Harmoni dalam Perbedaan: Persahabatan Saya dengan Yamaro Sitompul
Persahabatan sejati seringkali tidak mengenal batas suku, agama, maupun latar belakang budaya.
Hal inilah yang saya rasakan dalam hubungan persahabatan erat saya dengan Yamaro Sitompul, seorang penyanyi gereja dan musisi berbakat berdarah Batak.
Hubungan kami adalah bukti nyata bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang mampu melahirkan karya-karya indah.
Kenangan yang paling berkesan terjadi pada 1999. Selama tiga bulan, saya sempat tinggal dan menumpang di kediaman Yamaro di Perumahan Taman Wisma Asri, Bekasi.
Di sana, saya menyaksikan langsung bagaimana sosok Yamaro bukan hanya seorang seniman yang hebat, tetapi juga pribadi yang luar biasa hangat.
Meskipun saya beragama Islam dan memiliki darah Madura yang kental, Yamaro dan keluarganya menerima kehadiran saya dengan tangan terbuka tanpa sedikit pun rasa canggung.
Kebaikan hati Yamaro melintasi sekat-sekat identitas. Ia memperlakukan siapa saja dengan rasa hormat dan kasih yang tulus.
Sifat inklusifnya inilah yang membuat proses kreatif di antara kami mengalir begitu organik.
Sebagai musisi produktif yang telah menghasilkan ratusan lagu, Yamaro bersedia berkolaborasi dengan saya untuk melahirkan beberapa karya, seperti lagu berjudul "Tuhan Kita", "Syukur", dan "Pelabuhan Pasongsongan".
Lagu-lagu tersebut merupakan refleksi dari dialog spiritual dan kultural kami.
Lebih jauh lagi, bukti inklusivitas Yamaro dalam bermusik juga terlihat dari keberaniannya melahirkan karya bernapaskan Islami melalui kolaborasi dengan salah satu pondok pesantren.
Hal ini menunjukkan bahwa baginya, musik adalah bahasa universal untuk mengagungkan kebaikan dan kemanusiaan.
Melalui persahabatan ini, saya belajar bahwa kerukunan bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata.
Di tengah dunia yang seringkali terkotak-kotak, sosok seperti Yamaro Sitompul mengingatkan kita bahwa kita bisa berjalan beriringan, berbagi ruang hidup, bahkan menciptakan harmoni nada dalam perbedaan yang ada.
Persahabatan kami adalah sebuah simfoni yang membuktikan bahwa kasih dan kreativitas selalu memiliki tempat untuk tumbuh, dari Bekasi hingga ke ujung Pasongsongan. [Kaiy]
