Bengkel Sholat: Pengabdian Saya dari Balik Seragam Penjaga Sekolah

Bongkar rahasia "Bengkel Sholat" SDN Padangdangan 2! Intip aksi keren penjaga sekolah yang jago bimbing gerakan & bacaan sholat. Inspiratif banget, lh
penjaga sekolah berubah wajah jadi guru terbaik untuk pelajaran sholat

​Ramadhan di SDN Padangdangan 2, Pasongsongan Sumenep, selalu membawa cerita tersendiri bagi saya. 

Tahun ini, sekolah memberikan kepercayaan luar biasa berat tapi terbilang amat mulia: mengawal program "Bengkel Sholat". 

Salah sebuah amanah yang memaksa saya menanggalkan sejenak rutinitas harian saya sebagai penjaga sekolah.

Sejenak bagi saya untuk berdiri di depan anak-anak sebagai pemateri.

Melampaui Sekat Jabatan

​Banyak yang mungkin terkejut melihat sosok yang setiap hari memegang kunci gerbang atau membersihkan halaman sekolah.

Kini saya harus berdiri tegak membedah rukun sholat. Namun, bagi saya, ilmu agama adalah titipan yang tidak mengenal kasta jabatan. 

Di dalam "Bengkel Sholat" ini, saya ingin menunjukkan bahwa pengabdian kepada pendidikan tidak selalu harus datang dari balik meja guru formal.

​Saya percaya bahwa setiap orang di lingkungan sekolah, termasuk saya, memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membentuk karakter siswa. 

Menjadi penjaga sekolah adalah profesi saya untuk mencari nafkah, tapi membagikan ilmu sholat adalah panggilan hati sebagai seorang muslim.

Meluruskan yang Bengkok, Memperbaiki yang Kurang

​Dinamakan "Bengkel Sholat" karena memang fokus saya bukan sekadar ceramah teori. 

Saya ingin menjadi "mekanik" yang membantu anak-anak memperbaiki gerakan yang mungkin selama ini kurang sempurna atau bacaan yang terburu-buru.

​Saya berusaha setelaten mungkin. Mengoreksi posisi sujud, meluruskan punggung saat ruku', hingga memastikan setiap makhraj huruf dalam bacaan sholat terdengar benar. 

Mengajar anak-anak tingkat sekolah dasar membutuhkan kesabaran berlapis-lapis. 

Saya tidak menghendaki mereka hanya sekadar "setor wajah" di atas sajadah, tapi saya ingin mereka mengerti bahwa setiap gerakan adalah bentuk komunikasi dengan Sang Pencipta.

Belajar Tentang Rasa Hormat

​Satu hal yang paling menyentuh hati saya adalah melihat antusiasme dan rasa hormat para siswa. 

Di sini, saya belajar bahwa anak-anak memiliki kejujuran dalam memandang seseorang. 

Ketika saya mengajarkan ilmu dengan tulus, mereka tidak lagi melihat saya sebagai "Pak Penjaga Sekolah", melainkan sebagai guru dan orang tua yang ingin mereka menjadi lebih baik.

​Pelajaran ini bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk diri saya sendiri. 

Program ini mengajarkan saya bahwa kehormatan seseorang tidak terletak pada seragam yang ia kenakan, melainkan pada manfaat apa yang bisa ia berikan bagi orang-orang di sekitarnya.

Penutup

​"Bengkel Sholat" di SDN Padangdangan 2 adalah ruang bagi saya untuk ikut menanam benih kebaikan. 

Saya bersyukur pihak sekolah memberi ruang bagi potensi internal tanpa melihat status sosial. 

Semoga perbaikan-perbaikan kecil yang saya lakukan di "bengkel" ini bisa jadi pondasi ibadah yang kokoh bagi anak-anak didik kami, jauh setelah Ramadhan berlalu. [kay]

LihatTutupKomentar