Nora

Hasil gambar untuk gambar hitam putih artis india berambut pendek
Cerpen: Yant Kaiy

Matanya bersinar bagai bintang kejora. Bibirnya ranum tanpa gincu. Di pipinya ada lesung pipit menghias senyumnya. Rambutnya lurus sebahu. Di dadanya bertuliskan nama kafe. Suaranya lembut bila menyanyikan lagu India. Lagu-lagu India yang hits dibawakannya dengan fasih olehnya.

Aku selalu menikmati suaranya bila ke kafe. Aku merasa nyaman berada di kafe tempat dia bekerja. Setiap malam Minggu aku mengisi acara dengan nongkrong di kafe karena aku masih belum punya pacar.

Aku bekerja di salah satu agen penjualan tiket di terminal bis antar kota dan antar provinsi. Dan aku masih dua bulan kurang tujuh hari berada di kota kecil ini. Jadi aku ke kafe tanpa seorang teman.

“Kok sendirian terus?”
“Ya, seperti yang kau lihat,” ujarku agar tertahan.
“Boleh aku temani? Atau mungkin lagi nunggu seseorang?”
“Nggak. Silakan!” ujarku berdiri sambil memesan minuman dan makanan.
“Masih baru tinggal di sini?”
“Ya.”

Pelayan kafe datang membawa pesanan. Lalu aku mempersilakan. Lalu aku bercerita tentang siapa aku apa adanya.

“Aku senang berkenalan denganmu, Mas…”
“Debur. Namaku Debur,” sahutku spontan karena kalimatnya sempat tertahan beberapa detik
“Mas Debur,” pintasnya dengan senyum mengembang.
Aku acungkan jempol.
“Namaku Nora. Aku asli dari kota ini,” lanjutnya santai.

Kami berjabat tangan seiring suara biduanita terus mengalun, menghiasi perkenalan kami.
Malam Minggu berikutnya aku ke kafe. Di tempat duduk yang sama aku kembali ditemani oleh Nora. Kami mulai saling bercerita tentang kepribadian masing-masing.

Minggu kelima pertemuan kami di kafe.

“Kok agak malam?”
“Ban sepeda motorku tadi bocor.”
“Kirain tak datang.”
“Sepertinya kalau gak ketemu kamu, aku jadi kurang enak badan, Nor.”

Nora tersenyum. Senyum yang susah aku jabarkan maknanya. Senyum yang senantiasa menghias lamunanku sebelum tidur.

“Aku selalu merindukanmu,” ungkapku jujur dengan jantung berdegub kencang.
Aku tatap wajahnya, mencari kepastian.
“Bagaimana, Nor?” desakku sudah tidak sabar.
“Aku terima cintamu, Mas Debur. Tapi…”
“Tapi kenapa?”
“Tapi apakah kamu akan tetap mencintaiku, kalau aku  adalah seorang…”

Ucapannya tercekat. Pandangan mata kami bertabrakan. Segera Nora melempar pandangannya ke arah lain.

“Emangnya ada apa, Nora?”
“Statusku, Mas,” suaranya hampir tidak terdengar.
“Kenapa dengan statusmu?”
“Aku janda.”
“Aku tetap cinta.”
“Walau sudah punya anak satu?”
“Ya.”

Kami pulang dengan mengendarai sepeda motor, menembus malam. Nora kini tidak ragu lagi untuk memelukku dari belakang.


Pasongsongan, 9/2/2020

Postingan populer dari blog ini

Siswa SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Berhasil Tembus Semifinal Olimpiade PAI Jatim 2026

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III

Klinik Ar-Rahman Pasongsongan Sumenep: Pelayanan Prima yang Memuaskan Warga