Kaji Adab: Menimbang Kedudukan "Habib" di Pasongsongan Sumenep

Lagi ramai soal Habib di Pasongsongan? Yuk, bedah pro-kontra nasab vs adab yang bikin pemuda desa galau. Kritik tajam tapi jujur, cek selengkapnya!
habib masih belum memahami adab Nabi Muhammad SAW

Kedatangan warga keturunan Yaman yang menyandang gelar "Habib" Desa/Kecamatan Pasongsongan pada era 1990-an bukan sekadar catatan demografi, melainkan awal dari pergeseran struktur sosial yang kompleks.

Pernikahan mereka dengan gadis pribumi setempat kala itu disambut sebagai berkah spiritual.

Tapi, seiring waktu, romantisasi silsilah ini mulai berbenturan dengan realitas perilaku yang memicu diskursus tajam di kalangan pemuda desa.

Mitos Kesucian vs. Realitas Adab

Perdebatan yang membelah pemuda Pasongsongan hari ini berakar pada dua sudut pandang yang kontras.

Di satu sisi, terdapat kelompok yang memegang teguh penghormatan tanpa syarat.

Premisnya sederhana: sebagai dzurriyat (keturunan) Nabi, seorang Habib wajib dimuliakan setinggi-tingginya.

Pandangan ini seringkali dibarengi dengan doktrin "kualat" atau ancaman azab bagi mereka yang berani mengkritik, terlepas dari bagaimana sang Habib berperilaku di tengah masyarakat.

Namun, di sisi lain, muncul arus skeptisisme yang lahir dari pengalaman empiris.

Sebagian pemuda mulai mempertanyakan relevansi gelar tersebut ketika oknum yang menyandangnya justru menunjukkan sikap yang tidak selaras dengan nilai-nilai kenabian.

Keluhan mengenai sikap kurang sopan, pengabaian terhadap adab lokal, hingga kecenderungan merendahkan warga pribumi jadi bahan bakar keresahan.

Pertanyaannya kemudian: apakah garis keturunan jadi lisensi untuk mengabaikan etika sosial?

Pergeseran Panggung Kehormatan

Saat ini, kita menyaksikan fenomena menarik. Para imigran atau keturunan yang masih mengaku sebagai dzurriyat Nabi mulai merasakan perubahan atmosfer.

Panggung-panggung kehormatan yang dulu tersedia luas kini kian menyempit.

Masyarakat, khususnya generasi muda, mulai lebih selektif dalam memberikan legitimasi sosial. Penghormatan kini tidak lagi diberikan secara otomatis berdasarkan "kertas silsilah", melainkan berdasarkan kontribusi nyata dan keluhuran akhlak.

Keresahan yang dialami para "Habib" ini sebenarnya bisa jadi momentum refleksi.

Keinginan agar mereka "sadar diri" bukanlah bentuk kebencian personal, melainkan sebuah seruan untuk kembali ke prinsip kesetaraan dalam Islam.

Sebagai sesama muslim, mereka tentu tetap saudara seiman yang layak mendapatkan empati dan tempat dalam persaudaraan.

Tapi, mengeksploitasi identitas keturunan untuk mendapatkan superioritas sosial di tengah warga Pasongsongan sudah tidak lagi relevan dengan zaman.

Kesimpulan

Menghargai sesama muslim adalah kewajiban, tapi mendewakan manusia berdasarkan garis keturunan hingga menutup mata terhadap perilaku yang merugikan adalah sebuah kekeliruan logika sosial.

Sejatinya kita berlaku adil terhadap diri sendiri. Ditambahlagi bijak dalam bersikap dan berucap.

Dan perlu digarisbawahi Pasongsongan adalah tanah yang menjunjung tinggi adab.

Siapa pun yang datang dan hidup di sini, termasuk para pendatang dari Yaman, semestinya memahami bahwa kehormatan itu dijemput dengan kerendahan hati, bukan dipaksakan lewat klaim sejarah yang kian dipertanyakan. [kay]

LihatTutupKomentar