Drama Lapangan Hijau dan Meja Makan
Pertandingan Arema FC kontra Madura United di Pamekasan semalam adalah mahakarya hiburan.
Skor imbang 2-2 jadi bukti betapa dermawannya kedua tim dalam membagi poin di bulan suci ini.
Lapangan becek dan duel fisik terlihat begitu estetik, persis seperti indahnya janji-janji manis yang melayang di udara tiap lima tahun.
Stadion bergemuruh, napas pemain tersengal, tapi semua tetap tersenyum demi menjaga martabat papan tengah klasemen.
Keseruan di rumput hijau rupanya punya pesaing berat di panggung negara.
Di luar stadion, rakyat sedang asyik bermain "laga persahabatan" melawan tarif pajak yang kian lincah bergerak.
Sambil menahan lapar puasa, kita semua menonton pertunjukan taktis dari sang nakhoda, Prabowo.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) meluncur bak tendangan salto yang ambisius menuju gawang kejayaan politik.
Sungguh sebuah skema permainan jenius: perut rakyat diincar, sementara dompet negara dikuras lewat pengabdian pajak yang tiada henti.
Kita harus bersyukur memiliki tontonan yang begitu sinkron antara bola dan kebijakan.
Di stadion, Arema dan Madura berbagi angka; di pemerintahan, penguasa berbagi ambisi sementara rakyat berbagi beban.
Laga pekan ke-22 ini adalah pengingat bahwa hidup adalah tentang perjuangan mencapai final, entah itu final liga atau finalitas kekuasaan.
Selama bola masih bulat dan pajak masih meningkat, mari kita terus bersorak kencang.
Setidaknya, jika kita tidak kenyang karena prestasi bola, kita bisa kenyang dengan janji-janji palsu. [kay]

