Ikhlas
Cerpen: Yant Kaiy
Saniman nama lelaki senja bertinggi badan kurang lebih 170
cm. Rambutnya sudah beruban. Sebagian gigi depannya ada yang tanggal. Selalu
mengenakan celana panjang dan topi kebanggaan bila ia berangkat ke sekolah.
Bukan mengajar, bukan PNS, tapi ia hanya membantu menyapu halaman sekolah.
Tidak ada yang mengangkat dan menyuruh dia. Semua dia
lakukan atas inisiatif sendiri. Ia juga tidak mendapat bayaran atas
pekerjaannya itu. Namun kepala sekolah memberikannya uang rokok ala kadarnya
sebesar Rp 50.000,- tiap bulan.
Kebanyakan orang-orang di kampung saya menganggap Saniman
sakit pikiran. Bahkan ada yang menyebutnya gila. Tapi ia pulang ke rumahnya
tidak keliru. Bahkan ia juga melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim,
shalat lima waktu sehari-semalam.
Saniman muda dulu pernah menjadi bilal shalat jum’at. Ia
pandai mengaji. Suaranya lumayan bagus bila adzan di mesjid. Tapi akhir-akhir
ini Saniman tidak diperkenankan lagi oleh beberapa pengurus takmir mesjid,
alasannya yaitu takut kumat gilanya.
Seperti hari-hari biasanya, sebelum matahari terbit Saniman
sudah pulang dari menyabit rumput. Ada sepasang sapi yang harus dikasih makan
olehnya, karena istrinya sudah menikah dengan lelaki lain. Anaknya juga ikut
istrinya, tidak bersamanya. Jadi Saniman hidup seorang diri.
Saniman bergegas
mandi. Ia segera berangkat ke sekolah terburu-buru.
“Sudah selesai menyapunya, Pak?” sapa saya ketika Saniman
duduk di bangku beton yang ada di halaman sekolah.
“Sudah. Seperti yang kamu lihat.”
Saniman menyulut sebatang rokok. Asap nikotin itu menghias
udara di sekitar wajahnya. Murid-murid sebagian ada yang datang. Saniman yang
memegang kunci pintu semua ruang kelas dan kantor.
Setelah itu Saniman membuatkan kopi untuk semua guru.
Kemudian ia kembali duduk di tempatku.
“Ngapain kamu ke sini?”
“Minta legalisir ijasah,” terangku sambil menunjukkan map.
Ia kembali mengisap rokoknya. Mimik wajahnya hambar. Sulit
saya membaca arah sikapnya yang berganti-ganti.
“Emangnya cukup kerja di sini, Pak?”
“Alhamdulillah.”
“Katanya hanya dibayar Rp 50.000,- sebulan. Sedangkan rokok
sampeyan harganya Rp 6.000,- per bungkus. Berarti…”
“Yang penting kerja, Nak. Bayaran kita minta sama Allah
kalau kurang.”
Duh, Gusti… Pikirannya sederhana. Tapi keimanannya mantap
betul.
Pasongsongan, 11/2/2020