Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Cuma Dongeng di Tengah TercekiK Pajak Tinggi?
Janji manis 19 juta loker hilang ditelan bumi? Cek realita ekonomi hari ini: pajak meroket tapi cari kerja makin susah. Yuk, baca opini lengkapnya!
Layar televisi menyala terang. Di sana, wakil seorang calon pemimpin muda, Gibran Rakabuming Raka berjanji di depan dunia. Sembilan belas juta lapangan kerja akan tercipta, katanya.
Wouw, jutaan mata menonton dengan penuh harap. Tergantung di langit kamar kita. Media internasional mencatatnya sebagai sejarah besar.
Angka itu terdengar sangat perkasa, nyaris seperti sihir yang akan menghapus pengangguran dalam semalam.
Rakyat pun tersenyum. Secercah asa menua. Membayangkan dapur bakal kembali mengepul.
Kini, janji itu mendadak jadi hantu. Ia hilang ditelan sunyi malam nan pekat. Kabarnya menguap bersama angin, tak berbekas dalam kebijakan nyata.
Ruang publik yang dulu riuh dengan tepuk tangan, kini hanya menyisakan hening yang canggung.
Sembilan belas juta itu ternyata hanya deretan angka di atas kertas kampanye. Ia jadi dongeng pengantar tidur, terlalu indah untuk jadi kenyataan.
Rakyat kembali ke dunia nyata. Di pasar, harga-harga mencekik leher. Pajak meroket tinggi tanpa permisi. Ekonomi terasa sangat sempit bagi mereka yang mencari sesuap nasi.
Ternyata, lapangan kerja yang dijanjikan hanyalah fatamorgana di tengah gurun kesulitan. Ironis sekali. Kita diminta membayar pajak tinggi untuk membiayai janji yang kini sudah lupa jalan pulang. [kay]

