Refleksi Idul Adha 1447 di Ponpes Al-Istikmal Pasongsongan
Rabu pagi, 27 Mei 2026, gema takbir bersahut-sahutan memecah keheningan Dusun Pakotan, Desa Pasongsongan.
Di antara ribuan umat Muslim yang berbondong-bondong menuju tempat ibadah, langkah kaki kembali membawa saya ke sebuah tempat yang amat akrab: Masjid Al-Istikmal.
Di masjid yang berdiri kokoh di dalam kawasan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Istikmal, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep inilah, saya memilih untuk merayakan dan melaksanakan ibadah shalat Idul Adha.
Bagi sebagian orang, memilih tempat shalat Idul Adha mungkin sekadar mencari tempat terdekat atau yang paling megah.
Tapi bagi saya, kembali ke Ponpes Al-Istikmal adalah sebuah ritual "pulang" yang sakral.
Setiap tahun, saya selalu sengaja meluangkan waktu untuk menunaikan shalat Hari Raya di sini. Alasan di balik konsistensi ini sangat sederhana tapi mendalam: nostalgia dan takzim.
Di tempat inilah, semasa duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dahulu, saya menghabiskan masa kecil untuk mengaji dan menimba ilmu-ilmu dasar agama Islam.
Masjid dan pesantren ini adalah rahim spiritual tempat karakter dan fondasi keislaman saya pertama kali dibentuk.
Menghayati Makna Qurban Nabi Ibrahim
Suasana shalat Idul Adha tahun ini terasa begitu khidmat.
Bertindak sebagai imam shalat sekaligus khatib adalah KH Kholilurrahman, yang saat ini mengemban amanah sebagai Pengasuh Ponpes Al-Istikmal.
Melihat dan mendengar beliau di atas mimbar membawa getaran tersendiri dalam sanubari.
Dalam khutbahnya, Kiai Kholilurrahman mengupas tuntas esensi utama dari Hari Raya Idul Adha, yaitu kisah pengorbanan agung Nabi Ibrahim AS.
Beliau menyampaikan dengan sangat menyentuh bagaimana ujian keimanan melanda Nabi Ibrahim ketika diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS.
Kiai Kholilurrahman menekankan bahwa qurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan ternak dan membagikan dagingnya.
Lebih dari itu, kisah Nabi Ibrahim adalah simbol dari ketundukan mutlak seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk berani "menyembelih" ego, keserakahan, dan kecintaan yang berlebihan pada duniawi—termasuk harta, jabatan, dan kedudukan—demi menggapai ridha Allah SWT.
Petuah ini menjadi oase spiritual dan refleksi mendalam, mengingatkan jemaah agar senantiasa meneladani keikhlasan sedalam samudra yang dimiliki oleh keluarga Nabi Ibrahim AS di tengah dinamika zaman modern seperti saat ini.
Mendengarkan petuah beliau di dalam masjid yang sama tempat saya belajar mengeja huruf hijaiyah puluhan tahun lalu, memicu keharuan yang mendalam.
Ada rasa syukur yang membuncah bahwa pesantren ini tetap konsisten menjadi mercusuar ilmu yang menyebarkan nilai-nilai ketauhidan di kawasan Pasongsongan.
Lebih dari Sekadar Ritual
Bagi saya, shalat Id Hari Raya di Ponpes Al-Istikmal bukan lagi sebatas kewajiban ibadah tahunan.
Ini adalah momen recharging iman sekaligus bentuk nyabis (silaturahmi) kultural kepada almamater spiritual saya.
Di tengah kesibukan hidup dewasa yang kerap melalaikan, kembali ke tempat kita pertama kali belajar sujud adalah cara terbaik untuk tetap membumi.
Di sinilah saya diingatkan kembali dari mana saya berasal, dan untuk apa ilmu yang telah saya dapatkan selama ini dipergunakan.
Merayakan Idul Adha di Ponpes Al-Istikmal Sumenep selalu sukses menghadirkan dua kebahagiaan sekaligus: kebahagiaan merayakan hari raya qurban, dan kebahagiaan karena bisa menjaga sanad keguruan serta rasa hormat kepada tempat yang telah membesarkan jiwa saya.
Semoga Ponpes Al-Istikmal dan KH Kholilurrahman senantiasa diberkahi kesehatan untuk terus membimbing generasi-generasi penerus bangsa. [Kaiy]
