Tari

Cut Tari Terjebak dalam lift bersama lelaki/ cut tari

Cerpen: Yant Kaiy

Debur tidak lagi mencintai Luna. Alasannya, Luna gadis yang gampang berpindah-pindah cinta. Sangat mudah terlena oleh bujuk-rayu lelaki. Maunya hidup enak dan menyenangkan hati. Tak mau susah. Prinsipnya; pilih saja yang nyaman, buang yang pahit.

Bagi Debur, prinsip Luna bertolak belakang dengan impiannya. Lelaki setia ini mendambakan seorang kekasih yang bisa saling berbagi dalam banyak hal. Kalau soal kecantikan wajah baginya cukup gampang. Apalagi Debur adalah seorang karyawan di salah satu bank swasta terkemuka di Jakarta.
Cantik wajah itu bisa dibeli, tapi cantik hati tidak ada toko yang menjualnya.

“Kapan kau nikah, Bur? Jangan lama-lama, ntar keburu kiamat,” ledek Tari, teman satu kantor Debur.
“Luna itu orangnya baik kok,” tambah Yogi yang tiba-tiba datang dari belakang, menyatu di salah satu ruang kerja, sebentar lagi mereka akan pulang.
“Cantik banget wajahnya.  Luna itu orangnya supel,” sela Fransiska, gadis asal Medan.

Debur tak bereaksi. Pikirannya tampak kusut. Ia sedang berusaha menghapus nama Luna di hatinya. Pantas kalau Debur tak mau mengingatnya, karena Luna sudah tiga kali lebih berselingkuh dengan pria lain. Ia sakit hati. Ia kecewa dan terluka.

Ketika teman-temannya sudah pulang, Debur masih menata beberapa berkas dan memasukkannya ke laci meja. Setelah itu Debur bergegas menuju lift.

“Kau naik taksi, Bur?” tanya Tari ketika mereka hanya berdua ada di lift.
“Ya. Emang kenapa, Tar?”
“Kita sama-sama, ya!” pinta gadis bernama lengkap Tari Putri Syifana.
“Mobilmu kemana?”
“Lagi di bengkel.”
“O…”

Tiba-tiba lift macet. Listrik padam. Suasana menjadi gelap.
“Astagfirullah…”
“Tenang, Tar! Jangan panik! Kepanikan akan membuatmu mengalami kekurangan oksigen,” pinta Debur yang pernah dua kali terjebak dalam lift macet.

Debur segera menghidupkan senter hape-nya, Tari tampak ketakutan seperti anak kecil. Gadis bermata sipit itu tanpa malu memeluk Debur. Ia mulai menangis. Jantung Tari berdegub kencang. Keringat mereka mulai membasahi tubuhnya. Mereka kepanasasan karena tidak ada ventilasi.

Debur mengambil sepatunya dan memukul ke dinding lift untuk membuat suara. Ia berteriak minta tolong. Ketika Tari mulai lemas, sejurus kemudian lift bergerak turun bersamaan dengan lampu menyala.

Debur dan Tari keluar setelah pintu lift terbuka.

Sejak peristiwa itu, Debur dan Tari sering pulang bersama. Diantara keduanya mulai tumbuh benih cinta. Debur terlepas dari bayang-bayang Luna. Rindu Debur hanya buat Tari.


Pasongsongan, 13/2/2020

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Observasi Karakter Pancasila di SDN Padangdangan 2

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III

SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Siap Berlaga di Olimpiade PAI Jawa Timur