Asa yang Terpenggal

Hasil gambar untuk gambar kartun guru mengajar hitam putih




Cerpen: Yant Kaiy

Impian hidup nyaman dengan serba kecukupan adalah dambaan setian insan di atas muka bumi ini. Tak terkuecuali Debur (nama samaran). Ia adalah guru honorer di sebuah Sekolah Dasar Negeri di Kota Keris Sumenep. Debur telah lebih lima belas tahun mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan anak bangsa.

Ia bahu-membahu mencurahkan segala kompetensinya dengan semua guru yang ada di situ. Debur tulus mengemban misi mulia (yang tak menyebabkan kaya harta). Mungkin setulus ayahnya menjadi guru honorer, dan ayah Debur berhenti karena usianya sudah lebih 65 tahun.

Debur memulai karier mengajarnya sebelum menyelesaikan pendidikan sarjananya. Ia menggantikan orang tuanya yang juga jadi guru honorer di tempatnya mengajar.

Namun ketika seleksi CPNS 2019 kemarin, Debur harus gigit jari karena usianya sudah lebih tiga puluh lima tahun. Akhirnya ketulusan Debur berganti abu-abu warnanya. Ia berada di tengah persimpangan. Ia mulai merangkai impian lain yang bisa mengangkis perekonomian rumah tangganya. Sebab Debur sudah punya anak dua. Sebentar lagi istrinya akan melahirkan anak ketiganya.

Debur mulai kepincut akan teman-teman sepermainannya yang sukses merantau. Sebagian besar mereka bisa membangun rumah masa depan. Membeli perabotan elektronik untuk rumah barunya. Bahkan ada beberapa temannya yang sudah memiliki kendaraan pribadi. Padahal rata-rata dari mereka hanya tamatan SMP.

Debur mulai meneteskan air mata mengenang perjalanan hidup yang dilaluinya. Perjalanan berliku dan terjal.
Kini hanya tinggal keping-keping sesal berserakan. Tak ada yang bisa memungut kepingan sesal itu dari jalannya. Debur terjebak dalam perangkap impian yang dibuatnya sendiri.

“Pak Debur mau merantau ke mana?” tanya Kepala Sekolah ketika Debur mengajukan permohonan untuk berhenti mengajar dalam waktu tak terbatas.
“Insya Allah ke Bali, Pak!”

Kepala Sekolah yang usianya lebih tua 7 tahun darinya menatap Debur dengan dalam.
“Kerja apa?”
“Rencananya toko, Pak Kepsek.”
“Kok rencananya?”
Debur menghela napas.

“Begini, Pak. Tetangga saya punya toko yang kebetulan penjaganya pulang karena sakit. Nanti kalau ada pekerjaan lain yang memberikan hasil lebih banyak, mungkin saya harus pindah,” terang Debur selanjutnya.
“Kamu yakin sukses?”
“Doakan, Pak Kepsek!”
“Pasti. Selamat jalan!”

Debur pun berlalu dari sekolah tempatnya mengajar. Menjemput impian.

Pasongsongan, 9/2/2020



Postingan populer dari blog ini

Siswa SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Berhasil Tembus Semifinal Olimpiade PAI Jatim 2026

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III

Klinik Ar-Rahman Pasongsongan Sumenep: Pelayanan Prima yang Memuaskan Warga