Antara Takzim dan Taktik Belanda: Menyingkap Sisi Gelap Sejarah Imigran Yaman di Indonesia
Di balik sorban dan gelar ‘Habib’ yang
begitu dielu-elukan masyarakat Muslim Indonesia, khususnya warga Nahdliyin,
tersimpan sebuah lembaran sejarah yang jarang dibuka di podium-podium ceramah.
Kita terbiasa melihat para imigran Yaman ini sebagai
mercusuar spiritual, tapi sejarah kolonial mencatat peran yang jauh lebih
pragmatis—dan bagi sebagian orang, menyakitkan.
Taktik "Devide et Impera" Berjubah Agama
Sudah bukan rahasia lagi bahwa Belanda
pernah mengalami kebuntuan hebat dalam menumpas perlawanan para pahlawan tanah
air.
Senjata api dan strategi perang Barat berkali-kali rontok di
hadapan determinasi perlawanan berbasis jihad.
Di sinilah Belanda menggunakan "senjata" lain: Otoritas
Keagamaan.
Sejarah mencatat bahwa Pemerintah
Kolonial Belanda sengaja mendatangkan dan merangkul kelompok imigran tertentu
dari Yaman untuk jadi perantara. Mengapa?
Karena Belanda tahu masyarakat pribumi sangat patuh pada
simbol-simbol agama.
Dengan memberikan keistimewaan (seperti jabatan Kapitein der Arabieren), Belanda
memanfaatkan karisma mereka untuk melunakkan semangat perlawanan rakyat.
Secara politis, kehadiran mereka
berfungsi sebagai "peredam" api revolusi yang seringkali berkobar
dari pesantren dan surau.
Paradoks Penghormatan Warga Nahdliyin
Hingga hari ini, warga Nahdliyin
dikenal sebagai kelompok yang paling depan dalam memuliakan keturunan Nabi.
Budaya ta’dzim
(hormat) ini begitu mengakar. Tapi, muncul sebuah pertanyaan kritis: Apakah
penghormatan ini lahir dari fakta sejarah yang jernih, ataukah hasil dari
konstruksi sosial yang dipelihara sejak zaman kolonial?
Sangat ironis jika kita memuja sosok
yang dalam catatan sejarahnya justru didatangkan oleh penjajah untuk membantu
menaklukkan kakek buyut kita sendiri.
Belanda tidak mungkin mendatangkan mereka tanpa imbal balik
politik yang menguntungkan posisi Gubernur Jenderal di Batavia.
Memilah Nasab dari Ideologi Bangsa
Kita perlu belajar membedakan antara
dua hal:
1. Penghormatan terhadap garis
keturunan (Nasab): Yang merupakan bagian dari ekspresi cinta kepada Rasulullah
SAW.
2. Integritas Kebangsaan: Yang
menuntut kita untuk jujur pada fakta bahwa tidak semua pemegang gelar 'Habib'
di masa lalu berdiri di sisi rakyat Indonesia.
Menghormati ulama adalah kewajiban,
tapi membutakan diri terhadap sejarah adalah kecelakaan intelektual.
Jika benar sejarah mencatat keterlibatan mereka dalam agenda
pasifikasi Belanda, maka narasi "Habib pasti benar" perlu ditinjau
ulang secara kritis.
Penutup
Menghargai imigran Yaman sebagai bagian
dari keragaman Indonesia adalah satu hal, tapi memberikan "cek
kosong" berupa kemuliaan tanpa batas—bahkan saat catatan sejarah
menunjukkan peran yang berseberangan dengan kemerdekaan—adalah hal lain.
Sudah saatnya kita berani melihat sejarah dengan mata terbuka: bahwa gelar bukanlah jaminan kesetiaan pada tanah air. [kay]

