Kampung Halaman
Pentigraf: Yant Kaiy
Setiapkali aku mengembara kemana saja, selalu kampung
halaman yang ada di benakku. Ya, adalah elegi rindu padanya tak punah dimakan
usia. Tentang masa kecil bermain bersama dengan teman. Bercanda sepuas hati melumatkan
gelisah. Menyingkirkan derita walau takkan pernah hilang selama desah napas
dikandung badan. Dan masih banyak lagi kisahku dalam memori otakku tersimpan.
Sebagian diantara mereka menganggapku cengeng,
kekanak-kanakan. Tapi harga diri seorang pejuang muda penuh manuver dan
inspiratif, bukan sebagai penjilat pantat penguasa desa, tiada harga sama
sekali. Bukan uang melainkan perhatian. Maka kutinggalkan kampung halaman penuh
sungai air mata bersama orang-orang tercinta. Tiada pembelaan dari mereka yang
kusebut “saudara”. Apalagi teman bermain yang justru menghujat, mencaci,
menginjak-injak wajah kami tiada ampun. Hingga kini ingatan-ingatan itu terus
menghias di dinding hati. Mungkin selamanya takkan pernah hilang.
Aku tidak dendam kepada mereka yang telah mengancam jiwa
kami dengan pedang terhunus di tangannya. Justru kami bangga menjadi pemenang
walau jauh dari kampung halaman. Tak ada seujung jarum pun di dasar hatiku
untuk sekadar melampiaskan lahar amarah. Batin ini tak peduli akan kisah mereka
yang menjadi otak kebiadaban kepada kami. Sebab aku juga akan menuju liang
lahat sebagai akhir pejalanan meninggalkan kampung halaman. Sudah cukup bagiku
punya anak-istri. Aku kini berjuang dengan mereka dan senantiasa tersenyum
menatap hari esok. Istri cantik hatinya, anak baik perilakunya.
Pasongsongan, 19/2/2020