Peduli Warisan Budaya, SDN Panaongan 3 Pasongsongan Luncurkan Program SAKOPENG
PASONGSONGAN – Setelah sukses membumikan tembang macapat, SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, kembali membuat gebrakan dalam pelestarian budaya lokal.
Memasuki Tahun Pelajaran 2026–2027, sekolah dasar ini resmi meluncurkan program intrakurikuler baru bernama SAKOPENG (Sakolaan Topeng).
Ketika diwawancarai di kediamannya, Kepala SDN Panaongan 3, Agus Sugianto, mengungkapkan bahwa program inovatif ini digagas sebagai wujud kepedulian amat mendalam terhadap keberlangsungan seni Topeng Madura.
Seni tradisional ini dinilai mulai asing dan jarang dikenal oleh generasi muda, khususnya anak-anak usia sekolah.
"Kami tidak ingin anak-anak kehilangan jati diri budayanya. SAKOPENG hadir agar seni Topeng Madura tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, melainkan tetap hidup dan dicintai oleh generasi penerus sejak dini," ujar Agus Sugianto. Sabtu (27/6/2026).
Melanjutkan Kesuksesan Program MALESMAMA
Langkah SDN Panaongan 3 dalam mengintegrasikan kebudayaan lokal ke dalam kurikulum sekolah bukanlah hal baru.
Sebelum SAKOPENG lahir, sekolah ini telah sukses menjalankan program MALESMAMA (Mari Lestarikan Macapat Madura) selama dua tahun terakhir.
Program MALESMAMA terbukti tidak hanya sekadar jadi materi pembelajaran belaka di kelas, tapi telah berhasil melahirkan prestasi yang membanggakan.
Berkat konsistensi para guru dan antusiasme siswa, program tersebut sukses mengantarkan salah seorang peserta didik SDN Panaongan 3 meraih penghargaan pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) hingga ke tingkat Provinsi Jawa Timur.
Komitmen Pelestarian Budaya Madura
Dengan rekam jejak keberhasilan tersebut, program SAKOPENG diharapkan bisa mengikuti jejak serupa, bahkan melampaui capaian sebelumnya.
Lewat program intrakurikuler ini, para siswa nantinya tidak hanya diajarkan teori, tapi juga praktik langsung mengenai seni tari dan filosofi di balik Topeng Madura. [Kaiy]
