Kampung Halaman

apoymadura.yant-kaiy/Rabi Pirzada

Pentigraf: Yant Kaiy

Setiapkali aku mengembara kemana saja, selalu kampung halaman yang ada di benakku. Ya, adalah elegi rindu padanya tak punah dimakan usia. Tentang masa kecil bermain bersama dengan teman. Bercanda sepuas hati melumatkan gelisah. Menyingkirkan derita walau takkan pernah hilang selama desah napas dikandung badan. Dan masih banyak lagi kisahku dalam memori otakku tersimpan.

Sebagian diantara mereka menganggapku cengeng, kekanak-kanakan. Tapi harga diri seorang pejuang muda penuh manuver dan inspiratif, bukan sebagai penjilat pantat penguasa desa, tiada harga sama sekali. Bukan uang melainkan perhatian. Maka kutinggalkan kampung halaman penuh sungai air mata bersama orang-orang tercinta. Tiada pembelaan dari mereka yang kusebut “saudara”. Apalagi teman bermain yang justru menghujat, mencaci, menginjak-injak wajah kami tiada ampun. Hingga kini ingatan-ingatan itu terus menghias di dinding hati. Mungkin selamanya takkan pernah hilang.

Aku tidak dendam kepada mereka yang telah mengancam jiwa kami dengan pedang terhunus di tangannya. Justru kami bangga menjadi pemenang walau jauh dari kampung halaman. Tak ada seujung jarum pun di dasar hatiku untuk sekadar melampiaskan lahar amarah. Batin ini tak peduli akan kisah mereka yang menjadi otak kebiadaban kepada kami. Sebab aku juga akan menuju liang lahat sebagai akhir pejalanan meninggalkan kampung halaman. Sudah cukup bagiku punya anak-istri. Aku kini berjuang dengan mereka dan senantiasa tersenyum menatap hari esok. Istri cantik hatinya, anak baik perilakunya.


Pasongsongan, 19/2/2020

Postingan populer dari blog ini

Siswa SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Berhasil Tembus Semifinal Olimpiade PAI Jatim 2026

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III