Ironi Pajak 12% dan Dongeng 19 Juta Lapangan Kerja yang Menguap

PPN naik 12% di tengah target pajak ambisius 2026, namun janji 19 juta lapangan kerja hanya jadi mitos. Rakyat dipaksa bayar upeti saat PHK mengancam.
19 juta lapangan kerja hanya janji di bibir saja

​Angka 19 juta itu kini resmi jadi artefak sejarah. Alih-alih lowongan kerja, yang datang justru "tagihan" baru dari negara. 

Per Januari 2025, PPN telah merangkak naik ke angka 12%, sebuah kado pahit bagi segenap warga Indonesia.

Hal ini membuat harga barang di pasar terus menari di atas penderitaan rakyat. 

Di tahun 2026 ini, target penerimaan pajak pun dipatok ambisius mencapai Rp2.357,7 triliun. 

Pemerintah sibuk mengejar setoran, sementara rakyat sibuk bertahan hidup di tengah bayang-bayang ancaman PHK yang kian nyata.

​Ironinya sungguh menyengat. Kita dipaksa jadi "pahlawan devisa" melalui pajak yang kian mencekik, sementara janji kesejahteraan menguap entah kemana. 

Sektor UMKM dulu dijanjikan akan dimanjakan, kini justru harus bergelut dengan administrasi Coretax yang rumit dan pengawasan ketat. 

Negara tampak sangat efisien dalam memungut upeti, tapi mendadak amnesia jika ditanya soal jembatan menuju lapangan kerja yang katanya melimpah itu.

​Pada akhirnya, rakyat hanya menonton panggung sandiwara yang mahal. Pajak ditarik untuk membiayai optimisme semu yang sering digaungkan di podium kehormatan. 

Sembilan belas juta lapangan kerja itu kini terasa seperti dongeng lama, sengaja dibiarkan berdebu di pojok ruangan. 

Kita diminta membayar lunas kewajiban hari ini, demi janji hari esok yang tak pernah benar-benar terbit. [kay]

LihatTutupKomentar