Diam-diam Menghanyutkan
Pentigraf: Yant Kaiy
Aku bukanlah malaikat yang tak punya gairah untuk bercinta
dengan lawan jenis. Aku seorang gadis keturunan dari orang terhormat di desa
tempat dimana aku lahir dan besar serta mengenyam pendidikan. Ayah seorang
tokoh agama sangat disegani. Santrinya lumayan banyak. Maka sepantasnya aku
menjaga marwah beliau, tidak menodainya dengan perilaku tidak senonoh. Hal-hal
berbau norma agama dan tradisi mesti dijunjung tinggi.
Maka dari itulah penampilanku memakai cadar bila keluar
rumah. Identitas sebagai kaum penganut agama taat. Tapi hatiku kemarau cinta.
Aku iri kepada mereka yang bebas bercinta dengan kekasihnya. Aku tak bisa terus
menunggu saat sang arjuna datang.
Siang hari yang panas. Seorang guru pengajar sekolah milik
kami menanyakan Ayah. Aku mempersilakan masuk. Dia duduk di ruang tamu. Aku
mengambilkan minuman dingin. Ketika aku meletakkan gelas, sengaja aku menunduk.
Dahiku menyentuh hidungnya. Dia cukup mengerti. Ditariklah tubuhku ke
pangkuannya. Dia menciumi sekujur tubuhku sangat buas.
Pasongsongan, 15/3/2020
