Senin, 19 Oktober 2020

Surat Terbuka Yant Kaiy (Bagian III (Habis))



Melalui puisi pula aku mencurahkan pengalamanku menyeberang dari Kamal (Madura) ke Ujung (Surabaya). Puisi menampung kesan-kesanku yang berangkat dari keterpikatanku terhadap sebuah objek. Misalnya pernik-pernik cahaya matahari yang memantul di laut, bias ombak, langit biru dan suasana saat kapal kapal meninggalkan tanah kelahiranku. Puisi tidak saja menampung kesan yang nampak, tapi juga kesan-kesan perasaanku dikala aku hendak mengarungi dunia di luar Madura.

Bagiku puisi adalah perjalanan hidup.

Ingin kucatat semua yang dapat terlihat pada bola mata. Aku benar-benar antusias bila panca inderaku menangkap sesuatu. Bila sudah demikian cepat-cepat aku duduk di depan mesin ketik usang sudah karatan.

Suatu hari, ketika Ayah akan berangkat ke perkumpulan macapat, ia menepuk pundakku.

"Ayah salut terhadapmu, Nak!" ujarnya hampir tak terdengar dengan sikap berwibawa.

Aku sangat bangga memiliki Ayah seperti dia. Ayah yang tak memasung segala cita-cita anaknya. Tidak membelenggu segala yang kumau. Thank's berat terhadapmu, Ayah.

Bagiku puisi adalah segala-galanya.

Kamu boleh mencemooh, menghina, menelantarkan aku dari pergaulan. Boleh kamu menyumpahi aku, asalkan jangan kamu bumi hanguskan keinginanku menulis puisi.[]

Publish: Koran Karya Darma (21/11/1992)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...