Rabu, 11 Juni 2025

Sumenep, Kota KerisšŸ”„ Kebanggaan Dunia yang Harus Kita JagašŸ‡²šŸ‡Ø

Kota keris Sumenep

Kabupaten Sumenep dikenal sebagai salah satu wilayah di Madura sebagai "Kota Keris" - sebuah gelar yang diakui UNESCO karena memiliki pengrajin keris terbanyak di dunia. 

Adalah Desa Aeng Tong-Tong menjadi bukti nyata, dengan puluhan empu keris yang menjaga warisan budaya ini tetap hidup. 

Ini bukan sekadar klaim sepihak, tapi fakta yang membanggakan!

Sumenep, Pusatnya Keris

Bicara tentang keris, Sumenep adalah episentrumnya. 

Tidak hanya dari segi kuantitas, tapi juga kualitas. 

Para empu disini bukan hanya membuat keris sebagai benda pusaka, tapi juga sebagai mahakarya seni mengagumkan. 

Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3, Pasongsongan, tentu bangga karena Sumenep jadi rumah bagi para pembuat keris yang diakui dunia.

Berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang mulai kehilangan perajin tradisional, Sumenep justru menjadi contoh nyata pelestarian budaya. 

UNESCO tidak salah memilih, keris Sumenep adalah warisan budaya tak benda yang hidup dan terus berkembang.

Keris Sumenep Tak Pernah Padam

Kekhawatiran akan punahnya generasi penerus empu keris memang ada, tapi Sumenep membuktikan bahwa tradisi ini tetap bertahan. 

Banyak anak muda yang masih belajar membuat keris, melanjutkan estafet keahlian dari para pendahulunya. 

Inilah bukti bahwa budaya keris bukan sekadar nostalgia, tapi identitas yang terus dirawat.

Pemerintah daerah juga turut mendukung dengan mengembangkan desa keris sebagai destinasi wisata budaya. 

Pengunjung tidak hanya melihat proses pembuatan keris, tetapi juga belajar tentang nilai sejarah dan filosofinya. Ini langkah nyata untuk menjadikan keris sebagai kebanggaan yang mendunia. [Surya]

Selasa, 10 Juni 2025

Kota Keris Sumenep: Pusat Warisan Budaya Keris Terbesar di DuniašŸ”„

Kota keris Sumenep

Kabupaten Sumenep di Pulau Madura, Jawa Timur, telah lama menyandang julukan "Kota Keris" lantaran jadi pusat pembuatan keris dengan jumlah pengrajin terbanyak di dunia. 

Pengakuan ini diperkuat oleh UNESCO, yang mencatat Sumenep sebagai wilayah dengan empu (pandai keris) dan pengrajin keris dalam jumlah paling besar. 

Salah satu daerah terkenal yakni Desa Aeng Tong-Tong, yang dijuluki sebagai "kampung empu keris terbanyak di dunia".

Warisan Budaya Diakui UNESCO

Keris bukan sekadar senjata tradisional, melainkan juga simbol budaya dan spiritual yang telah diakui UNESCO sejak 2005. 

Sumenep memegang peran penting dalam melestarikan tradisi ini, dengan ratusan pengrajin yang masih aktif membuat keris secara turun-temurun.

Menurut Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3, Pasongsongan, Sumenep, keris merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Madura. 

"Di Sumenep, keris bukan hanya senjata, tapi juga warisan leluhur yang mengandung nilai filosofis tinggi. Banyak empu di sini yang masih mempertahankan teknik pembuatan keris tradisional," ujarnya.

Kampung Empu Keris

Desa Aeng Tong-Tong jadi pusat kerajinan keris Sumenep, dengan puluhan empu yang menghasilkan keris berkualitas tinggi. 

Proses pembuatan keris di sini masih menggunakan metode tradisional, mulai dari pemilihan bahan besi dan pamor (logam hias) hingga ritual spiritual yang menyertainya. [Surya]

Keris Sumenep‼️ Simbol Perlawanan, Keberanian, dan Kearifan Budaya MadurašŸ”„

Kota keris Sumenep

Kabupaten Sumenep, tidak hanya dikenal budayanya, tapi juga sebagai "Kota Keris" - sebuah julukan yang pantas disandang mengingat daerah ini memiliki pengrajin keris (empu) terbanyak di dunia. 

Bahkan, UNESCO mengakui Sumenep sebagai pusat produksi keris dengan jumlah empu terbanyak dengan kualitas keris yang luar biasa. 

Salah satu buktinya adalah Desa Aeng Tong-Tong, dijuluki sebagai kampung pengrajin keris dengan empu terbanyak di dunia. 

Namun, lebih dari sekadar senjata atau benda pusaka, keris (dalam bahasa Madura disebut kerres) memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Sumenep.

Sebagai Simbol Perlindungan dan Ketahanan

Menurut Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3 Pasongsongan, kerres dalam bahasa Madura memiliki tiga makna utama:

1. Ngeker ma’ ta' lares: Keris yang mampu menolak segala ancaman bahaya.

2. Ngeker ma’ ta’ keres: Keris yang membuat pemiliknya menjadi lebih berani.

3. Ngeker ma’ lares: Keris yang mendatangkan kebaikan.

Kata ngeker sendiri berarti "menahan" atau "mengekang hawa nafsu," menunjukkan bahwa keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata fisik, tapi juga sebagai simbol pengendalian diri. 

Dalam budaya Madura, keris dianggap sebagai pelindung sekaligus penjaga moral pemiliknya.

Keris dalam Kehidupan Sosial

Bagi masyarakat Sumenep, keris bukan sekadar benda mati, melainkan benda yang dianggap memiliki keistimewaan tersendiri. 

Proses pembuatan keris pun sarat dengan ritual spiritual, mulai dari pemilihan hari baik, mencakup pengendalian diri, menahan hawa nafsu, dan berupaya mendekatkan diri sang empu kepada Tuhan. 

Hal ini menunjukkan bahwa keris tidak hanya dinilai dari keindahan dhohirnya, tapi juga dari nilai spiritual yang melekat padanya.

Selain itu, keris juga menjadi simbol status sosial. 

Pada masa lalu, keris tertentu hanya boleh dimiliki oleh kalangan bangsawan atau pemimpin masyarakat. 

Tapi kini keris telah jadi warisan budaya yang bisa dimiliki siapa saja, selama dirawat dengan baik dan dihormati sesuai tradisi.

Pelestari Keris Dunia

Dengan banyaknya empu keris yang masih aktif hingga saat ini, Sumenep telah jadi benteng terakhir pelestarian tradisi pembuatan keris secara tradisional. 

UNESCO mencatat bahwa teknik pembuatan keris di Sumenep masih mengikuti metode kuno, mulai dari teknik pamor (pola logam) hingga proses pendharingan (penempaan) yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Akan tetapi, di tengah gempuran modernisasi, generasi muda Madura mulai jarang tertarik untuk mempelajari seni pembuatan keris. 

Jika tidak ada upaya serius untuk melestarikannya, bukan tidak mungkin suatu saat tradisi ini akan punah. 

Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata dari pemerintah dan masyarakat untuk mendorong regenerasi empu keris, misalnya dengan pengintegrasian pengetahuan keris ke dalam kurikulum lokal.

Semoga keris Sumenep tetap abadi, bukan hanya di museum, tapi juga dalam jiwa generasi penerus bangsa. [Surya]

Senin, 09 Juni 2025

Kerres dalam Budaya Madura: Senjata, Filosofi, dan Identitas KulturalšŸ”„

Kota keris Sumenep

Di tengah modernisasi yang kian pesat, kerres (keris Madura) tetap jadi simbol budaya yang tak tergantikan bagi masyarakat Sumenep Madura. 

Lebih dari sekadar senjata tradisional, kerres menyimpan filosofi hidup yang dalam, sebagaimana diungkapkan oleh Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3 Pasongsongan, Sumenep. 

Melalui tiga makna dasarnya, ngeker ma’ ta' lares, ngeker ma’ ta’ keres, dan ngeker ma’ lares - semua jadi cerminan nilai-nilai luhur orang Madura.

1. Ngeker ma’ ta' lares: Perlindungan dari Ancaman

Makna pertama kerres adalah sebagai penolak bahaya (ngeker ma’ ta' lares). 

Dalam tradisi Madura, kerres diyakini memiliki kekuatan spiritual yang bisa melindungi pemiliknya dari marabahaya, baik yang kasat mata maupun tidak. 

Bagi masyarakat agraris dan pelaut Madura yang hidup di tengah kerasnya alam, kerres berfungsi sebagai penjaga; bukan hanya secara fisik, tapi juga psikologis. 

Ia menjadi simbol ketahanan dan kewaspadaan, mengingatkan pemiliknya untuk selalu waspada terhadap ancaman, tapi tetap bijaksana dalam menyikapinya.

2. Ngeker ma’ ta’ keres: Sumber Keberanian dan Harga Diri

Frasa ngeker ma’ ta’ keres menggambarkan kerres sebagai pemberi keberanian. 

Orang Madura terkenal dengan sikap kebal (berani) dan harga diri yang tinggi. 

Dalam konteks ini, kerres bukan alat untuk kekerasan, melainkan simbol keteguhan jiwa. 

Ketika seseorang membawa kerres, ia diingatkan untuk tidak mudah gentar, baik dalam menghadapi konflik maupun tekanan hidup. 

Tapi esensi sejatinya adalah keberanian untuk membela kebenaran, bukan sekadar kekerasan.

3. Ngeker ma’ lares: Pembawa Keseimbangan dan Kebaikan

Terakhir, ngeker ma’ lares menekankan kerres sebagai sarana kebaikan. 

Kerres Sumenep yang melambangkan harmoni antara kekuatan dan kebijaksanaan. 

Dalam ritual adat, seperti pernikahan atau penobatan, kerres sering digunakan sebagai simbol harapan akan kemakmuran dan kedamaian. 

Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati harus berujung pada kebaikan bersama.

Kerres sebagai warisan yang hidup di Sumenep - pusat pembuatan kerres tradisional - benda ini bukan sekadar aksesoris, melainkan jiwa budaya Madura. 

Sayangnya, di era globalisasi, pemahaman akan makna kerres kian memudar. 

Generasi muda perlu diajak kembali menggali filosofinya, agar tidak kehilangan identitas kultural. [Surya]

Minggu, 08 Juni 2025

Subsidi Upah Rp 600 Ribu: Solusi Cepat atau Ilusi Kesejahteraan Guru Honorer⁉️

Guru honorer

Dikutip dari beberapa media elektronik, pemerintah bakal menyalurkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) kepada guru honorer di bawah Kemdikdasmen dan Kemenag. 

Kebijakan ini patut diapresiasi sebagai langkah konkret dalam menjaga daya beli di tengah tekanan ekonomi. 

Kendati per penerima terbilang kecil, tapi bantuan ini menunjukkan upaya pemerintahan Presiden Prabowo untuk meringankan beban guru honorer. 

"Para guru honorer akan mendapatkan Rp 300 ribu per bulan untuk 2 bulan yaitu Rp 600 ribu. Bantuan diberikan untuk Juni dan Juli," ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Istana Negara, Senin (2/6/2025).

Langkah ini bertujuan memperbaiki kesejahteraan guru honorer, bukan sekadar bantuan temporer yang bersifat tambal sulam. [Surya]

Elpiji Langka, Pemerintah Tidur‼️Rakyat Sumenep Kembali ke Zaman Batu‼️

Elpiji di Sumenep langka

Seperti ritual tahunan yang tak pernah absen, kelangkaan elpiji kembali terjadi di beberapa kecamatan di Kabupaten Sumenep, tepat sebelum hingga sesudah Idul Adha 2025. 

Masyarakat urban mengeluh, harga gas naik, elpiji di banyak agen kosong. 

Tapi pemerintah? Diam. Seolah ini hanya sekadar "gangguan kecil" yang akan selesai dengan sendirinya.

Di kota-kota kecamatan, keluhan warga membanjiri media sosial. 

Harga elpiji 3 kg yang seharusnya jadi hak rakyat kecil melonjak harganya. 

Pedagang kaki lima, ibu-ibu rumah tangga, dan warung makan terpaksa merogoh kocek lebih dalam hanya untuk sekadar buat memasak. 

Tapi apa respons pemerintah? Janji kosong dan jargon "sedang diatasi".

Sementara itu, di pelosok desa, masyarakat sudah mengambil jalan pintas: Kembali ke kayu bakar! 

Ya, di era di Indonesia sudah mengklaim sebagai negara berkembang, sebagian warga Sumenep justru mundur ke belakang, mengais ranting dan memanfaatkan tungku tradisional karena elpiji langka. 

Ini bukan pilihan, tapi bentuk keputusasaan.

Setiap tahun masalah yang sama terulang. Setiap tahun pula, alasan yang sama dikeluarkan: "permintaan tinggi", "gangguan distribusi", atau "kendala teknis". 

Tapi anehnya, kelangkaan ini selalu terjadi tepat di momen-momen krusial; sebelum lebaran, hari raya. 

Apakah ini kebetulan? Atau ada permainan mafia elpiji yang sengaja membuat kelangkaan agar harga bisa didongkrak?

Pemerintah daerah dan pusat seolah tutup mata. Regulasi distribusi elpiji lemah, pengawasan minim, dan sanksi bagi pelaku penimbunan nyaris tak terdengar. 

Hasilnya? Rakyat kecil yang jadi korban.

Sekadar Pemanis Bibir?

Pemerintah kerap membanggakan program konversi minyak tanah ke elpiji sebagai "keberhasilan". 

Tapi apa artinya program itu jika pasokan tidak stabil dan harga tak terkendali? 

Alih-alih mempermudah hidup rakyat, kebijakan ini justru membebani.

Jika memang serius, pemerintah harus bertindak tegas pada kartel elpiji.

Jangan hanya razia kecil-kecilan, bongkar mafia yang bermain di balik kelangkaan.

Perbaiki sistem distribusi. Pastikan elpiji merata hingga pelosok desa, bukan hanya menumpuk di kota.

Kembali ke Kayu Bakar

Ketika warga terpaksa kembali ke kayu bakar, itu bukan sekadar masalah ekonomi, itu bukti kegagalan negara dalam menjamin kebutuhan dasar rakyatnya. 

Di era digital, di mana Indonesia gemar membanggakan pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur megah, masih ada masyarakat yang harus memilih antara beli elpiji atau makan.

Jika ini terus dibiarkan, jangan heran jika suatu hari nanti, rakyat tidak hanya mengeluh, tapi melawan. 

Karena kelangkaan elpiji bukan sekadar persoalan komoditas, namun cermin ketidakpedulian negara pada rakyatnya.

Pemerintah tidur, rakyat terjepit. Kapan mau bangun? [Surya]

Sabtu, 07 Juni 2025

Soal-soal ASAT Bahasa Madura Kelas 4 SD Lengkap Kunci JawabanšŸ”„

Bahasa madura untuk kelas 4 sd

Salam sataretanan kepada semua guru hebat dimana saja berada. 

Berikut ini redaksi apoymadura.com akan menyajikan soal-doal dan kunci jawaban Asesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT) untuk SD kelas 4.

Berri’i langkaleng (X) e horop a, b, c otaba d neng sala settong jawabhan se paleng bender !

1. “Pasera se meyos da’ dhalem epon Ke Suri?” Artena meyos .....

a. Mole

b. Entar

c. Seggut

d. Talebet

2. Ba’na kabbhi berka’ dhari dinna’ sampe’ ghan engghun dissa pas abali pole!  Engghun artena .......

a. Batas

b. Roma

c. Kennengngan

d. Geris

3. Oreng menangka katoronanna bangsa radin e jaman kraton ekoca’…….

a. Oreng pangraja              

b. Pansiun                  

c. Oreng parjaji           

d. Oreng dumi’        

4. Agus andhi’ ale’ tatello’. Okara kasebbut andhi’ arte Agus kabilang anak….

a. Bungso                

b. Dhangaso         

c. Sareang          

d. Pangadha’

5. Rahman ambu se ajikjik pas toju’ e lencak. Oca’ ajikjik padha artena ban oca’…..

a. Berka’na banget          

b. Ca’-lonca’an          

c. Ajalan nyorot              

d. Berka’ re-lere

6. Okara se agandhu’ katerranganna kennengan e baba reya iya areya….

a. Ale’ nompa’ sapedha onta              

b. Jumadi melle teote e barung         

c. Jumadi ngakan teote        

d. Jumadi gi’ buru reya semole

7. Daddi oreng kodhu lamba’. Oca’ lamba’ padha artena ban oca’……

a. Lecegan           

b. Bajeng 

c. Bangalan                 

d. Neserran 

8. Obe' Masturah so’onanna ce’ rajana. So’onan biasana esaba’ neng….

a. Lengngen

b. Bau    

c. Le’er     

d. Cethak

9. Anakna sapa ma’ ce’ tangarra?Oca’ petanya se badha neng okara e attas iya areya…..

a. Ana’na        

b. Sapa        

c. Ma’       

d. Ce’ tangara

10. Sabban are oreng parlo ngakan cem-macemma kakanan se agizi. Oca’ asal dhari kakanan e dhalem okara kasebbut iya areya….

a. Ngakan

b. Pakan

c. Kakan

d. Kan-ngakan

11. Karangan narasi se ta’ nyareta’agi kabadha’an sanyata enyamae careta….

a. Reka’an

b. Lecegan

c. Romansa

d. Pojiyan

12. Ka saba ngare’a padhi. Oca’ saba neng okara e attas daddi katerranganna….

a. Sepat

b. Bakto

c. Kennengan

d. Tabi’at

13. Daddi oreng kodhu lamba’. Oca’ lamba’ padha artena ban oca’……

a. Lecegan

b. Bajeng

c. Bangalan

d. Neserran

14. Melle sape ka pasar Daso’. Mon jawabba ka pasar Daso’, oca’ petanya seteppa’ iya areya….

a. Sapa

b. Dha’emma

c. Apa

d. Arapa

15. Anak sareang reya tabaligga anak….

a. Bungso

b. Dhangaso

c. Sareang

d. Pangadha’

16. Barungnga pas jujuk ka lorong. 

Oca’ jujuk padha artena ban oca’…..

a. Semma’

b. Erengnga

c. Loros

d. Jau

17. Jariya se mapalasdha nab-anaban. Oca’ mapalasdha padha artena ban oca’……..

a. Mapaddhang

b. Matera’

c. Mapetteng

d. Maperak

18. Ana'na sapa ma’ ce’ tangarra?Oca’ petanya se badha neng okara e attas iya areya…..

a. Ana’na

b. Sapa

c. Ma’

d. Ce’ tangara

19. Bungkana ngalarbat nalar kakaju laen. Dhaunna para’ padha’a ban sere. Mon abuwa apendha’an ban akorosan dhari garigi’. Rassana abak peddhes. Jariya seenyamai…

a. Cabbi sayur

b. Cabbi jamu

c. Cabbi lete’

d. Cabbi raja

20. Mon aguring teote biasana ngangguy pakakas….

a. Polo’

b. Sodu

c. Cobik

d. Bajan

21. Pajat oreng awal-juwal kodu nyare rammena oreng. Tabaliga oca’ rammena iya areya….

a. Engerra

b. Lerena

c. Santa’na

d. Baridhuna

22. Akantha kaprana e sabban arena Hasan lan-jalanan e baja laggu. Neng okara kasebbhut agandhu’ katerranganna bakto, iya areya e sabban arena ban…..

a. E baja laggu

b. Kapprana

c. Lan-jalanan

d. Jumadi

23. Madhura reya kalonta dhari bujana. Kalonta artena .......

a. Kaonar

b. Kaoncar

c. Kasohor

d. Kabbi bendher

24. Kaator da’ Pa’ Rasyad e Sempong Temor Disa Pasongsongan. Okara e attas neng sorat enyamae .........

a. Salam pamokka’      

b. Alamat sorat

c. Salam panotop      

d. Essena sorat    

25. Pa’ Rasyid ngastane ghuru. Ngastane artena  ..... .                          

a.  Ngalakone

b. Atane         

c. Ngajhar       

d. Dhaddhi

Kunci jawaban:

1.B       2.C       3.C       4.C       5.D     6.A       7.D       8.D       9.B       10.C     11.A     12.C    13.D     14.B     15.A     16.A     17.A    18.B      19.B     20.D     21.B     22.A     23.D     24.B     25.A

Bantuan Sepatu Olahraga dari Herbal Gondowangi Bondowoso untuk Semangat Belajar Siswa SDN Panaongan 3šŸ’„

Herbal Gondowangi bondowoso dan sdn Panaongan 3
Suriyanto (kiri) perwakilan Herbal Gondowangi dan Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3. [Foto: Surya]

SUMENEP - Semua orang tahu, bahwa pendidikan merupakan fondasi penting dalam membangun generasi berkualitas. Sabtu (7/6/2025). 

Tapi, di balik semangat belajar siswa, acapkali terdapat tantangan sederhana, seperti kurangnya perlengkapan sekolah yang memadai. 

Salah satunya adalah sepatu olahraga, yang mungkin dianggap sepele, tapi memiliki dampak besar bagi motivasi dan aktivitas fisik peserta didik.

SDN Panaongan 3 di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, baru saja menerima bantuan sepatu olahraga dari Herbal Gondowangi Bondowoso. 

Bantuan ini tidak hanya berupa materi, tapi juga bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan di daerah yang mungkin masih membutuhkan dukungan. 

Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan bantuan tersebut.

"Terima kasih buat Herbal Gondowangi Bondowoso, telah mempercayai sekolah kami sebagai penerima bantuan. Sepatu olahraga ini akan amat bermanfaat bagi siswa-siswi kami, terutama dalam mendukung kegiatan olahraga," ujar Agus Sugianto.

Suriyanto sebagai perwakilan yang menyalurkan bantuan ini, melihat bahwa SDN Panaongan 3 memang layak menerima bantuan tersebut. 

Sekolah ini memiliki semangat tinggi dalam mendidik anak-anak, meskipun dengan fasilitas yang terbatas. 

Bantuan sepatu olahraga ini tidak hanya membantu siswa beraktivitas dengan nyaman, tapi juga meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Pendidikan tidak hanya tentang akademik, tapi juga tentang menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan fisik dan mental siswa. 

Dengan bantuan ini, Herbal Gondowangi Bondowoso telah memberikan kontribusi nyata dalam memajukan pendidikan di daerah. 

Semoga inisiatif ini bisa menginspirasi banyak pihak untuk turut mendukung dunia pendidikan, karena tiap bantuan kecil bisa jadi langkah besar bagi masa depan anak-anak Indonesia. [Surya]

Jumat, 06 Juni 2025

Herbal Gondowangi Bondowoso Beri Bantuan Sepatu Olahraga ke Siswa SDN Panaongan 3 Sumenep yang Berlokasi di Desa TerpencilšŸ’„

Sdn panaongan 3 dan herbal Gondowangi
Dari kiri: Suriyanto perwakilan Herbal Gondowangi Bondowoso, dan Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3 Pasongsongan. [Foto: Surya]

SUMENEP -  Dalam upaya mendukung pendidikan di daerah pelosok, Herbal Gondowangi Bondowoso memberikan bantuan sepatu olahraga kepada peserta didik SDN Panaongan 3, yang berlokasi di kawasan terpencil Kecamatan Pasongsongan. Sabtu (7/6/2025). 

Sekolah ini berada di tengah wilayah pedesaan dengan mayoritas wali muridnya bekerja sebagai petani, sehingga bantuan ini sangat berarti bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas kepedulian Herbal Gondowangi Bondowoso.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan ini. Lokasi sekolah kami yang berada di pelosok dan kondisi ekonomi sebagian besar wali murid yang bergantung pada hasil pertanian membuat akses terhadap perlengkapan sekolah seperti sepatu olahraga menjadi tantangan tersendiri,” kata Agus Sugianto.

Ia menambahkan bahwa bantuan ini tidak hanya membantu siswa dalam kegiatan olahraga, tapi juga meringankan beban orang tua yang sehari-hari berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dari bertani.

Suriyanto, perwakilan Herbal Gondowangi Bondowoso menyatakan, bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung pendidikan di daerah yang membutuhkan.

“Kami memahami bahwa anak-anak di daerah pelosok seperti SDN Panaongan 3 sering kali menghadapi keterbatasan fasilitas. Melalui bantuan ini, kami berharap bisa memberi semangat lebih bagi mereka untuk aktif belajar dan berprestasi,” ujar Suriyanto. 

Kegiatan penyerahan bantuan berlangsung penuh kehangatan dan dihadiri oleh guru, siswa, serta perwakilan donatur. 

Bantuan ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan praktis, tapi juga jadi motivasi bagi siswa untuk terus bersemangat mengejar cita-cita meski berasal dari daerah terpencil. [Surya]

Herbal Gondowangi Bondowoso Berikan Bantuan Sepatu Olahraga untuk Siswa SDN Panaongan 3 SumenepšŸ”„

Sdn panaongan 3 kecamatan Pasongsongan
Suriyanto (tengah) perwakilan Herbal Gondowangi Bondowoso bersama guru dan siswa SDN Panaongan 3 Pasongsongan. [Foto: Surya]

SUMENEP - Sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan, Herbal Gondowangi Bondowoso memberikan bantuan sepatu olahraga kepada peserta didik SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Sabtu (7/6/2025). 

Bantuan ini diharapkan mampu memotivasi siswa untuk lebih semangat beraktivitas, khususnya dalam kegiatan olahraga.

Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan yang diberikan Herbal Gondowangi Bondowoso.

“Kami sangat berterima kasih kepada Herbal Gondowangi Bondowoso atas bantuan sepatu olahraga ini. Ini sangat berarti bagi anak-anak kami, terutama dalam mendukung kegiatan pembelajaran jasmani dan kesehatan,” ujar Agus Sugianto.

Ia juga menambahkan bahwa bantuan ini tidak hanya meringankan beban orang tua siswa, tapi juga meningkatkan semangat belajar dan berprestasi di sekolah.

Perwakilan Herbal Gondowangi Bondowoso menyatakan bahwa program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan untuk turut berkontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan.

“Kami berharap bantuan ini bisa bermanfaat bagi adik-adik siswa SDN Panaongan 3. Semoga mereka makin bersemangat dalam belajar dan berolahraga,” ujar Suriyanto, perwakilan Herbal Gondowangi.

Kegiatan penyerahan bantuan berlangsung dengan penuh kehangatan dan dihadiri oleh guru, siswa, serta perwakilan dari pihak donatur. 

Dengan adanya dukungan ini, diharapkan bisa memacu semangat siswa untuk meraih prestasi lebih baik lagi dimasa depan. [Surya]

Penyembelihan Hewan Qurban di Pendopo Therapy Banyu Urip Berlangsung LancaršŸ”„

Therapy Banyu Urip
Proses penyembelihan hewan qurban MS Arifin. [Foto: Surya]

SUMENEP - Dalam rangka merayakan Hari Raya Idul Adha 1446 H, kegiatan penyembelihan hewan qurban di Pendopo Therapy Banyu Urip, Desa/Kecamatan Pasongsongan, berjalan lancar dan penuh khidmat. Jumat (6/6/2025). 

MS Arifin, seorang dermawan kembali menunjukkan kepeduliannya menyembelih 3 ekor sapi dan 1 ekor kambing untuk dibagikan kepada masyarakat setempat.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, MS Arifin konsisten melaksanakan ibadah qurban sebagai bentuk rasa syukur dan kepedulian sosial. 

"Alhamdulillah, tahun ini kami bisa kembali berkurban dengan lancar. Semoga daging ini membawa kebahagiaan bagi yang menerima," ujar MS Arifin. 

Kegiatan ini juga melibatkan relawan setempat yang membantu proses penyembelihan, pemotongan, dan pendistribusian daging secara tertib.

Idul Adha tahun ini jatuh pada 10 Dzulhijjah 1446 H, bertepatan dengan 6 Juni 2025, dan menjadi momen penting bagi umat Islam dalam memperkuat nilai-nilai kepedulian dan keikhlasan. 

Penyembelihan hewan qurban di Pendopo Therapy Banyu Urip tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tapi juga jadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga.

"Kami sangat bersyukur dengan adanya qurban ini. Ini membantu keluarga kami merasakan kegembiraan Idul Adha," ungkap Muslim Tikam, salah seorang penerima manfaat.

Kegiatan ini juga diharapkan bisa memotivasi generasi muda untuk terus melanjutkan tradisi berbagi dalam semangat Idul Adha.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Pendopo Therapy Banyu Urip kembali membuktikan komitmennya dalam membangun kepedulian sosial dan keharmonisan masyarakat di Pasongsongan. [Surya]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...