Makam Sayyid Yusuf Talango

Opini: Yant Kaiy
Sekitar tahun 1996, ketika saya
menjadi redaktur di salah satu koran harian pagi di Jakarta Selatan, saya punya
teman penyanyi cowok berasal dari Kota Bandar Lampung. Dia bercerita kalau pernah
ke Kabupaten Sumenep, berziarah kubur ke makam Sayyid Yusuf di Pulau Talango Sumenep.
Tidak hanya sekali, tapi sudah menjadi agenda tahunan. Dia mengilustrasikan
suasana kuburan Sayyid Yusuf Talango-Sumenep cukup detail kepada saya.
Sontak saya menjadi malu dibuatnya.
Sebagai orang kelahiran Sumenep tidak tahu keberadaan makam yang ditemukan oleh
Raja Sumenep Sri Sultan Abdurrahman Pangkutaningrat pada tahun 1212 Hijriah
ini. Saya katakan sebenarnya kalau tempat tinggal saya berjarak 60 km ke
kuburan Sayyid Yusuf, yaitu Kecamatan Pasongsongan-Sumenep.
Anak Bandar Lampung ini pernah
mengimpikan kalau suatu saat nanti akan ada jembatan yang menghubungkan
Pelabuhan Kalianget dengan Pulau Talango. Menurutnya biar masyarakat yang
berziarah dari luar kota tidak “jera” mengunjunginya kembali. Kalau bisa mudah
berziarah kan lebih enak, ujarnya kepada saya di kantor redaksi 23 tahun silam.
Lain cerita cowok Bandar Lampung
yang membikin saya jadi malu, pada tahun 1998 saya ikut artis penyanyi dan
pencipta lagu ke Rangkasbitung. Orang tua artis itu bertanya tentang kuburan
Sayyid Yusuf kepada saya. Ketika itu sebelumnya saya sudah pernah ke Pulau
Talango-Sumenep, jadi saya lancar saja ketika ia tanya ini dan itu.
Dia beropini, kalau saja ada
jembatan penghubung Pelabuhan Kalianget dan Pulau Talango tentu masyarakatnya
akan sejahtera. Pemerintah Daerah pun akan memetik hasilnya, imbuhnya sambil
menghidangkan kopi hangat kapada saya. Orang tua artis itu bercerita, kalau ia
dan rombongan setelah ziarah walisongo biasanya ditutup dengan ziarah ke Sayyid
Yusuf di Pulau Madura. Saya menghitung pertemuan itu sudah 21 tahun yang lalu.
Jujur saja, sebenarnya saya
sangat bangga Pulau Talango menjadi destinasi wisata religi utama selain Asta
Tinggi, tempat makam para Raja Sumenep. Terlepas dari pro-kontra tentang
pembangunan jembatan penghubung tersebut, saya ketika hari Selasa (12/11/2019)
kemarin ziarah kubur ke Sayyid Yusuf, saya pun sempat mengimpikan jembatan
penghubung itu. Karena harus berdesak-desakan dengan penumpang kapal
penyeberangan karena hanya satu kapal yang beroperasi.
Kalau orang Bandar Lampung dan
Rangkasbitung teman saya saja ikut peduli, masak orang Sumenep tidak lebih dari
mereka rasa pedulinya. Lantas bagaimana dengan Pemkab Sumenep?