Kisah Pemimpin Perempuan
Pentigraf: Yant Kaiy
Ketika berorasi dalam kampanye, ia menegaskan bahwa
hidup-matinya hanya untuk rakyat. Dia siap melayani kepentingan rakyat jelata
sebagaimana orang tua menjadi pelayan bagi anak-anaknya. Sangat meniscaya iming-imingnya
di tengah kehidupan masyarakat yang tidak lagi percaya terhadap para
pemimpinnya. Mereka muak dengan janji-janji palsu. Seperti yang terjadi
sebelum-sebelumnya, semua gombal.
Namun ketimbang tidak ada pemimpin lebih baik ada. Maka
seorang calon pemimipin harus mempersiapkan amunisi untuk menjungkalkan para
rivalnya. Dia terpilih karena money politic, ujar banyak temanku. Apa pun kata
mereka, dia mendapat suara terbanyak dan resmi jadi pemimpin baru. Pesta
kemenangan pun digelar sangat mewah dengan mengundang orang-orang penting di
luar daerah kekuasaannya. Tim sukses yang dibentuknya memberikan tepuk tangan
dan sorak-sorai. Tak ada kaum jelata bisa masuk ke lokasi itu.
Roda kepemimpinannya ternyata tidak sesuai harapan. Mereka
kecewa sama dia karena tak sanggup mengimplementasikan konsep yang pernah
dihajatkan. Ia terjerat beberapa kepentingan para koleganya. Walau nurani dia
bersih, tapi ada orang lain di balik kesuksesannya. Inilah trend pemimpin masa
kini. Atau mungkin masa nanti?
Pasongsongan,23/2/2020