Kritik sebagai Manifestasi Cinta: Refleksi dari Masjid Jogokariyan
Pekan lalu, suasana Masjid Jogokariyan Yogyakarta terasa sedikit berbeda. Terasa hangat dan semarak.
Di hadapan jamaah, Prof. Zainal Arifin Mochtar—pakar hukum tata negara yang kerap dikenal vokal—menyampaikan sepotong pesan mendalam.
Satu kalimat yang jadi
jangkar pembicaraannya adalah: "Saya tidak pernah membenci rezim yang
berkuasa."
Pernyataan ini mungkin mengejutkan bagi mereka yang hanya melihat kritik lewat kacamata hitam-putih.
Tapi, bagi Prof. Uceng, kritik bukanlah produk dari kebencian,
melainkan bentuk tertinggi dari rasa cinta terhadap tanah air.
Kritik Adalah "Check and Balance" Nurani
Dalam narasi bernegara, seringkali kritik disalahartikan sebagai upaya menjatuhkan atau bentuk sentimen personal.
Padahal, sebuah kekuasaan tanpa kritik adalah
resep menuju kesewenang-wenangan.
·
Bukan Benci, Tapi Peduli: Menyayangi negeri berarti
berani menunjukkan letak kesalahannya. Seperti orang tua yang menegur anaknya,
kritik bertujuan agar pemerintah tidak tergelincir lebih jauh ke dalam lubang
kebijakan yang merugikan rakyat.
·
Melampaui Sosok: Kritik yang dilayangkan Prof. Uceng dan
para aktivis lainnya tidak ditujukan pada individu secara personal, melainkan
pada sistem, kebijakan, dan integritas hukum yang sedang berjalan.
Pentingnya Aksi Terbaik Sesuai Kapasitas
Negara ini adalah proyek raksasa yang tidak bisa diselesaikan oleh satu kelompok saja.
Salah satu poin penting dalam ceramah tersebut adalah dorongan agar setiap
warga negara memberikan "aksi terbaik" sesuai dengan kemampuan
masing-masing.
"Negeri
ini tidak akan berubah secara instan melalui keajaiban semalam. Perubahan
adalah sebuah proses yang membutuhkan napas panjang dan kontribusi nyata."
Jika Anda seorang akademisi, bersuaralah dengan ilmu. Jika Anda seorang pengusaha, berlakulah jujur dan sejahterakan karyawan.
Jika Anda warga biasa, jadilah
kontrol sosial yang cerdas. Perubahan besar adalah akumulasi dari
langkah-langkah kecil yang konsisten.
Menghargai Proses, Menjaga Harapan
Sikap optimis namun tetap waspada adalah kunci. Kita harus sadar bahwa memperbaiki tatanan negara yang kompleks butuh waktu.
Tapi, "proses" jangan dijadikan alasan untuk memaklumi stagnasi atau kerusakan.
Justru karena kita
menghargai proses itulah, setiap penyimpangan harus segera diluruskan lewat kritik konstruktif.
Harapannya
jelas: agar Indonesia di masa depan jadi lebih baik, lebih adil, dan
benar-benar tegak di atas koridor hukum.
Penutup
Ceramah di Jogokariyan tersebut mengingatkan kita bahwa jadi oposisi atau pemberi kritik bukanlah tanda permusuhan.
Justru, mereka yang memilih untuk tetap bersuara di tengah zona nyaman adalah orang-orang yang paling menginginkan negara ini selamat.
Karena pada akhirnya, diam saat melihat kekeliruan bukanlah bentuk kesetiaan, melainkan pembiaran yang mematikan. [kay]

