Menjaga Langit Nusantara: Ketika Nasionalisme Diuji oleh Integritas Elit
NKRI
Harga Mati. Kalimat ini bukan sekadar slogan yang diteriakkan di podium atau
dicetak pada spanduk-spanduk jalanan.
Bagi seluruh warga negara
Indonesia, kalimat tersebut adalah sumpah setia bahwa tidak ada satu pun
jengkal tanah di republik ini yang boleh terlepas.
Dan tidak ada satu pun alasan
yang boleh membuat negara tercinta ini hancur berkeping-keping.
Tapi, di
tengah semangat menjaga kedaulatan dari ancaman luar, kita justru dihadapkan
pada ancaman yang lebih senyap namun mematikan dari dalam.
Pudarnya rasa nasionalisme
akibat ulah oknum pejabat negara dan pemegang wewenang.
Retaknya
Kepercayaan Rakyat
Sejatinya,
nasionalisme seorang warga negara tumbuh subur ketika ia merasa dicintai dan
dilindungi oleh negaranya.
Namun, apa yang terjadi
ketika mereka yang diberikan amanah untuk mewakili suara rakyat justru sibuk
memahat kepentingan pribadi dan kelompoknya?
Saat ini,
kita menyaksikan sebuah ironi. Mereka yang seharusnya menjadi "pelayan
rakyat" justru sering kali terlihat sebagai "tuan" yang minta
dilayani.
Kebijakan yang lahir dari
gedung-gedung tinggi terkadang lebih berpihak pada akumulasi kekuasaan dan kekayaan
golongan.
Sementara rakyat kecil tetap
berjuang di garis depan kemiskinan.
Kondisi ini secara perlahan
mengikis rasa memiliki rakyat terhadap negaranya.
Bagaimana mungkin seseorang
diminta menjaga rumahnya dengan segenap jiwa, jika penghuni di dalamnya sendiri
saling berebut harta tanpa memedulikan atap yang bocor?
Keadilan
yang Mulai Redup
Rasa
keadilan adalah oksigen bagi demokrasi.
Tanpa keadilan, hukum hanya
akan jadi jaring yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas.
Ketika penegakan hukum dan
pengambilan keputusan mulai dipengaruhi oleh relasi kuasa, maka "Langit
Nusantara" yang seharusnya menaungi semua orang dengan adil, mulai
tertutup mendung kecurigaan.
Kepentingan
diri yang didahulukan di atas kepentingan umum adalah pengkhianatan nyata
terhadap konstitusi. Ini perilaku dosa besar.
Jika perilaku ini terus
dibiarkan, jangan salahkan jika generasi mendatang mulai mempertanyakan arti
nasionalisme.
Sebab, nasionalisme sejati
memerlukan keteladanan, bukan sekadar instruksi.
Mengembalikan
Marwah NKRI
Menjaga
NKRI tidak cukup hanya dengan kekuatan militer, tapi harus dibentengi dengan
integritas moral para pemimpinnya.
Para pejabat negara dan
perwakilan rakyat harus sadar bahwa setiap kebijakan yang mereka ambil adalah
taruhan bagi keutuhan bangsa.
Sudah
saatnya kita kembali pada khitah perjuangan: bahwa wewenang adalah alat untuk
menyejahterakan rakyat, bukan alat untuk memperkaya diri.
Rasa keadilan harus kembali
menghiasi langit bumi nusantara agar api nasionalisme di hati rakyat tidak
padam.
Kita tidak ingin melihat
negara ini hancur bukan karena serangan bangsa lain, melainkan karena rapuhnya
fondasi kepercayaan akibat ulah kita sendiri.
NKRI adalah harga mati, maka integritas pemimpin adalah harga yang tak bisa ditawar. [kay]

