Antara Garis Keturunan dan Cahaya Ilmu: Refleksi Atas Pemaknaan Gelar "Habib"
Dulu, saat saya masih duduk di bangku SMP dan semangat keagamaan sedang meluap-luap, figur seorang Habib adalah segalanya.
Dalam benak saya dan beberapa teman, mereka bukan sekadar manusia biasa; mereka adalah simbol kemuliaan tertinggi.
Doktrin yang saya serap dari satu ceramah ke ceramah lain hanya satu: mereka adalah darah daging Rasulullah SAW, dan mencintai mereka adalah bagian dari iman.
Saya percaya tanpa tapi. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya literasi, muncul kegelisahan yang sulit saya bendung.
Sebuah pertentangan batin antara rasa hormat kepada keturunan Nabi dengan realitas yang saya lihat di depan mata.
Guru Ngaji Terpinggirkan
Satu hal yang paling mengusik hati saya adalah ketika melihat fenomena dimana guru-guru ngaji di kampung—orang-orang yang mengajari kita mengeja Alif, Ba, Ta hingga kita bisa membaca Al-Qur'an—seolah kehilangan harga dirinya di hadapan pemegang gelar Habib.
Ada semacam hierarki tak tertulis yang menempatkan "nasab" (garis keturunan) jauh di atas jalur ilmu.
Padahal, bukankah ulama adalah pewaris para Nabi? Saya merasa ada yang tidak proporsional ketika seorang kyai atau guru yang menghabiskan puluhan tahun menelaah kitab kuning, dianggap "bukan siapa-siapa" hanya karena ia tidak memiliki darah Arab.
Khurafat yang Melebihi Mukjizat
Kegelisahan saya memuncak saat mendengar cerita-cerita khurafat atau narasi kesaktian yang dibalut sedemikian rupa.
Kadang, kisah-kisah karomah yang disematkan kepada oknum Habib tertentu terdengar begitu bombastis.
Bahkan dalam logika saya, seolah ingin menyaingi atau melampaui mukjizat Nabi Muhammad SAW sendiri.
Nabi kita, Muhammad SAW, adalah sosok yang sangat membumi meski beliau adalah kekasih Tuhan.
Beliau terluka saat perang, beliau lapar, dan beliau sangat menghargai ilmu pengetahuan.
Ketika narasi tentang Habib berubah jadi pamer "kesaktian" tak masuk akal dan menjauhkan umat dari esensi ajaran syariat, disitulah saya mulai bertanya: Apakah ini yang diinginkan oleh kakek buyut mereka?
Menghormati Nasab Tanpa Meninggalkan Akal Sehat
Menghormati keturunan Rasulullah SAW adalah bagian dari adab dalam tradisi Islam yang saya pelajari.
Tapi, penghormatan tersebut tidak seharusnya membuat kita buta logika atau merendahkan para penuntut ilmu yang tidak memiliki garis keturunan serupa.
Kemuliaan sejati seharusnya terpancar dari akhlak dan kedalaman ilmu.
Jika gelar "Habib" (yang berarti pecinta/yang dicintai) digunakan sebagai tameng untuk memvalidasi perilaku yang menjauhi sunnah atau untuk menciptakan kastanisasi sosial dalam agama, maka ada yang salah dalam cara kita memandang spiritualitas.
Catatan Akhir
Menghargai masa lalu bukan berarti kita harus terjebak dalam pemahaman yang sempit.
Menjadi dewasa secara spiritual berarti mampu membedakan mana penghormatan tulus karena Allah, dan mana pengkultusan individu berlebihan. [kay]

