8/2025). 

Lomba ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80.

Abdul Wasik, S.Ud., selaku guru pendamping dari SDN Panaongan 3, menyampaikan rasa bangganya atas keikutsertaan dua siswa terbaiknya dalam lomba ini. 

Sdn panaongan 3 kecamatan Pasongsongan
Abdul Wasik, S.Ud memberikan motivasi kepada kedua siswinya. [Foto: sh]

Ia menegaskan bahwa keduanya merupakan murid unggulan di sekolahnya dalam bidang seni kaligrafi.

“Mereka adalah siswa terbaik kami dalam melukis kaligrafi, dan kami sangat mendukung partisipasi mereka dalam ajang ini,” ujar Abdul Wasik.

Sementara itu, Ana Rusiah, guru pendamping dari MTs Istikmalunnajah, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan lomba kali ini. 

Ia menilai kegiatan berjalan dengan baik dan memberikan ruang positif bagi siswa untuk menyalurkan bakat seni mereka.

Sdn Panaongan 3
Ana Rusiah (kiri) bersama peserta didiknya. [Foto: sh]

“Pelaksanaannya sangat baik. Ini menjadi ajang yang bagus untuk menumbuhkan minat dan kecintaan siswa terhadap seni kaligrafi,” tuturnya.

Lomba kaligrafi ini merupakan bagian dari rangkaian lomba seni yang mencakup berbagai jenjang, mulai dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA. 

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk menyemarakkan HUT RI ke-80, tetapi juga untuk mempererat silaturahmi antar sekolah dan mendorong pelestarian seni Islam di kalangan pelajar. [sh]



Lomba Melukis Kaligrafi Meriahkan HUT RI ke-80 di MI Annajah Pasongsongan

Mi Annajah Kecamatan Pasongsongan
Akhmad Jasimul Ahyak sedang mengawasi lomba melukis kaligrafi. [Foto: sh]

SUMENEP – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Panitia Lomba Seni Siswa Kecamatan Pasongsongan menggelar lomba melukis kaligrafi tingkat SMP/MTs se-Kecamatan Pasongsongan. Jumat (8/8/2025). 

Kegiatan ini diikuti puluhan peserta dari berbagai sekolah dan diselenggarakan di MI Annajah Pasongsongan. 

Para peserta menampilkan kreativitas mereka dalam menuangkan ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam bentuk kaligrafi yang indah dan penuh makna.

Akhmad Jasimul Ahyak,S.Pd.I selaku ketua panitia seksi lomba kesenian, menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi aktif dalam lomba tersebut. 

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para guru pendamping yang telah setia mendampingi dan membimbing anak didiknya hingga bisa mengikuti lomba dengan baik.

"Kami sangat mengapresiasi semangat para peserta. Ini menunjukkan bahwa seni kaligrafi masih diminati dan menjadi bagian penting dari pelestarian budaya Islam di kalangan pelajar," ujar Akhmad Jasimul Ahyak. [sh]

Dua Murid SDN Padangdangan 2 Ikuti Lomba Melukis Kaligrafi di MI Annajah Pasongsongan

Sdn Padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan
Siti Endang Junnur Aida, S.Pd.I, sedang memberi arahan sebelum lomba dimulai. [Foto: sh]

SUMENEP – Dua murid dari SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, turut berpartisipasi dalam Lomba Melukis Kaligrafi yang diselenggarakan di MI Annajah Pasongsongan. Jumat (8/8/2025). 

Lomba ini merupakan bagian dari kegiatan HUT Kemerdekaan RI ke-80 yang bertujuan menggali potensi dan bakat seni kaligrafi di kalangan pelajar sekolah dasar.

Siti Endang Junnur Aida, S.Pd.I, selaku guru pendamping dari SDN Padangdangan 2, menyampaikan rasa bangganya atas keikutsertaan kedua siswanya dalam ajang tersebut. 

Ia berharap keduanya bisa menunjukkan kemampuan terbaik dan berhasil meraih juara. 

“Ini pengalaman berharga bagi anak-anak. Semoga mereka tampil percaya diri dan membawa hasil yang membanggakan,” ujarnya.

Kegiatan lomba melukis kaligrafi ini diikuti oleh berbagai sekolah dasar se-Kecamatan Pasongsongan dan mendapat sambutan positif dari para guru serta wali murid. 

Selain menumbuhkan kecintaan terhadap seni Islam, lomba ini juga menjadi ajang silaturahmi antar sekolah. [sh]

Cerpen: Akhir Tragis Debur, dari Pejabat Kebal Hukum ke Narapidana

Cerpen top apoy madura

By: Suriyanto Hasyim

Dulu, Debur adalah pejabat negara yang disegani—penampilannya rapi, tutur katanya meyakinkan, dan jaringannya luas. 

Saat desas-desus penyalahgunaan wewenang mulai muncul, ia tak gentar. 

Di sekelilingnya ada pengacara-pengacara kawakan dan pakar hukum yang lihai memainkan pasal, membelokkan fakta, dan merancang strategi pembelaan. 

Dengan bantuan mereka, Debur lolos dari jerat hukum, seolah tak tersentuh. 

Debur kembali melenggang di panggung kekuasaan.

Nah, roda waktu terus berputar. Ketika rezim berganti dan wajah-wajah baru mulai mengurai benang kusut warisan masa lalu, nama Debur kembali mencuat. 

Bukti-bukti yang dulu tersembunyi mulai terkuak, saksi-saksi yang dulu bungkam kini berani bersuara. 

Tanpa tameng kekuasaan dan pengaruh, Debur tak lagi kebal. 

Satu per satu, lembaran lama dibuka kembali, dan kali ini hukum menjemputnya dengan lebih tegas.

Kini Debur mendekam di balik jeruji, bukan lagi sebagai pejabat terhormat, melainkan sebagai pesakitan atas dosa yang lama ditutupi. 

Tak ada lagi tangan-tangan kuat yang membentengi. Di sel yang sempit dan sunyi, ia dihadapkan pada kenyataan pahit: bahwa kebenaran mungkin bisa ditunda, tapi tak bisa dihindari selamanya.[]

Rabu, 06 Agustus 2025

Cerpen: Satu Anak, Seribu Penyesalan

Cerpen apoyMadura.com terbaru

By: Suriyanto Hasyim

Tona tak pernah menyangka pagi itu jadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. 

Anak lelaki satu-satunya menghembuskan napas terakhir akibat demam berdarah. 

Semua terasa begitu cepat—dari demam ringan, perawatan di klinik, hingga perpisahan yang tak pernah ia bayangkan. 

Tona dan suaminya, Debur, tak sanggup berkata-kata saat tubuh mungil anak mereka dibaringkan di atas pembaringan terakhir. 

Dunia mereka runtuh dalam diam.

Mereka berdua pernah menaruh harapan besar pada anak itu—untuk kelak tumbuh dewasa, menikah, dan memberi cucu yang bisa mereka gendong di hari tua. 

Tapi kini harapan itu musnah, menyisakan ruang kosong yang tak tergantikan. 

Yang tertinggal hanya bayangan kenangan dan kamar kecil yang tak lagi berpenghuni.

Dalam duka yang dalam, penyesalan pun tumbuh jadi tembok dingin di antara Tona dan Debur. 

Tona dulu bersikeras cukup memiliki satu anak agar tak repot, kini diam-diam merasa bersalah. 

Sementara Debur, meski tak mengucap kata menyakitkan, jelas menyimpan luka karena dulu ia ingin punya lebih dari dua anak. 

Kini mereka saling menyalahkan dalam hati, karena tahu tak ada yang bisa diulang. [sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...