Lidi dan Surga

Pentigraf: Yant Kaiy
Teringat akan hikayat tentang seorang ulama yang mengambil lidi di pagar tetangganya untuk mengorek kupingnya yang gatal. Setelah wafat sang alim datang lewat mimpi pada santrinya, bahwa ia tidak bisa masuk surga lantaran dihalangi lidi berjubel. Ia lalu berpesan pada santrinya agar minta diikhlaskan lidi seukuran panjang jari manisnya yang diambilnya. Kemudian ia pun masuk surga setelah tetangga itu memaafkannya.

Dasar inilah yang membuat Tonah senantiasa berperilaku jujur dalam memerintah desanya. Masalah keuangan diserahkan total pada bendaharanya. Selalu bermusyawarah dengan perangkat desa tentang arah pembangunan ke depan.

Kemajuan desanya kini menjadi percontohan desa-desa lainnya. Beraneka penghargaan datang pada Tonah sebagai kepala desa perempuan yang amanah dan jujur.

Pasongsongan, 24/3/2020


LihatTutupKomentar