Pencarian
Pentigraf: Yant Kaiy
Berhari-hari kami menanti kepulangan suamiku. Tak ditemukan
jejak kematiannya. Para nelayan di kampung pesisir bahu-membahu mencari
keberadaan tengkong dan suami tercinta. Usaha mereka nihil. Suamiku
seolah lenyap ditelan samudera.
Jika malam telah larut, mulut ini memanggil namanya. Bayang
wajahnya menyelinap di segenap sudut hati ini. Dari ujung mata mengalir air
kesedihan. Aku tak sanggup membayangkan deritanya. Hilang tanpa bekas. Walau
dia ditemukan, mungkin tinggal tulang. Tuhan, selamatkan dia! Suamiku orang
baik, jujur, penuh pengertian terhadap siapa saja.
Sudah dua puluh satu hari, pencarian pun dihentikan. Tradisi
warga pesisir di kampung kami, jika ada salah seorang keluarganya tenggelam dan
tak ditemukan jasadnya, biasa ada tabur bunga di pinggir pantai. Aku pun
melaksanakan kebiasaan itu. Tiba-tiba ombak besar datang. Aku sontak berlari.
Tapi ombak itu menggulungku. Aku diseretnya ke tengah. Dan aku tak tahu sudah
ada di mana.
Pasongsongan, 6/3/2020
Catatan:
Tengkong adalah jenis perahu tradisional
masyarakat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep yang
diperkirakan ada pada abad IX Masehi.
Tengkong
merupakan perahu kecil yang di sisi kanan-kirinya
ada bambu sebagai penyeimbang agar tahan
ombak;
tidak mudah tenggelam. (Sumber dari buku: “Syekh
Ali Akbar: Menelisik Sejarah Pasongsongan yang
Terputus”, karya: Yant Kaiy).
