Impor Truk Agrinas dari India, Industri Lokal Diminta Ikhlas
Negeri agraris itu bernama Indonesia. Masyarakat dunia tahu. Tapi logistiknya memilih India.
Agrinas mengimpor 105 ribu pikap dan truk. Katanya demi efisiensi. Industri dalam negeri pun diminta efisien dengan cara menonton. Menyaksikan dengan hati pilu.
Pabrik lokal masih berdiri. Terus berproduksi. Pekerja masih menunggu pesanan. Tapi negara sedang jatuh cinta pada yang jauh.
Produk dalam negeri dianggap dewasa. Sudah kuat hidup tanpa dibeli pemerintah.
Soal uang tip tentu cuma prasangka. Pemerintah belum pasti tulus. Segalanya pakai ilmu matematika. Jurus pedagang dusta.
Membeli dari luar demi cinta globalisasi? Itu bahasa klise. Bahasa iming-iming. Urusan nasional belakangan saja.
Ssst… masihkah pemerintah mau berkilah, atau sekalian tersenyum? Omong kosong kalau bukan cuan. [kay]

