Menenun Kenangan: Catatan Darmawisata Siswa Kelas VI SDN Padangdangan 2 Pasongsongan
Momen kelulusan sekolah dasar selalu menyisakan ruang rindu yang personal, baik bagi siswa maupun kami para pendidik.
Setelah berbulan-bulan bergelut dengan buku, latihan soal, dan persiapan ujian, tibalah saatnya memberikan hadiah kecil bagi siswa-siswi kelas VI SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Sabtu (23/5/2026).
Sebuah perjalanan darmawisata menyusuri kekayaan sejarah dan keindahan daerah sendiri, Kota Keris Sumenep.
Perjalanan ini bukan sekadar plesiran untuk melepas penat.
Bagi saya, para guru, dan Kepala Sekolah SDN Padangdangan 2, agenda ini adalah ruang kelas yang berpindah.
Sebuah momentum untuk merekatkan kebersamaan yang mungkin beberapa pekan lagi akan berganti jadi untaian perpisahan demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Dari sekian destinasi yang kami kunjungi di Sumenep, ada satu titik spiritual yang memberikan kesan paling mendalam: Asta Tinggi.
Kompleks makam raja-raja Sumenep yang sarat akan nilai historis dan religius ini jadi perhentian utama kami.
Di sinilah esensi dari pendidikan karakter itu benar-benar hidup.
Mengenakan pakaian yang rapi dan santun, kami mendampingi anak-anak duduk bersila di area pemakaman yang tenang.
Di bawah keteduhan arsitektur kuno, suara riuh khas anak-anak seketika luruh, berganti dengan kekhusyukan.
Kami bersama-sama melantunkan Surat Yasin dan tahlil.
Doa-doa terbaik kami kirimkan untuk para leluhur, pemimpin, dan ulama yang telah meletakkan fondasi peradaban di bumi Sumenep.
Melalui pembacaan Yasin dan tahlil ini, kami ingin menanamkan dua hal penting kepada siswa: rasa hormat pada sejarah dan pengingat spiritual bahwa kelak, setinggi apa pun kesuksesan duniawi yang mereka raih, akar religiusitas tidak boleh tercerabut.
Selain Asta Tinggi, rute darmawisata ke beberapa destinasi wisata lain di Sumenep juga membuka mata anak-anak bahwa daerah mereka begitu kaya.
Sebagai pendidik di SDN Padangdangan 2, kami melihat betapa pentingnya mengenalkan potensi lokal sejak dini.
Anak-anak belajar bersosialisasi di luar lingkungan sekolah, mengagumi keindahan alam, dan belajar menghargai tempat wisata publik.
Melihat tawa lepas mereka di sepanjang perjalanan adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami para guru dan kepala sekolah.
Lelahnya mempersiapkan administrasi dan tanggung jawab mendampingi puluhan anak di luar sekolah seketika menguap begitu melihat binar ceria di mata mereka.
Darmawisata ini mungkin hanya berlangsung sehari, tapi memori yang tercipta akan melekat seumur hidup.
Kami berharap, perjalanan menyusuri sudut-sudut indah Sumenep dan momen bersimpuh doa di Asta Tinggi bisa jadi bekal mental bagi siswa-siswi kelas VI SDN Padangdangan 2.
Selamat melangkah ke jenjang berikutnya, anak-anakku.
Bawalah ilmu yang didapat di kelas, dan rawatlah nilai-nilai spiritualitas serta cinta tanah kelahiran yang kita petik bersama dalam perjalanan ini. [Kaiy]


