Sepotong Galau Maya

Luna Maya ditinggal kawin teman dekatnya/Luna Maya


Cerpen: Yant Kaiy

“Aku mencintaimu. Aku tak akan memaksamu percaya. Tapi betapa kejamnya dirimu tidak percaya dengan pengorbanan ini. Aku berkorban perasaan untuk mengemis cintamu. Aku juga telah merelakan waktuku hanya bagimu seorang.”
“Debur. Aku bukan tidak percaya dengan ucapanmu. Pengakuanmu memang tulus terhadapku. Tapi statusku bukan seperti dulu lagi. Aku seorang janda cerai mati. Cintaku masih tertinggal diantara puing batu nisan suamiku,” cetus Maya tetap dalam penolakan.
“Iya… Aku memahami itu. Lalu pembuktian apa lagi yang harus aku lakukan kepadamu. Tak adakah kesempatan bagiku bersatu dalam cinta bersamamu.”
“Sudahlah, Debur! Aku tak mau berdebat lagi soal hubungan kita. Aku tetap pada komitmen semula, bahwa kita tetap akan bersahabat dari sejak dulu ketika kita masih SMA. Bagiku itu lebih baik. Ketimbang kita harus berpisah lantaran sebuah pertengkaran,” Maya berusaha mengakhiri dialog seputar jalinan cintanya.

Debur tak bisa memaksanya lagi. Ia tahu sikap Maya yang kurang suka terhadap teman yang banyak bicara. Mereka kemudian dalam suasana diam beberapa menit.

“Kau mau makan?” Debur memecah jalan pikiran wanita berkulit putih di hadapannya.
“Terima kasih. Aku harus segera pulang.”
“Baiklah, aku antar.”

Mereka meninggalkan  kafetaria di kawasan tempat kerja Maya.

Tiba di rumah Maya, Debur sengaja tidak mampir. Lelaki itu memahami dengan situasi lingkungan di sekitar rumah Maya. Apa kata dunia, belum genap seratus hari kematian suaminya sudah ada gantinya.

Seminggu kemudian Debur ke kantor Maya, namun ia sudah seminggu tidak masuk kantor. Kata teman kerjanya, anak Maya sedang sakit. Debur telah berupaya menghubunginya, namun telpon Debur tak pernah diangkatnya.

Sampai di rumah Maya, ia hanya bertemu dengan pembantunya. Kata pembantunya, Maya sedang di rumah sakit. Debur langsung meluncur ke rumah sakit.

“Sakit apa?” tanya Debur pada Maya yang sedang duduk di samping buah hatinya.
“Demam berdarah, Bur,” sahut Maya pelan.

Debur mendekati Sheila yang terbaring lemas. Sheila tidak bisa tersenyum demi menahan rasa sakit. Sekujur tubuhnya timbul bercak-bercak. Ini menandakan kondisi penyakit Sheila dalam stadium parah.

“Halo, Om Debur,” sapa Sheila terlihat lebih bergairah.
“Semoga cepat sembuh ya, Nak! Sheila harus semangat!”
Sheila yang masih duduk di bangku SD kelas satu itu hanya mengangguk.

Debur menarik tangan Maya untuk keluar sebentar.
“Kenapa kau tak memberitahuku kalau Sheila sakit, May?”
“Aku tak mau mengganggu waktumu.”
“Oke. Apa karena aku sudah bilang cinta padamu, sehingga kamu tak mau berbagi? Apa kamu mau kehilangan orang yang kau sayangi lagi.”

Maya hanya tertunduk.
“Aku tak kecewa kau menolak cintaku. Aku tetap tulus berbuat apa pun buatmu dan anakmu. Aku seorang laki-laki. Aku bisa mendapatkan cinta selain kamu. Tapi benakku bilang, kalau aku sangat iba melihat kamu mengurus rumah tangga seorang diri. “
“Tapi aku…”
“Aku hormati prinsip hidupmu. Pendirianmu, dan apa namanya lagi. Ternyata jalan pikiranmu sempit. Kau hanya memikirkan cintamu pada suamimu, bukan pada anakmu. Besok aku akan menikah.”

Lalu keduanya dalam suasana diam. Pikiran Maya tetap kacau.

Sebelum pulang, Debur mendonorkan darahnya untuk Sheila karena golongan darahnya sama-sama A. Debur juga menanggung segala biaya rumah sakit Sheila sampai sembuh. Ia menitipkan uang kepada salah seorang suster.

Galau Maya mengantarkan cinta Debur berlabuh di dermaga seorang dara; lebih cantik dan lebih muda…


Pasongsongan, 17/2/2020

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Observasi Karakter Pancasila di SDN Padangdangan 2

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III

SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Siap Berlaga di Olimpiade PAI Jawa Timur