Persembunyian Rindu
Pentigraf: Yant Kaiy
Persembunyian demi persembunyian setiap waktu telah melukai
hatiku dari kejaran mereka yang mau menghempaskan harapan diantara banyak
impianku. Mereka terus berupaya untuk mendapatkan kepingan kisah tentang masa lampauku
bersama Fiza. Tiapkali kami terdesak, dengan sendirinya kami menghindar dan
menghindar dari dengki mereka yang tak mau menyaksikan kami berhasil mencapai
batas cinta sesungguhnya.
Sebagai dara cantik, seksi, supel, dan anggun dalam
penampilannya akan membuat mata mereka hanyut ke puncak hasrat. Tentu mereka
akan melukai Fiza seperti kisah asmara dalam sinetron. Sedangkan Fiza sendiri
tak mau berpaling kerinduannya terhadapku. Ikrar setia kadang berubah kiblat
bila jurus dan siasat busuk terhampar. Aku sudah mempersiapkan taktik sebagai
penyeimbang dalam mengalahkan persaingan dengan mereka. Beberapa bulan lalu aku
pernah mengungkapkan bahasa hati kepadanya, tentang ketakutan-katakutanku pada
mereka. Sampai akhirnya Fiza percaya kalau purnama akan muncul setelah gelap
semesta.
Kini persembunyianku telah berakhir, ketika malam mulai
merangkak di bukit-bukit hijau. Kami merasakan betapa kerinduan sangat indah.
Sebab tantangan menjadikan kami kian dewasa menatap masa depan. Akhirnya mereka
tidak mengejarku lagi ketika janur kuning telah melambai-melambai diantara doa
restu kedua orang tua kami. Mereka pun mengiringiku tatkala kami menuju mimbar
kehormatan; pelaminan. Tidak ada yang bisa lagi menghalangi kami. Kecuali
takdir.
Pasongsongan, 19/2/2020