Pencarian

apoymadura.yant-kaiy/artis india katrina kaif

Pentigraf: Yant Kaiy

Berhari-hari kami menanti kepulangan suamiku. Tak ditemukan jejak kematiannya. Para nelayan di kampung pesisir bahu-membahu mencari keberadaan tengkong dan suami tercinta. Usaha mereka nihil. Suamiku seolah lenyap ditelan samudera.

Jika malam telah larut, mulut ini memanggil namanya. Bayang wajahnya menyelinap di segenap sudut hati ini. Dari ujung mata mengalir air kesedihan. Aku tak sanggup membayangkan deritanya. Hilang tanpa bekas. Walau dia ditemukan, mungkin tinggal tulang. Tuhan, selamatkan dia! Suamiku orang baik, jujur, penuh pengertian terhadap siapa saja.

Sudah dua puluh satu hari, pencarian pun dihentikan. Tradisi warga pesisir di kampung kami, jika ada salah seorang keluarganya tenggelam dan tak ditemukan jasadnya, biasa ada tabur bunga di pinggir pantai. Aku pun melaksanakan kebiasaan itu. Tiba-tiba ombak besar datang. Aku sontak berlari. Tapi ombak itu menggulungku. Aku diseretnya ke tengah. Dan aku tak tahu sudah ada di mana.

Pasongsongan, 6/3/2020

Catatan: 
Tengkong adalah jenis perahu tradisional masyarakat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep yang diperkirakan ada pada abad IX Masehi.
Tengkong merupakan perahu kecil yang di sisi kanan-kirinya ada bambu sebagai penyeimbang agar tahan
ombak; tidak mudah tenggelam. (Sumber dari buku: “Syekh Ali Akbar: Menelisik Sejarah Pasongsongan yang Terputus”, karya: Yant Kaiy).


LihatTutupKomentar