Mempertanyakan Kesucian Habib: Ketika Kekaguman Berubah Menjadi Kekecewaan
Dulu, saat masih remaja, saya memiliki sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan: bahwa gelar "Habib" adalah simbol kemuliaan tertinggi manusia di muka bumi.
Di mata saya, mereka bukan sekadar pendakwah, melainkan representasi hidup dari cinta kepada Rasulullah SAW.
Tiap kali duduk di majelis taklim, narasi tentang garis keturunan yang suci membuat saya meletakkan rasa hormat luar biasa. Tanpa sedikit pun ruang untuk keraguan.
Bagi saya kala itu, menghormati sosok Habib nerupakan bagian dari mencintai Nabi.
Saya percaya begitu saja, menelan setiap ucapan tanpa filter, karena menganggap mereka adalah penjaga moral yang paling murni.
Titik Balik Selepas Seragam Putih Abu-abu
Tapi, seiring bergulirnya waktu, kedewasaan membawa sudut pandang yang berbeda.
Pada tahun 90-an, selepas lulus SMA, interaksi saya dengan realitas di lapangan mulai mengikis persepsi ideal tersebut.
Saya mulai menyaksikan perilaku yang bertolak belakang dengan apa yang selama ini saya dengar di mimbar-mimbar ceramah.
Beberapa oknum yang menyandang gelar Habib justru menunjukkan sikap yang jauh dari kata rendah hati (tawadhu).
Saya melihat bagaimana mereka bersikap kurang sopan terhadap orang-orang di lingkungan saya—orang-orang tua yang seharusnya dihormati, atau warga biasa yang tulus mengabdi.
Ada semacam arogansi spiritual begitu kental; sikap seolah-olah mereka memegang "kunci surga" dan memiliki hak istimewa untuk merendahkan sesama manusia.
Fenomena ini bukan hanya saya yang merasakan. Banyak orang tua di lingkungan saya, serta teman-teman sebaya, mulai membicarakan hal yang sama dengan nada kecewa.
Antara Nasab dan Adab
Kecewa? Tentu saja. Ada perasaan tercederai ketika sosok yang kita anggap sebagai teladan justru menunjukkan perilaku yang tidak mencerminkan akhlak kakek mereka, Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sangat lemah lembut bahkan kepada musuhnya sekalipun.
Kita dididik untuk memuliakan keturunan Nabi, tapi kita juga diajarkan bahwa adab berada di atas ilmu (dan nasab).
Ketika gelar suci dijadikan tameng untuk bersikap sewenang-wenang atau merasa lebih tinggi dari hukum sosial, maka disanalah rasa hormat masyarakat mulai luntur secara alami.
Sebuah Refleksi
Kini, saya menyadari bahwa kemuliaan seseorang tidak bisa hanya digantungkan pada garis keturunan semata.
Nasab memang sebuah kehormatan, tapi ia semestinya jadi beban tanggung jawab untuk berperilaku lebih baik, bukan lisensi untuk bersikap angkuh.
Mencintai keturunan Rasulullah adalah bagian dari iman, tapi mengkritik perilaku yang tidak pantas adalah bagian dari menjaga marwah agama itu sendiri.
Jangan sampai sikap segelintir orang justru membuat masyarakat menjauh dari nilai-nilai luhur yang seharusnya mereka bawa. [kay]

