Membaca Ulang Eksistensi Gelar "Habib" di Pasongsongan: Antara Memori Kolektif dan Realitas Zaman
Pasongsongan
pada era 1990-an mencatat sebuah fragmen sejarah sosial yang khas: kedatangan
beberapa imigran Yaman yang menyandang gelar “Habib”.
Kehadiran mereka saat itu
disambut dengan karpet merah spiritual.
Menikah dengan gadis pribumi
bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan dianggap sebagai penyatuan berkah
nasab dengan tanah lokal.
Namun, tiga dekade berselang,
lanskap penghormatan itu mulai berubah warna.
Memori
1990-an: Era Keemasan dan Podium Khusus
Pada masa
itu, kehadiran sosok bergelar "Habib" di tengah masyarakat
Pasongsongan hampir selalu identik dengan posisi VIP.
Podium-podium pengajian
selalu menyediakan tempat paling depan, dan doa-doa mereka dianggap sebagai
"pintu langit".
Masyarakat saat itu
memberikan penghormatan mutlak—sebuah bentuk ta'dzim yang tulus kepada garis keturunan yang
dianggap suci.
Integrasi
melalui pernikahan dengan warga lokal memperkuat akar mereka.
Anak-cucu yang lahir dari
rahim perempuan Pasongsongan mewarisi identitas ganda: darah Yaman dan kedekatan
emosional dengan tanah Madura.
Pergeseran
Zaman: Podium yang Tak Lagi Eksklusif
Kini,
memasuki tahun 2020-an, anak-anak dari generasi 90-an tersebut telah dewasa dan
berkeluarga.
Tapi, mereka menghadapi
realitas yang berbeda dengan ayah mereka.
Podium-podium
"spesial" tidak lagi diberikan secara otomatis hanya berdasarkan
label nasab.
Ada
beberapa faktor yang melatari pergeseran ini:
- Literasi
Keagamaan yang Egaliter: Masyarakat kini lebih menekankan pada aspek fungsional—apa
kontribusi nyata dan kedalaman ilmu sang tokoh, bukan sekadar siapa ayahnya.
- Tuntutan Adab dan
Akhlak: Zaman menuntut bukti perilaku. Gelar tanpa disertai integritas sosial
yang kuat perlahan mulai kehilangan daya pikatnya di mata publik luas.
Fenomena
"Nyaman dalam Gelembung" Muhibbin
Menariknya,
meski tempat di "panggung utama" mulai menyusut, sebagian dari
keturunan ini tetap mempertahankan sikap dan gaya hidup layaknya tokoh besar
masa lalu.
Hal ini terjadi karena mereka
masih memiliki "benteng terakhir", yaitu para pengikut setia (muhibbin) sang ayah.
Bagi
mereka, pengakuan dari kelompok kecil muhibbin ini sudah cukup untuk
menciptakan zona nyaman.
Ada semacam romantisme masa
lalu yang terus dipelihara. Meski zonanya tidak lagi "seluas dan
senyaman" dulu.
Pengakuan dari para pengikut
ini jadi bahan bakar untuk tetap merasa memiliki otoritas sosial.
Kendati secara perlahan arus
zaman mulai bergerak ke arah yang lebih meritokratis.
Menatap
Masa Depan
Fenomena
di Pasongsongan ini adalah pengingat bagi kita semua.
Bahwa dalam struktur sosial
modern, kemuliaan nasab adalah sebuah "modal sosial" yang sangat
berharga.
Namun ia tidak bisa berdiri
sendiri tanpa sokongan adab dan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Warisan terbaik dari orang tua bukanlah "podiumnya", melainkan bagaimana nilai-nilai luhur dari nasab tersebut diterjemahkan ke dalam pengabdian yang tulus di tengah masyarakat yang kian kritis. [kay]

