Paradoks Pilihan: Dilema TKA yang Bebas namun Mengikat
Kebijakan Tes Kompetensi Akademik (TKA) saat ini berdiri di atas fondasi ambiguitas yang cukup unik.
Di satu sisi, pemerintah dengan tegas menyatakan bahwa TKA sepenuhnya tidak wajib dan merupakan hak prerogatif setiap murid tanpa risiko terhadap kelulusan.
Tapi, di sisi lain, klaim kebebasan ini terasa semu karena hasil tes tersebut justru diposisikan sebagai "kunci emas" tunggal untuk membuka gerbang seleksi jenjang pendidikan berikutnya.
Murid dibebaskan untuk tidak melangkah, namun pintu masa depan seolah hanya terbuka bagi mereka yang membawa sertifikat tes tersebut.
Keadaan ini menciptakan ruang tunggu yang penuh ketidakpastian bagi peserta didik.
Secara formal, tidak ada konsekuensi negatif jika seorang murid memilih untuk absen dari ujian.
Akan tetapi, secara fungsional, absennya nilai TKA bisa dianggap sebagai penghalang tak kasat mata dalam kompetensi akademik global.
Kita dihadapkan pada sebuah pilihan yang sebenarnya bukan pilihan: Anda boleh tidak ikut, tapi bersiaplah kehilangan peta jalan menuju institusi pendidikan impian.
Pada akhirnya, TKA bertransformasi jadi sebuah "kewajiban terselubung" yang dibalut dalam narasi otonomi individu.
Murid dipaksa menimbang beban psikologis ujian melawan risiko tertutupnya akses pendidikan tinggi di masa depan.
Dengan demikian, meskipun secara tertulis bersifat opsional, secara realitas TKA tetaplah sebuah instrumen penentu yang sulit untuk diabaikan tanpa rasa cemas. [kay]

