Filosofi Menara Masjid: Sentilan Agus Sugianto untuk Kepekaan Sosial
PASONGSONGAN -- Menara masjid bukan sekadar simbol kemegahan fisik, melainkan lambang tanggung jawab sosial yang mendalam.
Hal tersebut ditegaskan Agus Sugianto, S.Pd, saat mengisi kajian Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Pasongsongan, Sumenep, di Gedung KH Wahab Hasbullah, Panaongan. Selasa (07/07/2026).
"Menara mengajarkan bahwa makin tinggi posisi seseorang, makin besar tanggung jawabnya dalam memahami realitas sosial," tegas mantan Ketua Lakpesdam NU Pasongsongan tersebut.
Ia mengkritik fenomena masjid saat ini yang megah secara fisik tapi minim fungsi sosial.
Menurutnya, dari ketinggian menara, masjid sejatinya mampu "melihat" dan menjangkau kaum dhuafa, anak yatim, serta warga yang kesulitan di sekitarnya.
Untuk mengembalikan peran ideal masjid sebagai pusat peradaban dan solusi umat, Kepala SDN Panaongan 3 ini menawarkan empat langkah konstruktif bagi pengelola masjid:
1. Peta Sosial Jamaah: Memiliki data akurat mengenai siapa saja jamaah yang membutuhkan bantuan agar kepedulian tepat sasaran.
2. Optimasi ZIS: Mengelola zakat, infak, dan sedekah secara terorganisir serta transparan.
3. Pemberdayaan Umat: Menyediakan program pelatihan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.
4. Budaya Empati: Membangun kesadaran jamaah bahwa ke masjid tidak hanya untuk shalat, tapi juga untuk peduli sesama.
Sebagai penutup, Agus Sugianto mengingatkan pentingnya menyeimbangkan hubungan dengan Tuhan (hablum minallah) dan hubungan dengan manusia (hablum minannas).
"Jika menara terus menjulang tinggi, tapi kemiskinan di sekitarnya tetap tak tersentuh, barangkali bukan menaranya yang terlalu tinggi, melainkan kepekaan kitalah yang terlalu rendah," tutupnya. [Kaiy]
