Catatan: Yant Kaiy Membantu seorang teman membuatkan soal-soal Bahasa Madura. Dia seorang guru yang mengajar di salah sebuah SDN di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Sesungguhnya soal-soal itu bagi orang dewasa cukup mudah. Yang susah adalah cara membacanya. Karena pelafalan tulisan jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Vokal pada nada bicara cukup kental. Tak jarang tulisan ‘bang’ dibaca ‘bheng’. Contoh: Pantai Lombang. Kalau orang madura yang mengucapkan menjadi Pantai Lombheng. Berikut soal-soal Bahasa Madura yang saya tulis. Sabtu (24/4/2021). Semoga menambah rasa cinta terhadap bahasa tempat dimana kita lahir dan besar. I. Pasange lang-kaleng (X) ka horop a,b,c , otaba d, e adha’na jawaban se benddher! Mandeng Alam Mandeng Alam Ngabiru ombudda alam Ka’-bungka’an padha bay-lembayan bunganah aba’ mandeng alam sabbar gulina angen ngalesser nyengkap ebbun e baja lagg...
Catatan: Yant Kaiy Pada Sabtu (24/4/2021) salah seorang teman guru honorer datang ke rumah. Ia meminta dibuatkan soal-soal Bahasa Madura untuk SDN tempatnya mengajar. Walau saya sendiri menolaknya, ia tetap setengah memaksa. Kenapa saya menolak? Karena mengetik tulisan bahasa Madura cukup sulit. Cara bacanya tidak sama dengan tulisan. Apalagi saya tidak terbiasa menulis bahasa Madura. Contoh: Tulisan agandhu’ dibaca agendhu’. Tulisan padha dibaca padhe. Dan masih banyak kata-kata yang cara melafalkannya berbeda dengan tulisan yang ada. Berikut soal-soal pelajaran Mulok (muatan Lokal), yakni mata pelajaran Bahasa Madura. I. Pasange lang-kaleng (X) ka horop a,b,c , otaba d, e adha’na jawaban se benddher! 1. Bungkana ngalarbat nalar kakaju laen. Dhaunna para’ padha’a ban sere. Mon abuwa apendha’an ban akorosan dhari garigi’. Rassana abak peddhes. Jariya seenyamai… ...
Pertemuan selalu punya cara sendiri untuk mengaduk-aduk emosi. Kemarin malam (Selasa, 26 Mei 2026) di sebuah rumah di Dusun Pakotan, Desa Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, saya duduk berhadapan dengan Syamsul Arifin. Di rumah saudaranya itulah, ingatan kami mendadak terlempar jauh ke belakang, tepatnya 33 tahun yang lalu. Tiga puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Pikiran saya langsung memutar kembali memori saat Syamsul masih lajang, belum memiliki istri, dan menjalani kerasnya hidup bersama orang tuanya. Kala itu, kata "miskin" dan "menderita" bukan sekadar bumbu cerita, melainkan makanan sehari-hari yang harus mereka telan. Orang tua Syamsul adalah warga asli Pasongsongan yang memutuskan merantau ke Jember demi mengadu nasib. Di tanah rantau itulah Syamsul lahir dan dibesarkan. Tanpa modal apa pun kecuali tenaga dan harapan, mereka bertahan hidup di garis kemiskinan yang amat ketat. Menatap Syamsul yang sekarang, sulit rasanya melupak...