Pada Gelap Malam
Pentigraf: Yant Kaiy
Pengembaraan di bumi Kalimantan Tengah menetaskan perenungan
mendalam di batin ini. Aku berkenalan dengan Endang, seorang gadis bermata
tajam, berambut ikal. Awal persahabatan mencairkan cinta sejati diantara gelap
hatiku. Kami tak bisa membendung hasrat diri yang haus asmara. Tak pernah
terlintas dalam benakku tentang akhir dari perjalanan cinta kami. Yang kami
pikirkan tentang nikmat hidup sebagai insan lemah. Kami mabuk cinta sehingga
terbuai tanpa bertepi lagi.
Suatu ketika pria berkumis tebal datang ke pondokan kami di
tengah rimbunnya pohon sawit. Dia bilang sebagai suami Endang. Akhirnya aku
bermalam di pondokan teman. Mengalah dan penasaran karena Endang tidak
bercerita kalau punya suami. Hanya tiga hari pria itu tidur bersamanya. Lalu
pergi.
Aku memarahi Endang habis-habisan. Dia hanya berlinang air
mata, selebihnya permohonan maaf terlontar dari bibirnya. Ketika aku membuat keputusan
kalau akan berpisah selamanya, Endang memegang kakiku. Dia berucap kalau sudah
hamil tiga bulan lebih. Astaga! Anakku ada di rahimmu, Endang?!
Pasongsongan, 25/2/2020