Ketika Sakit
Pentigraf: Yant Kaiy
Ayah tergolek tak berdaya ketika aku pulang dari rantau. Aku
menangis diantara rindu membuncah. Duduk di sampingnya dengan membacakan
ayat-ayat suci Al-Qur’an. Terbayang ketika aku masa kanak-kanak, sering aku
dibawanya pergi menonton kesenian Madura. Ayah menuntunku. Tapi aku tak
menghiraukan pertunjukan itu. Paling gembira kalau aku dibelikan mainan atau
jajan.
Karena Ayah juga aku bisa melanjutkan pendidikan sampai
punya kerja. Penghasilan Ayah tak seberapa, hanya cukup untuk makan saja. Tapi
keteguhannya bahwa hanya ilmu yang bisa diwariskannya, sedangkan harta tak
punya. Petuahnya baru kurasakan sekarang begitu berarti. Beliau telah
mengajarkan banyak hal untuk masa depanku.
Belum sempat beliau melihatku duduk di pelaminan, tapi kini
sudah sakaratul maut. Akhirnya Ayah pergi untuk selamanya di pangkuanku.
Pasongsongan, 2/3/2020
