Kebal Wajah

apoymadura.yant-kaiy/artis india jennifer winget


Pentigraf: Yant Kaiy

Sudah tak kurasakan lagi sakit hati akibat fitnah mereka yang bertubi-tubi menyerang. Telah berlalu cemooh yang senantiasa mengepung semua perilaku dan gerak-langkahku. Tak kuhiraukan lagi segala bentuk sindiran, umpatan, dan semacamnya terhadap kehidupan jalinan cintaku bersama Debur. Yang penting aku berjalan pada norma budaya dan agama serta tidak mengganggu kehidupan mereka. Kalaupun mereka terusik, aku tetap pada pendirian semula. Bahkan orang tua Debur tidak setuju kalau hubungan kami terus berlanjut sampai pelaminan. Masa bodoh…

Sebelumnya,  aku dan Debur tetap mesra. Kami satu sama lain saling membutuhkan. Tak terbayangkan bakal ada perpisahan diantara kami. Bagiku Debur lelaki penuh tanggung jawab, mandiri, teguh pada pendirian. Tak mudah terombang-ambing karena sebuah kesimpulan orang lain tentangku. Yang kutahu lagi, Debur penuh sikap toleran terhadap segala wujud perbedaan. Inilah yang paling kusuka.

Namun setelah perkawinan, Debur ternyata mulai terkontaminasi isu mereka. Dia mulai termakan beberapa keping sejarah masa lalu keluargaku. Dia terlena pada ocehan mereka, kepadaku Debur seperti orang tuli saja. Aku mulai menyadari, batu karang besar di tepi pantai saja bisa hancur karena setiap menit ia dihantam ombak. Apalagi hati yang tidak kebal karena egois, akan sangat mudah terjerumus pada jurang kehancuran cinta.

Pasongsongan, 27/2/2020



Komentar

Popular Posts

Dikasih Hati Minta Jantung: Noktah Sejarah Imigran Yaman dan Ulama Nusantara

NU Abu-Abu Soal Imigran Yaman, Diam yang Justru Menggelapkan Akal Sehat

Indonesia Milik Siapa? Anekdot Klaim Aulia Tarim dan Nasab yang Merasa Paling Berhak