Janji Lapangan Kerja Cuma Mitos? Intip Nasib Buruh Sekarang!

Pabrik tutup, dompet kian tipis, tapi pajak makin tebal? Yuk, bedah realitas pahit ekonomi kita yang makin ironis. Jangan cuma mau makan janji manis!
Pengangguran merajalela, janji 19 lapangan kerja hanya pemabia bibir


Cerobong pabrik kini mendingin. Sektor manufaktur resmi redup. 

Janji belasan juta lowongan kerja lenyap. Gerbang pabrik terkunci rapat. PHK datang tanpa mengetuk pintu. 

Mimpi buruh hancur berantakan. Dulu mereka bersorak saat kampanye. 

Kini mereka bungkam saat dipecat. Lapangan kerja hanya hiasan pidato. Layar kaca berdebu, narasi pun basi.

Daya beli terjun bebas. Dompet kian tipis. Pajak justru kian rakus. 

Rakyat mengetat ikat pinggang. Napas terasa makin sesak. Ekonomi meroket hanya jadi lelucon. 

Warung kopi penuh keluhan pahit. Harga barang menantang langit. 

Di atas sana, pembangunan diklaim berhasil. Kaset rusak narasi terus berputar. Telinga sakit mendengar klaim semu.

Inilah potret ekonomi yang jujur. Rakyat dipaksa antre ketidakpastian. Harapan sejahtera perlahan terkikis. 

Sembilan belas juta lapangan kerja yang dijanjikan calon Wakil Presiden jadi mitos.

Sebuah legenda urban yang sangat mahal. Ternyata membangun narasi sangat mudah. Jauh lebih mudah daripada memberi makan. 

Perut lapar tak butuh retorika. Kita kenyang hanya dengan janji. [kay]
LihatTutupKomentar