Sebuah diskusi hangat terjadi di kantor Madura Energi di Jalan Basuki Rahmad, Sumenep. Selasa (7/7/2026).
Dalam sebuah kunjungan kekeluargaan, saya berkesempatan bertukar pikiran dengan Hairul Anwar—seorang pengusaha sukses asal Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan, yang saat ini mendedikasikan dirinya sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumenep.
Pembicaraan kami tidak jauh dari kegelisahan mendasar tentang masa depan daerah: bagaimana cara nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumenep.
Sebagai figur yang berangkat dari dunia usaha sekaligus memahami regulasi, Hairul Anwar menitipkan sebuah harapan besar kepada organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan di Sumenep.
Ia menekankan bahwa sudah saatnya organisasi-organisasi ini tidak hanya fokus pada kegiatan seremonial atau spiritual, tapi juga senantiasa membangun pemikiran taktis mengenai pemberdayaan ekonomi wong cilik.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana format pemberdayaan yang ideal agar masyarakat bawah benar-benar bisa mandiri dan sejahtera?
Jawabannya ada pada tata kelola kolektif, alias koperasi.
Namun, bukan koperasi konvensional yang sekadar ada, melainkan koperasi modern yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Dunia internasional telah membuktikan bahwa sektor pertanian dan UMKM—yang menjadi urat nadi mayoritas warga Sumenep—bisa naik kelas jika dikelola dengan ekosistem koperasi yang canggih.
1. Belajar dari Efisiensi Jepang: Manajemen Kualitas dan Sentuhan Modern
Di Jepang, terdapat Japan Agriculture Cooperatives (JA) Oita. Koperasi pertanian ini berhasil mengubah nasib para petani tomat lokal. JA Oita tidak membiarkan petani berjalan sendiri.
Koperasi mendampingi mereka sejak proses menanam, memberikan standar baku, hingga membantu mengemas tomat dengan teknologi pengemasan modern.
Hasilnya, tomat yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi yang seragam dan bernilai jual mahal di pasar modern.
Jika organisasi di Sumenep mampu mengadopsi peran ini—misalnya dalam pengelolaan komoditas lokal seperti cabai, kelapa, atau hasil laut—petani kita tidak akan lagi terjebak dalam permainan harga tengkulak.
2. Berkaca pada Spanyol: Memotong Kompas Distribusi dan Standarisasi Global
Beralih ke Eropa, para petani di Spanyol memilih bergabung dalam koperasi untuk memotong rantai distribusi yang panjang.
Melalui koperasi, mereka bisa menjual hasil panen tomat langsung ke jejaring supermarket besar tanpa perantara.
Kuncinya ada pada kepatuhan terhadap standar mutu yang ketat, seperti sertifikasi GLOBALG.AP untuk keamanan pangan.
Hal ini jadi pelajaran berharga bahwa untuk menyejahterakan wong cilik, kita harus melatih mereka tertib mutu.
Organisasi kemasyarakatan bisa hadir sebagai fasilitator yang menjembatani standarisasi produk lokal agar bisa menembus pasar ritel modern atau bahkan pasar ekspor.
3. Mengintip Inovasi Belanda: Efisiensi Lahan dan Teknologi Hidroponik
Sementara itu, Belanda menunjukkan bagaimana keterbatasan lingkungan bisa diakali dengan teknologi.
Melalui koperasi, para petani di sana mengelola pertanian canggih di dalam rumah kaca (greenhouse). Mereka menerapkan sistem hidroponik modern yang mampu menghasilkan jutaan tomat berkualitas tinggi dengan penggunaan air yang sangat minim dan ramah lingkungan.
Bagi Sumenep, yang di beberapa wilayahnya memiliki tantangan geografis atau ketersediaan air musiman, inovasi teknologi tepat guna seperti ini adalah masa depan. Koperasi yang digerakkan oleh organisasi lokal bisa jadi pemodal sekaligus penyedia teknologi bagi para anggotanya.
"Pemberdayaan wong cilik bukan sekadar memberi bantuan modal lalu ditinggalkan. Kesejahteraan sejati lahir ketika mereka ditempatkan dalam sebuah ekosistem yang melindungi, mendidik, dan menghubungkan mereka langsung ke pasar dunia," tegas Hairul Anwar.
Menjawab Tantangan Masa Depan Sumenep
Pemikiran Hairul Anwar merupakan alarm pengingat bagi kita semua. Organisasi kemasyarakatan dan keagamaan memiliki basis massa yang sangat akar rumput di Sumenep.
Potensi modal sosial yang besar ini akan jadi kekuatan ekonomi yang dahsyat jika diwujudkan dalam bentuk koperasi-koperasi modern berkelas dunia.
Sudah saatnya kita berhenti melihat wong cilik sebagai objek bantuan, dan mulai menempatkan mereka sebagai penggerak utama ekonomi daerah.
Dengan pendampingan mutu ala Jepang, akses pasar langsung ala Spanyol, dan sentuhan teknologi ala Belanda, cita-cita mewujudkan masyarakat Sumenep yang sejahtera bukan lagi sekadar impian di atas kertas. [Kaiy]
