Dosanya Bukan Salahmu

Hasil gambar untuk Artis pakistan hitam putih
Cerpen: Yant Kaiy

Debur menatap wajah kekasihnya penuh harap. Ada segunung kecewa membumi-hanguskan impian masa depannya. Seluas lautan penyesalan tergambar dari parasnya. Dan entah apa lagi yang bisa Debur lukiskan tentang perasaan kekasihnya saat ini.

Sepasang kekasih itu tak banyak bicara. Hanya air mata Siska semenjak mulai kemarin terus membanjir di pipinya. Sungguh sebuah penderitaan mengguncang batinnya. Kekecewaan yang meruah yang mungkin kelak akan dikenang oleh banyak orang.

Kini nama besar keluarganya hancur tak berbentuk lagi. Satu kesalahan telah menghapus  berjuta kebaikan yang telah lama dibangun.

“Kau boleh tak percaya padaku, Sis! Tapi cintaku tetap padamu. Ikrarku dulu takkan berubah karena satu badai dosa. Atas nama Tuhan aku mengatakan, kalau aku akan tetap menikahimu. Aku akan hidup bersamamu sampai akhir hayat. Aku takkan tergoda oleh semua yang telah kau alami dan keluargamu. Semua itu bagian dari cobaan Tuhan bagi kita,”  tegas Debur untuk kesekian kalinya.

Tapi sikap Siska tetap tidak berubah. Pikirannya menerawang jauh, mengembara tak tentu rimba. Pandang matanya kosong. Terlihat jelas kelopak mata Siska membengkak karena banyak menangis.

“Kau percaya padaku?”
Debur mendesaknya. Lelaki berhidung mancung itu pindah tempat duduknya ke sisi sebelah kanan Siska.
“Entahlah.”
“Tapi kau mendengar ucapanku.”
Siska membiarkan tangannya dipegang Debur.
“Ya.”

Debur tersenyum, menumbuhkan harapan agar tidak terus tenggelam di jurang duka semakin dalam.
“Orang tuaku besok akan ke sini, Sis…”
“Untuk apa?”
“Merencanakan pernikahan kita.”
“Secepat ini?”
“Kau keberatan?”

Siska tidak menjawabnya. Ia menarik napas, berusaha tegar tapi itu tak mampu mengembalikan keceriaannya, seperti setiap hari ia senantiasa menebarkan senyum kepada siapa saja.

“Tapi ayahku. Tak lengkap rasanya tanpa beliau. Mungkin bagimu…”
“Maksud kami agar ikatan keluarga kita ada kepastian,”  potong Debur tanpa ampun.
“Aku mengerti.”
“Lantas gimana enaknya?”
“Tunggu situasi tenang keluarga kami dulu.”
“Baiklah kalau itu yang kau mau. Tapi keluargaku besok akan ke sini dalam rangka silaturrahmi saja.”
“Terima kasih pengertiannya, Bur!”

Kepala Siska disandarkan ke dada Debur. Ada gairah yang sulit digambarkan di tengah hancur hatinya.
Ayah Siska tertangkap tangan ketika KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mengadakan OTT (Operasi Tangkap Tangan) di kantornya. Semua media massa, baik cetak dan elektronik, menempatkan berita ayah Siska di halaman utama.


Pasongsongan, 10/2/2020

Postingan populer dari blog ini

Siswa SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Berhasil Tembus Semifinal Olimpiade PAI Jatim 2026

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III