Pelarian Cinta
Pentigraf: Yant Kaiy
Telah kudapatkan cinta sesungguhnya dari gadis setia. Sudah
sekian banyak dara yang pernah menghiasi hari-hariku, tapi tak seperti dia. Tak
mungkin lagi kuterbang ke lain hati. Najma memenuhi segala hasratku dalam bercinta.
Akhirnya kami harus mengembara meninggalkan kedua orang tua. Najma gadis
berdarah biru tak mendapat restu dari orang yang melahirkan dan membesarkannya.
Ia lebih memilih cintanya, bersamaku.
Orang tuaku memberi jalan terbaik bagi cinta kami dengan
syarat membawanya pergi jauh. Kami mencium kaki mereka berdua, telah memberi
doa restu pada perjalanan asmara penuh liku. Kami berlinang air mata di
pertaruhan cinta sesungguhnya. Semua bahaya menjadi tanggunganku. Kepada Tuhan
aku memohon ampunan telah memutus jalinan cinta-kasih Najma, walau bukan aku
yang membakar api perpecahan keluarganya.
Kini kami sudah punya dua putri cantik di perantauan negeri
orang. Ada animo untuk kembali kepada mereka, tapi Najma tetap bertahan dalam
hempasan rindu terhadap mereka. Aku pun tak bisa memaksa. Aku tahu kalau yang
membolak-balikkan hati itu hanya Tuhan. Manusia hanya bisa berikhtiar,
ketentuan dari Sang Khalik. Hanya dengan berserah diri hati menjadi tentram,
ini yang bisa kulakukan sekarang. Entah nanti apalagi.
Pasongsongan, 24/2/2020