Antara Mitos "Kualat" dan Realitas Ketakwaan: Sebuah Refleksi Pribadi
Dulu, saat usia saya masih muda dan penuh semangat mencari jati diri, sosok bergelar Habib menempati posisi yang sangat istimewa di hati saya.
Dalam pandangan saya waktu itu, mereka adalah simbol kemuliaan tertinggi.
Doktrin yang saya serap dari berbagai ceramah sederhana: mereka adalah keturunan Rasulullah SAW, maka mencintai mereka adalah bagian dari iman.
Tapi, sebuah peristiwa kecil dengan sebuah arloji mengubah cara saya memandang hubungan antarmanusia dan Tuhan.
Ujian dari Sebuah Arloji
Suatu hari, saya didatangi seorang Habib bersama rekan saya yang merupakan keturunan kiai kampung.
Di luar dugaan, Habib tersebut tertarik pada arloji yang saya kenakan—sebuah pemberian berharga dari kakak saya yang bekerja di Malaysia.
Setengah memaksa ia mendesak untuk bertukar arloji.
Saya bimbang. Di satu sisi ada rasa hormat, di sisi lain ada nilai sentimental yang tidak bisa ditukar dengan materi apa pun.
Ketika saya menolak, teman saya berbisik dengan nada memperingatkan, "Hati-hati, kalau menolak keinginan Habib, nanti bisa kualat atau celaka."
Ketakutan vs. Logika Keimanan
Kata "celaka" itu sempat membayangi pikiran saya.
Ada tekanan psikologis yang luar biasa ketika tradisi penghormatan berubah jadi sebuah paksaan yang dibungkus dengan ancaman spiritual.
Tapi, saya memilih teguh.
Saya tetap mempertahankan arloji tersebut karena amanah dan kasih sayang kakak saya jauh lebih nyata bagi saya saat itu.
Lalu, apa yang terjadi? Apakah "kutukan" itu datang?
Realitas yang Berbicara
Satu bulan berlalu, kemudian dua bulan. Tidak ada musibah yang menimpa.
Justru yang terjadi adalah sebaliknya: keluarga kami sehat walafiat, dan pintu rezeki orang tua saya terbuka semakin lebar.
Pengalaman ini jadi titik balik bagi saya. Saya menyadari beberapa hal penting:
1. Kemuliaan adalah Perilaku: Gelar atau nasab adalah kehormatan, tapi perilaku tetaplah barometer utama seorang manusia.
Memaksakan kehendak atas milik orang lain tidak mencerminkan akhlak kakek moyang yang mulia.
2. Tuhan Tidak "Main Hakim Sendiri": Rezeki dan musibah adalah hak prerogatif Allah SWT berdasarkan amal dan usaha, bukan berdasarkan tersinggungnya seseorang karena keinginannya tidak dituruti.
3. Keberkahan dalam Prinsip: Menjaga amanah (pemberian kakak) ternyata membawa keberkahan tersendiri yang jauh lebih besar daripada rasa takut akan mitos "celaka".
Penutup
Kisah ini tidak mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang benar-benar menjaga amanah leluhurnya dengan akhlak mulia.
Namun, peristiwa arloji ini mengajarkan saya untuk jadi pribadi yang kritis.
Kita menghormati manusia karena kesalehannya, bukan takut kepadanya karena mitosnya.
Karena pada akhirnya, di mata Tuhan, yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa. [kay]

