Luka Sejarah
Pentigraf: Yant Kaiy
Meninggalkannya disaat kemarau mulai menyapu bumi kami
adalah kepahitan bagi mereka. Walau mereka seringkali menatap kami penuh
curiga. Seolah-olah kamilah orang paling berdosa diantara sekian ribu pemilik
sejarah tokoh penting di satu kecamatan. Tak pernah terlintas jika mereka akan
membuat perhitungan untuk mengucilkanku. Sebab mereka bukan orang sembarangan.
Mereka bukan tidak tahu etika, namun mereka lebih mengedepankan akal dari pada
satu kebijaksanaan.
Bagiku itu tak mengapa. Biarlah aku jadi pelita yang mampu
menerangi kegelapan dikala mereka sudah tidak tahu arah jalan pulang. Biarlah
aku terlempar dari kumpulannya, namun napas tetap menyatu pada pikiran waras. Setelah
itu mereka menyumpahiku: Terkutuklah kamu! Jahanam… Memang dia pikir nasab akan
menolongnya dari api neraka. Memang Adakah ayat Al-Qur’an dan hadist nabi yang
menjelaskan tentang keturunan orang terbaik di alam jagad ini dijamin masuk
surga? Sungguh keterlaluan.
Gila benar mereka akan gelar keturunan. Aku melihat mereka
seperti orang lagi kesurupan. Meniti hari-harinya penuh bualan dan egosentris
kebablasan. Aku sempat kasihan pada mereka. Tapi kami tidak bisa mengangkisnya
lagi. Sebab dosa dan air mata milikku sendiri. Kemajuan Islam bukan hasil sim
salabim abrakadabra. Cahaya Islam bersinar karena akhlak baik manusia itu
sendiri.
Pasongsongan, 21/2/2020